Pesawat Mimika Tergelincir

Bagikan Bagikan
SAPA (TIMIKA) –  Akibat roda pesawat bagian kiri pecah, pesawat jenis Cessna Grand Caravan 208B EX PK-LTV milik Pemerintah Kabupaten Mimika yang dikelola PT Asian One Air tergelincir saat landing di Bandara Ilaga, Puncak pada Senin (2/5) sekitar pukul 06.45 WIT. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun pesawat tersebut hingga kini harus tertahan di Bandara Ilaga.

Data yang dihimpun Salam Papua menyebutkan, pesawat yang dipiloti Jaron dan copilot Foo Wayan ini berangkat dari Timika menuju Ilaga pukul 06.14 WIT. Pesawat tersebut mengangkut seorang warga bernama Deri serta sembako sebanyak 1.296 KG.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Mimika, John Rettob membenarkan insiden tersebut. “Kejadiannya pagi tadi (Selasa 2/5-red), dimana roda pesawat mengalami pecah di bagian sebelah kiri,”kata Rettob saat ditemui Salam Papua di bandara milik Pemkab Mimika, Selasa (2/5).

Rettob menjelaskan, pesawat tersebut sedang membawa beras Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Ilaga. Namun pada saat melakukan pendaratan, roda sebelah kiri pesawat pecah. Sehingga pilot mengarahkan ke sebelah kiri runway, agar tidak mengganggu pesawat lain yang hendak mendarat di Bandara Ilaga.

Pada saat pilot mengarahkan pesawat tersebut ke sebelah kiri Bandara, lanjut Rettob, pilot tidak mengetahui kondisi permukaan tanah Bandara yang berlumpur.Akibatnya, roda sebelah kiri yang pecah tertanam di lumpur. Sementara sayap di bagian kanan masih berada di area runway hingga mengganggu pesawat lainnya yang hendak mendarat.

“Setelah mendapatkan informasi tersebut, saya langsung berkoordinasi dengan Bandara Ilaga, agar melakukan pengangkatan di bagian sebelah kiri tersebut,”kata Rettob.

Dikatakan Rettob, banyak faktor yang menyebabkan hingga ban roda pesawat bisa pecah. Salah satunya, bebabatuan kecil yang berada di landasan Bandara, atau juga bisa karena hard landing (pendaratan keras- red).

Tetapi menurut keterangan pilot, kata Rettob, pesawat saat itu mendarat dengan stabil. Sehingga diduga, pecahnya ban pesawat diakibatkan bebabatuan kecil.  Apalagi Bandara di daerah pedalaman biasanya di landasan masih terdapat bebabatuan kecil.
 “ Kemungkinan pecahnya roda pesawat dikarenakan batu-batu kecil yang ada di bandara. Karenanya pada saat hendak pendaratan, biasanya pihak bandara membersihkan area pendaratan. Tetapi dari peristiwa ini, semuanya baik-baik saja,” tutur Rettob.

Menurut Rettob, biasanya jika kondisi pesawat mengalami insiden seperti itu, maka untuk mengevakuasinya menggunakan balon udara. Namun karena berada di pedalaman, fasilitas tersebut tidak ada. Sehingga hanya mengandalkan perbaikan yang dilakukan secara manual, yakni dengan mengangkat ramai-ramai bagian sebelah kiri tersebut.

 “Mekanik dari Timika sudah berangkat ke Ilaga, untuk melakukan pergantian ban. Kalau tidak ada halangan, pesawat sore sudah kembali. Atau paling tidak besok, Rabu (3/5) pesawat baru kembali ke Timika. Namun pada intinya, kondisi pesawat tersebut tidak mengalami kerusakan yang cukup fatal,”terang Rettob.

Dikatakan Rettob, segala sesuatu yang terjadi pada pesawat tersebut merupakan tanggung jawab Air PT Asian One Air. Sebab Pemkab Mimika telah menyerahkan sepenuhnya pengoperasian pesawat  jenis Cessna Grand Caravan 208B EX PK-LTV itu kepada PT Asian One Air.

 “Pemkab Mimika sudah melakukan kerjasama dengan pihak Asian One, dalam hal pengoperasian dan maintenance (perawatan,red) pesawat Pemkab Mimika tersebut.  Dan untuk masalah perawatan roda, selalu dilakukan secara rutin oleh pihak Asian One. Dimana perawatan pesawat terus dilakukan sesuai prosedur mantenaince manual,” jelas Rettob. (Muji/Saldi Hermanto)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar