Sembilan Pasien Operasi Katarak di Klinik Terapung LPMAK

Bagikan Bagikan
operasi katarak di atas Kapal Mamena atau biasa disebut Klinik Terapung milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK)
SAPA (TIMIKA) –  Sembilan pasien yang berasal dari Distrik Mimika Timur Tengah, pada Senin (24/10) mengikuti operasi katarak di atas Kapal Mamena atau biasa disebut Klinik Terapung milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK).

Operasi katarak ini merupakan program yang dimiliki Biro Kesehatan LPMAK dalam rangka hari penglihatan sedunia. Selain operasi katarak, juga dilakukan pemeriksaan mata dan pembagian kaca mata.

Kegiatan bhakti sosial ini bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia, Dinas Kesehatan, dan Yayasan Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI). 

“Dokter yang melakukan operasi mata yaitu, dokter spesialis mata dari YKI, dr. Jusni Saragih,” kata Kepala Biro Kesehatan LPMAK Yusuf Nugroho kepada wartawan di Timika Pantai, Senin (24/10).

Ia menyebutkan, ada 941 masyarakat yang  berasal dari Kampung Keakwa, Atuka dan Timika Pantai yang mengikuti pengobatan gratis ini.

“Jumlah tersebut terdiri dari dewasa 666 orang dan anak-anak 275. Jumlah kacamata yang diberikan kepada masyarakat sebanyak 376 buah, obat 229 botol, sementara yang tidak mau operasi tidak bisa dipaksakan,”ujar Nugroho.

Menurutnya, dari pemeriksaan mata terhadap 941 masyarakat ditemukan  sebanyak 27 orang yang  menderita mata katarak.  Namun, hanya 9 orang yang mau dioperasi dengan jumlah 11 mata. Sementara yang lain tidak dioperasi karena menderita darah tinggi, gula darah bahkan ada pula yang takut.

“Sebelum operasi mata katarak, kami sudah adakan pemeriksaan kepada masyarakat. Dan setelah sehari operasi barulah dibuka perban untuk melihat hasilnya,”kata Nugroho.

Dokter spesialis mata dari YKI, dr. Jusni Saragi,SpM kepada wartawan di Timika Pantai, Selasa (25/10) mengatakan, dari  9 orang yang dioperasi,  ada pasien yang batuk,  tetapi pada intinya semua berhasil dengan baik. Untuk pasien yang batuk dan ada darah, diajari bagaimana cara tidur dan diberikan obat anti perdarahan. 

“Setelah diberikan obat, diarahkan agar pasien tetap mengontrol ke puskesmas. Diharapkan agar pasien tidak bisa terkena asap rokok, karena sangat mempengaruhi ke mata. Proses penyembuhan minimal dua bulan. Pasien juga tidak dibolehkan mengangkat barang berat, karena juga mempengaruhi hasilnya,” kata Jusni.

Jusni menjelaskan, kegiatan ini baru pertama di pesisir Mimika sehingga wajar kalau ada warga yang masih takut. Ke depan kalau LPMAK dan PTFI melakukan kegiatan yang sama, maka akan ada banyak masyarakat yang ingin dioperasi matanya.

“Memang ada pasien yang mengalami katarak imatur, jadi kalau satu tahun ke depan sudah bisa melakukan tindakan operasi. Kalau memang belum ada kegiatan dari LPMAK seperti ini, saya harap agar bisa ke kota dan gunakan Kartu Papua Sehat (KPS) untuk berobat. Dan ini juga butuh penyampaian dari orang kesehatan yang ada di tiap Puskesmas atau Pustu yang ada,” ujar Jusni.

Jusni mengemukakan, sesuai angka nasional yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, satu setengah persen kebutaan  dari penduduk dan 0,78 persen yang katarak. 

“Jadi di wilayah pesisir ini mungkin saja tidak banyak, karena belum tentu terkafer ke semua wilayah, jadinya jumlah hanya sekian. Kalau di daerah lain, sudah perkotaan  sehingga mendapakan pelayanan secara rutin,” terang Jusni.

Projects Manajer YKI, I Nyoman Wardhana menambahkan, pemeriksaan mata sudah dilaksanakan sejak 19 Oktober 2016 dan baru mulai operasi pada 25 Oktober. 

“Kami merasa terkendala dengan geografisnya,  untuk sampai wilayah ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk perjalanan. Kalau pasien sangat antusias, tetapi saya pikir belum semua  warga yang melakukan pemeriksaan. Mungkin ada warga yang tidak hadir karena saat pemeriksaan mereka melaut atau lakukan aktivitas lain,”ujar Nyoman.

Nyoman menjelaskan, mata katarak terjadi karena berbagai faktor, misalnya waktu lahir kurang gizi, kecelakaan, pekerjaan, penyakit diabetes dan juga factor umur. Tetapi untuk masyarakat dipesisir  kebanyakan faktor umur. 

“Ini baru pertama kali melakukan pemeriksaan mata, sekaligus operasi mata katarak di daerah pesisir. Diharapkan ke depan bisa ditingkatkan terus pelayanan seperti ini,” kata Nyoman. 

Sementara itu, dalam media tours selain melihat secara langsung pelayanan pemeriksaan kesehatan mata dari Biro Kesehatan LPMAK, rombongan juga melihat langsung program yang dimiliki Biro Pendidikan dan Ekonomi LPMAK di Kokonao dan Keakwa, pada Selasa (25/10).

Di Kokonao, Tenaga Pembantu Asrama Putri Sr.M Raymunda,FCh mejelaskan, jumlah siswi yang ada di asrama sebanyak 76 anak. Mereka adalah anak-anak yang berasal dari Potowaiburu, Yapakopa, Ararao, Progo, Amar, Kipia, Ipaya, Keakwa. 

“Jadi siswa yang datang dari jauh wajib tinggal di asrama. Sedangkan yang tinggal di Kokonao kembali ke rumah masing-masing setelah pulang sekolah,” kata Raymunda.

Dijelaskan, asrama putri ini sudah ada sejak tahun 2005 lalu. Namun, LPMAK membangun asrama putri baru sehingga mulai tahun 2014 mereka menempati asrama ini. 

“Kami mulai tempatkan di asrama ini pada 2005 lalu dan gunakan gedung lama, tetapi LPMAK membangun asrama baru sehingga kami tempatkan 2014,”tutur Raymunda.

Menurutnya, asrama baru tersebut  berlantai dua dengan jumlah tempat tidur sebanyak 70 buah. Dengan fasilitas lainnya yaitu, ruang belajar, ruang makan, kamar mandi  delapan, ruang tidur dilengkapi dengan penerangan mengunakan solar sell. 

“Semua aktifitas anak-anak di sini kami jadwalkan, sementara latar belakang mereka tidak biasa belajar seperti kami buat, pola hidup yang tidak diatur. Tetapi kami terus berusaha, walaupun mereka masih tetap saja melawan,”ujar Raymunda.

Sedangkan kepala asrama putra sekaligus Kepala SMP Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik Lecoq D’Armandvile Kokonao Petrus Tubun, S.Ag mengatakan, jumlah anak-anak di asrama putra sebanyak 105 orang. Mereka berasal dari Potowaiburu sampai Keakwa. Bahkan ada juga, anak-anak Suku Moni, Dani maupun Amungme yang berasal dari Timika. 

“Bangunan asrama ini dibuat dengan bahan kayu, jadi sudah lapuk, selain bangunan juga meja dan kursi. Bangunan ini dibangun sejak kapan saya tidak tahu, tetapi 2009 saya bertugas di sini sudah ada gedung asrama ini, karena sudah lama sehingga kondisi begitu,”ujar Petrus.

Sementara pendamping kios Kampung Keakwa dari Kantor Perwakilan Operasional (KPO) Agustinus Bahir mengatakan, kios kampung menjual berbagai macan kebutuhan masyarakat. Baik itu, rokok, beras, gula, kopi, sabun, super mie, minyak goreng, susu untuk bayi dan lain sebagainya. Semua barang jualan diambil dari grosir LPMAK.

“Selain itu kami jualan juga membelikan hasil masyarakat seperti ikan dan udang, kami tampung pada kulboks yang disiapkan. Barulah mencari pasaran di kota,”ujar Agus.

Sementara itu, LPMAK juga telah membantu revitalisasi instalasi air bersih bersumber dari air tanah sebanyak 15 unit yang tersebar di Kampung Atuka. Hal itu dikatakan Sekretaris Kampung Atuka, Fransiskus Kamoka. 

 “Saya sangat akui program LPMAK kepada masyarakat di pedalaman maupun pesisir. Karena sangat menyentuh kepada kami, juga terlihat sekali. Yang sudah ada 15 unit, namun saya sebagai aparat kampung berharap ke depan tiap rumah bisa memiliki air sumur seperti itu,”ujar Fransiskus.

Ia akui, air sumur sangat pentin, karena tidak selalu hujan setiap hari.

“Jadi kalau kekurangan air hujan, masyarakat langsung saring air sumur tersebut untuk diminum,” kata Fransiskus. (Ervi Ruban)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment