Ketua KNPB Timika Divonis Satu Tahun Penjara

Bagikan Bagikan
Ketua KNPB Timika Steven Itlay ketika dikawal seorang anggota Kepolisian
SAPA (TIMIKA) – Stevanus Itlay alias Steven Itlay, pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Timika, Selasa (22/11) divonis oleh Majelis Hakim satu tahun  pidana penjara. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Timika,  yakni satu tahun enam bulan.

Berdasarkan pantauan Salam Papua di lapangan, sekira pukul 09.30 WIT, Steven Itlay tiba di PN Timika dengan pengawalan ketat dari Kepolisian Polres Mimika. Steven tiba hanya mengenakan celana pendek dan pernak-pernik adat. Namun pihak PN Timika, meminta aparat Polres Mimika agar terdakwa untuk memakai pakaian yang wajar dan sopan di persidangan. Sehingga Steven pun dibawa kembali ke ruang tahanan untuk mengenakan kemeja batik Papua berwarna biru.

Pada persidangan itu juga dihadiri simpatisan KNPB Timika. Dan untuk menjaga kelancaran dan ketertiban pelaksanaan sidang putusan, 100 personil Kepolisian yang merupakan gabungan Polres Mimika dan Batalyon Brimob B Satbrimob Polda Papua diturunkan.

Ketua Majelis Hakim PN Timika, Relly D Behuku SH, MH, yang didampingi hakim anggota Fransiscus Y Babthista SH dan Steven Walukow SH membacakan putusan. Dimana putusan terhadap Ketua KNPB Timika ini berdasarkan beberapa pertimbangan yang didapatkan dari fakta persidangan, mulai dari keterangan saksi-saksi, barang bukti, dan keterangan terdakwa. Serta hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

“Hal-hal yang memberatkan, perbuatan yang dilakukan terdakwa dapat meresahkan warga dan  terdakwa sudah pernah dihukum sebelumnya. Sementara Hal-hal yang meringankan terdakwa sopan dalam menjalani sidang,” kata Ketua Majelis Hakim.  

Lebih jauh Ketua Majelis Hakim menjelaskan, sebelum memutuskan vonis terhadap terhadap terdakwa, Majelis Hakim juga melihat dakwaan yang diajukan oleh JPU. Dimana Majelis Hakim menilai, bahwa unsur-unsur yang menyangkut tindakan makar yang dilakukan oleh terdakwa tidak bisa disangkakan. Sehingga terdakwa pun bebas dari tuntutan dakwaan primer, yakni pasal 106 KUHP.

Sementara dakwaan subsidier, yakni pasal 110 ayat (2) ke-1 KUHP, tentang kejahatan terhadap keamanan negara. Di dakwaan subsidier ini, Majelis Hakim tidak menemukan unsur-unsur yang bisa disangkakan kepada terdakwa. Sehingga Majelis Hakim pun membebaskan terdakwa dari dakwaan subsidier, pasal 110 ayat (2) ke-1 KUHP. 

“ Dua pasal dakwaan yang dituntutkan JPU kepada terdakwa tidak bisa dikenakan, karena pada saat terdakwa diamankan oleh aparat dari Polres Mimika, sedang menggelar ibadah,” terangnya.

Makar adalah usaha menjatuhkan pemerintahan yang sah disebuah negara. Biasanya makar dalam pengertian ini dilakukan oleh sekelompok orang yang menyatakan oposisi pemerintah atau lawan politik.

Ia melanjutkan, sehingga Majelis Hakim pun melihat lagi dakwaan lebih subsidier, yakni pasal 160 KUHP, tentang penghasutan. Dimana pada saat kegiatan terdakwa Steven Itlay mengajak para simpatisan KNPB melalui orasinya. Serta dengan membagi-bagikan selebaran dan spanduk yang ada.

“ Untuk dakwaan lebih subsidier, Majelis Hakim menemukan unsur-unsur yang bisa dikenakan kepada terdakwa. Sehingga Majelis Hakim menjatuhkan vonis penjara satu tahun pidana penjara, dikurangi masa tahanan yang sudah dijalani oleh terdakwa,” terangnya.

Dari putusan tersebut, Ketua Majelis Hakim memberikan kesempatan, baik kepada kuasa hukum terdakwa dan JPU. Dimana baik kuasa hukum dan JPU meminta waktu pikir-pikir. Dan Majelis Hakim pun memberikan waktu satu minggu.

Kuasa Hukum Steven Itlay, Gustav R Kawe yang ditemui usai persidangan mengatakan, pihaknya secara umum mengucapkan terimakasih kepada Majelis Hakim, karena putusan yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan JPU. Sehingga waktu yang diberikan selama tujuh hari tersebut, pihaknya akan melihat, apakah mengajukan banding atau menerima.

“ Kami akan lihat, tujuh hari kedepan bagaimana. Kalau tidak ada perkembangan, berarti kami menerima putusan tersebut,” kata Gustav.

Seperti diketahui Steven ditangkap oleh aparat gabungan TNI – Polri, saat menggelar acara ibadah di SP XIII tepatnya di halaman Gereja Golgotta pada pada 5 April 2016 lalu. Namun dalam acara ibadah tersebut timbul tindakan yang dianggap oleh aparat Kepolisian sudah melanggar dengan surat ijin yang diminta. Dimana,  Steven saat itu naik keatas panggung menyampaikan orasi, namun dalam orasi tersebut Steven mengajak massa yang hadir untuk lepas dari Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Steven  mengajak masyarakat Papua untuk mendoakan agar KNPB diakui dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG). Permintaan lolos dalam KTT Khusus MSG di Honiara, Kepulauan Solomon, Kamis, 14 Juli 2016. 

Saat itulah, ketika Steven melakukan orasi, Kapolres Mimika yang saat itu dijabat  oleh AKBP Yustanto Mujiharso naik ke panggung meminta Steven menghentikan orasinya. Kemudian tiba - tiba muncul salah satu simpatisan yang diketahui bernama Yus Wenda langsung melayangkan pukulan  dari belakang kepada Kapolres.

Akibat pemukulan tersebut, aparat gabungan dari TNI – Polri yang mengamankan acara yang digelar KNPB dibubarkan secara paksa. Steven langsung diamankan oleh aparat Kepolisian termasuk pelaku yang memukul Kapolres Mimika. (Red/Markus Rahalus)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar