Aksi Mogok Diharapkan Berlangsung Damai

Bagikan Bagikan
Odizeus Beanal
SAPA (TIMIKA) – Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) versi Odizeus Beanal,  berharap aksi mogok karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) mulai 1 Mei mendatang berlangsung damai dan tidak menimbulkan keresahan baru di masyarakat. 

Odizeus mengatakan, kini operasi Freeport mulai kembali normal. Hal itu, katanya, tidak terlepas dari perjuangan karyawan, baik yang berserikat maupun yang di luar organisasi. Tujuannya, agar Freeport tetap menjadi dapur bagi semua. 

“Amungme ini adalah rumah kami. Harapan kami, rumah ini tetap aman dan damai. Kami pikir, karyawan meminta hak mereka adalah hak yang wajar. Tetapi harus mengikuti aturan dan hukum yang berlaku,” kata Odizeus di Timika, Rabu (26/4).  

Dia berharap, apapun bentuk aspirasi karyawan adalah murni merupakan perjuangan kepentingan mereka dan organisasi. Menurutnya, jangan sampai ada kepentingan lain di balik itu, yang kemudian sengaja dimanfaatkan hingga membuat gejolak di masyarakat. 

“Kami pikir, semua kesepakatan yang dilakukan oleh perusahaan di waktu lampau adalah sesuatu yang wajar dalam berbisnis. Namun kami tahu bahwa apapun yang akan terjadi ke depan akan baik untuk semua,” tuturnya. 

Dia menyatakan sangat menghargai perjuangan karyawan dan serikat pekerja terkait hak-hak mereka. Akan tetapi, dia mengingatkan jangan sampai menuntut sesuatu dengan cara-cara yang justru melanggar hukum dan merugikan semua pihak.  

“Saya pikir Freeport akan tetap terbuka dan mendengar saran dari pekerja. Kami tidak larang siapapun di sini menjadi sukses. Tapi tolong jaga rumah kami bisa aman sehingga kami bisa mencari nafkah untuk keluarga kami,” imbaunya. 

Selain itu, Odizeus berharap karyawan yang melakukan mogok kerja menghormati karyawan lain yang ingin tetap bekerja, begitu juga sebaliknya. Dirinya tidak ingin adanya intimidasi kepada mereka yang tidak bersedia mengikuti aksi mogok kerja.

“Kita berada di dalam kapal yang sama, untuk mencari kehidupan yang tenteram di Mimika yang sama-sama kita cintai ini. Untuk itu mari bekerjasama untuk menciptakan Mimika yang aman dan damai,” ujarnya. 

Pihak Lemasa, katanya, telah menerima informasi dari pihak kepolisian dan satuan tugas pengamanan bahwa keamanan di Mimika telah dimaksimalkan. Mereka telah meningkatkan patroli dan penebalan personel di lapangan menyusul rencana mogok kerja. 

“Jadi seharusnya warga Mimika tenang saja, saya optimis situasi akan tetap aman dan terkendali,” kata Odizeus. 

Tidak Ganggu Lalu Lintas

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Mimika, John Rettob, SSos, MM mengingatkan para pekerja PT Freeport Indonesia (PTFI), kontraktor dan privatisasi yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) untuk tidak mengganggu arus lalu lintas saat akan melakukan aksi mogok maupun solidaritas. 

“Bukan ranah kami untuk melarang pekerja melakukan aksi mogok maupun aksi solidaritas terhadap Sudiro. Tapi perlu diingat, aksi ini tidak boleh menganggu arus lalu lintas,” Kata Jhon di Timika, Rabu (26/4).

Jhon mengatakan, jalan raya merupakan fasilitas publik untuk menunjang aktivitas semua lapisan masyarakat, sehingga tidak dibenarkan apabila ada pihak-pihak lain yang dengan seenaknya melakukan penutupan jalan tertentu tanpa berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan maupun Kepolisian. 

Ia menjelaskan, beberapa jalan yang menjadi perhatian pihaknya, yakni Jalan Pendidikan dan Jalan Budi Utomo. Hal ini melihat, saat ini jalan-jalan tersebut dijadikan tempat untuk pengumpulan massa, tepatnya disekitar SMP Negeri 2 Mimika dan Gereja Advent Budi Utomo. 

“Kumpulan massa dengan kendaraan yang digunakan terparkir hingga ke badan jalan dalam jumlah banyak, dapat menganggu pengendara lainnya. Selain itu, aksi ini juga mengundang perhatian sehingga sangat berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas pada lokasi-lokasi tersebut” jelasnya. 

Pekerja Tambang PT Freeport Indonesia, Kontraktor dan Privatisasi yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) berencana akan melakukan aksi mogok kerja mulai 1 Mei 2017 mendatang. Aksi ini dilakukan selain untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), juga untuk memberikan dukungan kepada Ketua Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PUK SPSI PTFI), Sudiro atas kasus dugaan penggelapan dana organisasi yang tengah ia jalani di Pangadilan Negeri Timika. 

“Silahkan melakukan aksi, tapi tetap memperhatikan kepentingan bersama di jalan. Itu tanggung jawab kita bersama karena yang melewati jalan-jalan tersebut juga keluarga pekerja dan saudara kita lainnya,” tuturnya. (SP/Anya Fatma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment