Keuangan KSU Amungme Gold Coffee Rp 2,1 M

Bagikan Bagikan
Ketua KSU Amungme Gold, Jeremias Enggartmang, Wakil Ketua Yusak Beanal, Sekretaris I Yanus Beanal, Sekretaris II Odi Amokoame, dan Bendahara Okto Jabame, saat menyampaikan laporan program
SAPA (TIMIKA) – Koperasi Serba Usaha (KSU) Amungme Gold Coffee menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2016. Keuangan koperasi milik masyarakat Amungme di dataran tinggi Distrik Tembagapura ini telah mencapai Rp 2,1 miliar. 

KSU Amungme Gold Coffee merupakan koperasi binaan PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Departemen Community Economic Development (CED). Kali ini mereka menggelar rapat tahunan yang kedua di Bobaigo, Kompleks Keuskupan Timika, Jumat (28/4). 

Koperasi ini memiliki area kerja meliputi empat desa di wilayah dataran tinggi, yaitu Desa Tsinga, Hoea, Aroanop, Banti, dan Opitawak, Distrik Tembagapura. Luas lahan kopi yang dikelola hingga saat ini sudah mencapai sekitar 20 hektar. 

Melalui RAT tersebut, pengurus koperasi yang diketuai Jeremias Enggartmang, Wakil Ketua Yusak Beanal, Sekretaris I Yanus Beanal, Sekretaris II Odi Amokoame, dan Bendahara Okto Jabame, memaparkan laporan program maupun laporan pertanggung jawaban. 

Adapun laporan program KSU Amungme Gold disampaikan bahwa koperasi ini melakukan budidaya kopi arabika, disamping itu menekuni usaha penjualan sayur mayur, serta membina petani kopi maupun petani sayur di wilayah sulit terjangkau tersebut. 

Sekretaris I KSU Amungme Gold, Yanus Beanal, mengatakan koperasi ini telah memproduksi kopi sebanyak 4 ton di tahun 2015. Kemudian produksi di tahun 2016 meningkat dan mencapai 5 ton. 

Selain itu, pada tahun 2016 memproduksi sayur mayur yang mencapai nilai jual Rp 63 juta. Sayur mayur tersebut meliputi kol, sawi, petsai, daun bawang, daun sup, dan buah belanda. 

“Selama 2016, PT Freeport membantu kami mengangkut sayuran dengan pesawat chopper sebanyak 13 kali dari Kampung Tsinga dan Aruanop. Sedangkan Kampung Banti dan Opitawak menggunakan jalan darat,” tutur Yanus Beanal. 

Menurut Yanus, selama ini Koperasi Amungme Gold masih berjalan dengan bantuan PT Freeport. Koperasi yang baru dibuka tahun 2013 lalu ini belum memiliki modal sendiri, sehingga kemudian modal tersebut sementara dibantu oleh PT Freeport. 

“Koperasi Amungme Gold juga membayar pajak koperasi setiap tahun. Dimana laporan saldo rekening pertahun 2015 sebsar Rp 876 juta, sedangkan 2016 mencapai Rp 1,2 miliar, kemudian pada April 2017 saldo rekening telah mencapai Rp 2,1 miliar,” jelasnya. 

Manajer CED PTFI, Yohanes Bewahan, mengajak masyarakat di wilayah dataran tinggi mulai mengembangkan berbagai potensi yang telah difasilitasi oleh Freeport. Terutama budidaya kopi yang dipasarkan dengan label Amungme Gold telah menembus pasar secara nasional. 

“Saya dengar sudah banyak kita punya kopi dibawa ke Jakarta dengan harga yang lebih tinggi. Pengembangan masyarakat melalui koperasi ini perlu ditingkatkan sebagai investasi khususnya di dataran tinggi ketika Freeport tidak ada lagi,” ujarnya. 

Menurut Yohanes, PTFI berkomitmen akan terus berupaya melakukan pengembangan masyarakat dari berbagai aspek, meski dalam kondisi bisnis perusahaan saat ini hingga harus dilakukan upaya efisiensi dari seluruh sektor pembiayaan. 

“Harus dilakukan efisiensi pembiayaan program dengan mengatur jadwal transportasi copper ke wilayah dataran tinggi. Misalnya sebelumnya kita pergi empat kali, kita efisiensi penerbangan menjadi tiga kali namun tidak mengurangi dukungan kesana,” jelasnya. 

Dia berharap tahun berikutnya RAT koperasi ini bisa digelar di Aruanop, Tsinga, atau di Hoeya, sekaligus menyaksikan langsung bagaimana perkembangan tanaman kopi oleh anggota koperasi yang berasal dari masyarakat asli Amungme di wilayah itu. 

“Nanti bisa dilihat langsung bagaimana kita punya kopi disana seperti apa. Baik dari pemerintah, LPMAK, dan Freeport kesana untuk melihat kondisi dan kemajuan di lapangan,” katanya. 

Pembina KSU Amungme Gold dari CED PTFI, Arnold Sanadi, mengatakan ada beberapa keberhasilan dan kemajuan koperasi ini diantaranya penambahan anggota koperasi yang merupakan petani mandiri non-upah. Sejauh ini, Freeport tengah membina 16 petani, sebelumnya 42 petani namun sisahnya telah diberikan pensiun.

“Kami sampaikan terima kasih juga kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan yang sudah berkontribusi untuk program ini,” kata dia.  

Kepala Seksi Penyuluhan Koperasi pada Dinas Koperasi dan Ekonomi Kreatif Mimika, Rum Keley, mengatakan KSU Amungme Gold adalah koperasi yang sudah cukup mandiri karena di dalamnya dibina oleh orang-orang senior berpengalaman di PT Freeport. 

“Terima kasih untuk dukungan ini kepada masyarakat. Koperasi ini sudah banyak ditanya dari provinsi. Mudah-mudahan ini kedepan ada program-program yang bisa mendukung, baik dari pemerintah provinsi maupun sampai di pusat,” katanya. (Sevianto Pakiding)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment