Kontak Senjata di Nawaripi Hanya Hoax

Bagikan Bagikan
Ilustrasi
SAPA (TIMIKA) - Kapolres Mimika, AKBP Victor Mackbon membantah, bahwa informasi atau isu yang berkembang tentang kontak senjata oleh kelompok tak dikenal yang terjadi di daerah Nawaripi dalam, pada Senin (24/4) sekitar pukul 13.40 adalah hoax (bohong,red).

"Isu adanya saling tembak antara aparat keamanan dan OTK di Nawaripi Senin siang tidaklah benar. Itu bohong tidak ada kejadian tersebut,kata siapa,"tegas Kapolres AKBP Victor Mackbon saat dihubungi Salam Papua melalui telepon selulernya,Senin (24/4) malam.

Informasi yang berkembang adalah sebagai berikut, Senin 24 April pukul 13.40 tadi telah terjadi kontak senjata di pinggiran perkampungan Nawaripi Dalam, kab Mimika, oleh kelompok tak dikenal sudah mendekati wilayah Perumaham Transmigrasi Sp4. Sementara penduduk sekitarnya tdk mau mengungsi untuk menghindari jatuhnya korban sipil, ada Salah seorang warga setempat sempat merekam kejadiaan tersebut berikut ini video rekamannya untuk kronologisnya akan disampaikan menyusul sementara berita ini dilansir situasi belum kondisif. Demikian, DUMP

Menurut Kapolres, bahwa pada hari dan waktu tersebut tidak ada bentrok atau kontak senjata antara aparat kemanan dengan OTK. Sehingga bisa dipastikan, bahwa informasi tersebut tidaklah benar. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak tahu kebenarannya, serta tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Itu berita bohong. Karena sampai saat ini pun, di Polres  dan jajaran di polsek belum ada laporan kasus terjadi saling tembak.Jangan percaya dengan isu-isu, lebih baik tanyakan kepada yang berwajib,"kata Kapolres menegaskan kembali.

Kapolres mengatakan, pihaknya mengimbau kepada seluruh komponen masyarakat di Mimika untuk tidak usah menyebarkan berita bohong, yang bisa meresahkan masyarakat. Dan perlu diingat, siapapun yang menyebarkan berita bohong tersebut ada undang-undang yang mengatur, tentang penyebaran informasi. Sehingga bisa dijerat dengan pidana hukum, yakni Pasal 28 ayat (1) UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dimana setiap orang dengan sengaja menyebar berita hoax diancam pidana 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp1 miliar.

"Saya tegaskan, bagi mereka yang menyebar berita bohong dan meresahkan masyarakat, maka akan dilakukan penindakan hukum. Sesuai dengan undang-undang yang berlaku," ungkapnya. (Markus Rahalus)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment