Kurikulum Menjadi Nafas Pendidikan Tinggi

Bagikan Bagikan
Drs. Herman Kareth, M.Si bersama Ketua STKIP Hermon Timika, Yulian Solossa dan para dosen
SAPA (TIMIKA) – Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen), Drs. Herman Kareth, M.Si, dihadapan Ketua STIKIP Hermon, pengurus yayasan dan para dosen, menyampaikan bahwa kurikulum merupakan komponen yang wajib dan harus dilakukan. Sebab, kurikulum dikatakan sebagai nafas dari pendidikan tinggi. 

Pernyataan ini disampaikan saat melakukan pertemuan bersama pihak STKIP Hermon Timika dikampusnya, Jalan Budi Utomo Ujung, Kamis (27/4). Pertemuan itu dalam rangka membahas kurikulum yang berjalan dan melihat langsung presentasi dari masing-masing prodi yang ada di STKIP Hermon. 

Drs. Herman Kareth, M.Si saat ditemui Salam Papua di Kampus STKIP Hermon, menjelaskan kurikulum adalah salah satu syarat formal untuk pelaksanaan aktifitas perkuliahan di perguruan tinggi (PT). Presentasi yang telah dilakukan oleh masing-masing prodi di STKIP Hermon dikatakannya sangat baik, sebab masing-masing prodi menyajikan atau membedah kurikulum dalam bentuk lokakarya. Pada tahap kedua terdapat lokakarya internal, dan akan dilanjutkan dengan lokakarya eksternal. 

Kata Herman, kurikulum harus terbuka untuk masyarakat, pemerintah dan semua pihak. Sehingga lulusan dari sekolah tinggi akan kembali ke masyarakat untuk bekerja dan berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki. 

“Kurikulum itu relevan dengan kebutuhan daerah dan kebutuhan di tingkat nasional. Karena percuma cetak lulusan dengan kurikulum yang tidak punya standar atau berbasis yang baik. Kurikulum itu berisi mata-mata ilmu yang diajarkan kepada sekelompok orang yang menerima itu,” jelas Herman. 

Untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS), lanjut Herman, lokakarya kurikulum akan di bawa ke tingkat sekolah tinggi, selanjutnya produk itu di bawa ke kopertis dan diteruskan ke pemerintah melalui Kemendikti. 

“Ada standar yang menyatakan bahwa untuk mengajar di satu perguruan tinggi harus seseorang yang berijasah S2, karena S1 tidak boleh mengajar calon S1. Tetapi di STKIP Hermon perlu diberikan apresiasi karena sudah ada dosen yang lulusan S2, sehingga bisa dilakukan pengajaran silang,” katanya. 

Sementara terkait dengan kehadiran STKIP Hermon di Timika, menurutnya sudah sangat bagus. Hanya saja pihak yayasan perlu melengkapi beberapa kekurangan seperti laboratorium, perpustakaan, dan lapangan olahraga. Harapannya, STKIP perlu melengkapi kekurangan dan kebutuhan kampus, karena dari sisi sarana prasarana yang ada menurutnya sudah bagus. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment