Puncak Liturgi Budaya Demi Keselamatan Umat

Bagikan Bagikan
Tampak peserta Tim Pastoral keuskupan Agats saat mengikuti pejan studi budaya
SAPA (ASMAT)  Dihadapan seluruh tim Pastoral Keuskupan Agats, Misiolog yang dihadirkan Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats, P. John Prior, SVD menegaskan,  puncak seluruh liturgi budaya dalam penyampaian pesan kitab suci kepada masyarakat setempat di Asmat itu demi keselamatan umat.

Saya ingin sampaikan bahwa segala sesuatu yang baik dan indah berasal dari Tuhan. Pernyataan segala sesuatu yang baik dan indah itu berdasarkan Kitab Suci. Maka, segala sesuatu yang baik dan indah yang diwariskan para leluhur serta nenek moyang pula berasal dari Tuhan, itu makna dasar dari Kitab Suci, tegas John Prior menyimpulkan hasil diskusi kelompok tim Pastoral Keuskupan Agats berkaitan dengan isi pesan kita suci yang disampaikan dalam konteks budaya Asmat, di Gedung Pusat Pembinaan Pastoral Keuskupan Agats,  Rabu ( 26/4) siang.

Dinamika diskusi dalam pekan studi budaya itu beragam pandangan yang muncul dari para tokoh umat setempat yang memahami filosofi hidup masyarakat Asmat. Seperti halnya, tokoh adat dari Gereja Katedral Salib Suci Agats, David menegaskan, untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya masyarakat Asmat dalam perayaan liturgi gereja dan penyampaian isi pesan kitab suci membutuhkan kajian dan diskusi yang lebih mendalam. Karena, kita perlu menginventarisir dan mengidentifikasi nilai-nilai budaya Asmat.

Saya mau sampaikan bahwa kita tidak bisa angkat saja begitu. Mana yang perlu diangkat dan tidak perlu. Sehingga, liturgi dan penyampaian isi pesan kitab suci kepada umat bisa hidup dan dijiwai dalam praktek hidup sehari-hari. Saya kira pastor-pastor kita ini bisa melakukan hal itu, katanya dalam sesi diskusi disambut tepuk tangan meriah peserta diskusi pekan studi budaya.

Menurut Fr. Moses Amiset, Pr menegaskan, dalam pandangan masyarakat Asmat menyebut sesuatu yang maha tinggi itu (Cesmaipits) dan (Ca Ices). Pandangan ini hendak menegaskan, sebelum agama kristiani masuk dalam peradaban budaya masyarakat Asmat sudah mengenal sesuatu yang maha tinggi yang kita sebut Tuhan.  Untuk mengkongkritkan padangan itu, para pelaku Sabda Allah ini perlu menghidupkan nilai-nilai ini dalam perayaan liturgi dan penyampaian pesan Kitab Suci kepada masyarakat setempat. Saya kira, kita bisa lakukan sejauh hal itu tidak bertentangan dengan Roma, katanya.
Pastor Inosensius Retobjaan,Pr selaku moderator mempersilahkan Pastor John Prior, SVD menyimpulkan sekaligus menanggapi beberapa pandangan tersebut. Prior menegaskan, tim pastoral diharapkan bisa mengintegrasikan nilai-nilai budaya itu untuk mengungkapkan dan menyampaikan isi pesan kitab suci dalam pola khidupan orang Asmat dalam konteks budaya yang serba terbuka. Lalu, tim pastoral sering melakukan shering antar wilayah dan membuat evaluasi. Setelah itu, tim pastoral membuat Renstra (Rencana Strategi).

Itu yang perlu dilakukan. Kita harus mampu membuat Renstra bagaimana menyampaikan isi pesan kitab suci itu dalam pola hidup orang Asmat. Sehingga mereka terilhami dan terinspirasi untuk mempraktekan pesan yang hidup itu dalam hidup sehari-hari. Itu mengandaikan pelaku sabda bisa berbahasa setempat, katanya. (Sergi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment