Tim Pastoral Belajar Budaya Kontekstual

Bagikan Bagikan
Tim Pastoral Keuskupan Agats sedang serius mendengar nara sumber, P. John Prior, SVD menjelaskan refleksi budaya dirayakan dalam perayaan ekaristi
SAPA (ASMAT) – Tim Pastoral Keuskupan Agats belajar menemukan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Asmat dirayakan dalam perayaan ekaristi. Perayaan yang menampakkan kehadiran Allah dalam kehidupan umat. Sehingga, ekaristi bisa menginspirasi dan mengilhami umat bisa bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah dan mempertahankan nilai-nilai injili dalam kehidupan ssehari-hari.

Hal ini disampaikan nara sumber yang dihadirkan Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Maumere, NTT, P. Jhon Prior, SVD dihadapan tim pastoral Keuskupan Agats,  dalam pembukaan pekan studi budaya yang dikemas dalam tema “Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats, Refleksi Pastoral Budaya Ekaristi  saling memberi dan menerima”,  di Pusat Pembinaan Pastoral Keuskupan Agats, Selasa (25/4) sore.

Pekan studi budaya itu berlangsung dari 25-27 April 2017 akan datang  dan pembukaannya diawali dengan Ibadat Sabda dipimpin Pastor, Hilarius Salmon, Pr. Dalam renungan singkatnya, Pastoral Hilarius Salmon, Pr mengajak tim pastoral Keuskupan Agats, dalam menyebarluaskan kasih Allah tanpa menuntut balasan dan imbalan. Pelaku Sabda harus mampu merefleksikan perayaan ekaristi yang saling memberi dan menerima dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM dalam sambutan pembukaan yang ditandai dengan pemukulan Tifa mengajak tim Pastoral Keuskupan Agats setia mengikuti pekan studi budaya itu. Sehingga, hasil refleksi selama mengikuti pekan sutdi budaya itu bisa dipraktekan dalam paroki masing-masing . Tim pastoral bisa menyelaraskan nilai-nilai budaya setempat dalam perayaan ekaristi yang melambangkan kehadiran Allah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.   

Sebagai pelaku sabda, kata Mgr. Aloysius, tim pastoral bisa menterjemahkan nilai-nilai injili dalam tugas mengajar dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Karena gembala umat merupakan perpanjangan tangan Tuhan menggembalakan umat dalam kegiatan yang kongkrit dan menyentuh kehidupan masyarakat setempat. 

“Saya mengajak kita semua merenungkan dan merefleksikan hal ini dalam tugas yang konkrit. Kita jangan merasa tugas pelayaan ekaristi sudah dirayakan dan tugaspun sudah selesai. Tugas kita membutuhkan refleksi yang mendalam, karena pewartaan injil membutuhkan penghayatan dan pola pikir yang memiliki konsep yang menghidupkan semangat iman umat setia merayakan ekaristi sebagai tanda yang Nampak dan tanda kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari,” ajaknya.

Pada sesi pembukaan pekan studi budaya itu dipimpin moderator, Pastor, Inosensius Retobjaan, Pr mengingatkan, para tim pastoral Keuskupan Agats mengingat kembali topik yang sama sambil mempertanyakan dampaknya dalam berpastoral selama ini.

“Saya minta kita sekalian menceriterakan pengalaman setiap paroki dalam mengembangkan pastoral budaya selama ini dalam inisiasi pembaptisan dan pelayanan sakramen perkawinan,” katanya. 

Dari rekaman media ini, tampak masing-masing tim pastoral paroki membagikan pengalaman pastoral budaya di Paroki dan stasi sangat beragam. Ada paroki dan stasi yang sudah mempraktekan dan sebagian pula mengalami kesulitan. Karena mereka mengakui berhadapan dengan umat yang sangat heterogen dalam pelayanan pastoral.

Menyikapi keragaman budaya dalam berpastoral, menurut nara sumber, P. John Prior, SVD yang memiliki spesialisasi dalam hal misiologi itu menegaskan, berpastoral dalam budaya yang beragam seharusnya tidak menemukan kesulitan. Karena, ia mencontohkan pengalaman berpastoral dalam budaya yang memiliki 60 budaya dan bahasa. Tim pastoral harus mampu mengidentifikasi budaya dan bahasa yang berbeda itu menjadi tanda dan simbol kehadiran Allah. Lalu, nilai-nilai dari keragamaan budaya dan bahasa itu dipersatukan dalam perayaan ekaristi sebagai tanda yang nampak dan tanda kehadiran Allah yang menyemangati dan mempersatukan umat  dalam kehidupan sehari-hari. 

“Ini yang akan menentukan masa depan Asmat. Bagaimana tim pastoral hadir dalam kehidupan orang yang sakit, perawat dan guru, termasuk masyarakat yang kita layani. Jika, itu terjadi, maka kita rayakan kehidupan seperti itu dalam perayaan ekaristi yang mengajak orang bertobat  (bermetanoya),” ajaknya. (Sergi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment