37 Penatua dan Diaken Asmat Ditahbiskan

Bagikan Bagikan
Tampak para Penatua dan Diaken sedang berlutut menerimakan pentahbisan dan berkat dari Pendeta Ny. Eva Y Paliama dan Pendeta. Ny. Hetty J.Pally
SAPA (ASMAT) – Pendeta Ny. Eva Y. Paliama, S.Th disaksikan 300 san Jemaat Betlehem Agats menahbiskan dan mengutus 37 penatua dan diaken Gereja Protestan Indonesia Papua Jemaat Betlehem Agats untuk melayani jemaat dan berbagi berkat bagi sesama.

“Jadilah pelayan yang mampu berbagi  berkat bagi mereka yang terluka, susah dan berbeban berat.  Maka, Saya mengajak kita semua belajar dari kestiaan Yesus  dan Nabi Nuh. Ia  taat atas titah Tuhan. Ia tidak pernah ragu-ragu melaksanakan perintah Tuhan sekalipun tantangan besar menghadang. Maka para pengikut Yesus, baik sebagai jemaat maupun sebagai penatua dan diaken melandasi seluruh pelayanan itu berakar pada kasih dan taat pada Firman Tuhan,” tukasnya dalam khobahnya sebelum menanggalkan toga penatua dan diaken lama, mengikrarkan janji setia dan menahbiskan 37 penatua dan diaken GPI Papua Jemaat Betlehem Agats, di Gereja GPI Papua Klasis Asmat, Jemaat Betlehem Agats, Minggu (21/5) pagi.

Dia menegaskan menjadi pelayan Allah senantiasa mengasihi Tuhan lebih sungguh-sungguh. Ciri mereka yang setia mengasihi Yesus adalah menuruti perintah-Nya bukan hanya di depan manusia untuk mendapat pujian. Tetapi, ketika kita tidak ada seorangpun yang memerhatikan. Kuncinya, mendasari hidup berakar pada kasih Tuhan dan mentaati titahnya.

“Kasih merupakan akarnya, dan ketaatan adalah buahnya. Bilamana terdapat kasih yang murni terhadap Krsitus di dalah hati setiap orang percaya, disana bersemanyam ketaatan. Jika kasih yang memerintah, maka disana berbuah penghargaan dan hormat, dimana ada kasih yang tulus dengan sendirinya akan mengalir segala berkat bagi diri sendiri dan orang lain serta rasa syukur. Maka jadikanlah dirimu menjadi berkat bagi mereka yang membutuhkan balutan luka, susah dan berbeban berat,” tegasnya.

Menurutnya bilamana setiap manusia tidak memiliki kasih sejati terhadap Yesus. Yang bersangkutan tidak aka nada kepedulian untuk mematuhi-Nya. Ia memetik salah satu nas Kitab Suci: “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti Firman-Ku (Yoh.14: 24).

Kita bisa melihat perbedaan antara orang-orang yang mengasihi dengan yang tidak mengasihi Kristus. Berpura-pura apa pun yang dilakukan akan terlihat sikap tidak mengasihi Tuhan, memercayai kebenaran-kebenaran-Nya hingga tidak mematuhi hukum-hukum-Nya.

Bagi mereka pernyataan Yesus tidak lebih dari pada omong kosong yang tidak perlu diindahkan. Beda dengan mereka yang setia dan taat kepada Yesus memancarkan dan  mengalir damai sejahtera, suka cita dan peneguhan bagi orang lain disekitarnya.”

Kesetiaan dan taat kepada Yesus membutuhkan penyerahan diri secara total, penyangkalan, pengingkaran diri, dan mengikrarkan diri dengan tidak akan pernah meninggalkan Dia. Setia dan taat pata titah-Nya berarti menjauhi dunia gemerlapan, meninggalkan segala kenyamanan dan membiarkan diri Allah berkarya. Karena tiada kepuasan sejati yang lahir dari keegoisan dan mengutamakan kenyamanan. Selain, kita menyerahkan hidup bermanfaat dan menjadi berkat bagi orang lain.

“Saya ingin menyampaikan sebuah kutipan dari orang yang setia melayani Tuhan dan sesamanya, Ezra Taft Benson mengatakan, jika kamu benar-benar ingin mendapatkan sukacita  dan kebahagiaan. Layanilah sesamamu dengan segenap hatimu. Angkatlah beban mereka dan bebanmu akan menjadi ringan,” ujarnya.

Dari rekaman media ini, prosesi penahbisan penatua dan diaken Jemaat Betlehem Gereja Protestan Indonesia Klasis Asmat itu.  Diawali perarakan dari depan Gereja memasuki depan mimbar Sabda berlangsung meriah, khidmat, dan penuh sukacita dari awal hingga akhir ibadah.  

Usai pengikraran janji setia dan pentahbisan yang ditandai dengan Pdt. Ny. Eva Y Paliama, S.Th dan Pdt. Ny. Hetty J. Pally, S.Th mengenakan toga kepada 17 penatua, diantaranya penatua, Semuel Tambay, Pieter Dallung, Bartho Anton, Oktovianus Duma Arring, Markus Tenau, Annie Souhoka, Johanis Katno, Iriane Nelty Siahaya, Sarah Melda Rahel Apalem, Robert Benh Meda Kala, Ephi Bunga, Sefnat Ptna, Marthina Renleuw, Niko Rande, Saprijaya Lulunbara, Sherly Patricia Theresia Assa, Daniel Benamen dan 20 orang diaken, antara lain, Diaken Pither Sulo, Andrias Sampe, Anthony Bassay Anakotta, Debora Silambi Patandianan, Tuti Kappa, Mateus Sahetapy, Ebson Albertus, Bessy Yuliana Wansaubun, Yulita Farneubun, Yuliana Salurapa, Marthina Salu, Suriani Panggalo, Kristina Silambi Patandianan, Nataniel Tangkealo, Tina Boroh, Marselina Cornelia, Yohanis, Radianto Tandikamban, Yulius Lumalan dan Rida Pakabu. 

Dan data yang diperoleh media ini dari Keputusan Badan Pekerja Sinode GPI di Papua bernomor 690/XI/MJ tentang pemberhentian penatua dan diaken masa bhakti 2012-2017 dan pengangkatan Penatua dan Diaken masa bhakti 2017-2022 yang ditandatangani Badan Pekerja Sinode GPI di Papua, Ketua, Pdt. W. Rumainum, S.Th dan Sekretaris, Pdt. J. Salu, S.Th yang ditetapkan di Fak-Fak tertanggal 21 Mei 2017 dalam lampiran keputusan tersebut seharusnya 19 Penatua. Diperoleh informasi dari para penatua yang ditahbiskan kemarin menyebutkan dua penatua berhalangan hadir, karena yang bersangkutan sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota Asmat, diantaranya, Iria Natarike dan N. Rantetampang. (Sergi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment