Berkas 2 Pengedar Dextro dan Somadril Siap Diserahkan ke Jaksa

Bagikan Bagikan

SAPA (TIMIKA) -  Penyidik Satuan Reserse dan Narkoba (Satreskoba) Polres Mimika menyatakan proses administrasi atau pemberkasan terkait kasus kepemilikan sekaligus pengedar obat-obatan jenis Dextro dan Somadril, telah lengkap. Berkas dengan dua (2) orang tersangka ini siap memasuki tahap satu, atau diserahkan ke pihak Kejaksaan.

"Berkas sudah lengkap, tinggal dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Timika. Sebenarnya sudah kita serahkan, namun beberapa hari lalu anggota fokus pada beberapa kasus sehingga belum menyerahkan, namun dipastikan dalam waktu dekat ini sudah diserahkan," terang Kepala Satreskoba (Kasatreskoba) Polres Mimika, Iptu Laurentius Kordiali saat diwawancara di Kantor Pusat Pelayanan Polres Mimika, Rabu (3/5).

Kedua tersangka wanita yang berinisial masing-masing YS (24) dan AT (34), dijerat dengan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kedua wanita ini diketahui mengedarkan obat-obatan jenis Dextro dan Somadril yang kemudian ditangkap petugas Satreskoba. Keduanya saat itu, Senin 20 Maret 2017, tertangkap ditempat yang berbeda, AT di Jalan Ahmad Yani sedangkan YS di Jalan Yos Sudarso . YS diduga sebagai pengedar sedangkan AT diduga sebagai bandar atau pemilik besar obat-obatan tersebut.

Penangkapan tersebut bersamaan dengan terungkapnya kasus curanmor pada 20 Maret 2017 lalu. Berawal ketika petugas Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Mimika mendapati seorang pelaku curanmor memakai obat Dextro. Selanjutnya Satreskrim melakukan koordinasi dengan Satreskoba untuk menyelidiki dari mana pelaku mendapatkan obat-obatan tersebut.

Polisi akhirnya berhasil mengamankan barang bukti lima papan obat Somadril dan sembilan paket obat Dextro dengan rincian empat paket berisi 25 butir, dua paket berisi 20 butir, dan satu paket berisi 15 butir. Selanjutnya uang tunai senilai Rp690 ribu rupiah, dua bungkus plastik klip, dan satu unit handphone Nokia. Dalam kasus ini, polisi juga menetapkan dua orang DPO yang diduga masih berkaitan dengan peredaran dan kepemilikan obat-obatan jenis ini, yakni Narsih dan Maa.

“Para pelaku ini merupakan penyuplai Dextro terbesar di Timika. Kedua tersangka sudah ini menjual Dextro sejak tahun 2013 lalu dengan omset Rp4 juta sebulan," kata Kordiali.

Dalam satu bulan penjualan Dextro bisa menghabiskan sebanyak 6.000 butir, dan dijual rata-rata kepada sasarannya yakni para buruh kasar dan orang disekitarnya, bahkan kepada para pelajar. Dijual  per paket yang berisi 35 butir pil seharga Rp35 ribu rupiah. (Markus Rahalus)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment