Feature : Merajut Benang Kasih Dengan Warga Ala Kambu

Bagikan ke Google Plus
Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos memborong jualan mama mama Papua dan membagikan kepada warga yang lain
PAGI itu, terang benderang. Cahaya sinar sang surya dari ufuk timur dan angin sepoi-sepoi menyapa ramah setiap wajah mama-mama dari Kampung Biopis dan Basim. Mereka menggelarkan jualan sepanjang jalan jembatan papan dibibir Kali Basim, Distrik Joerat, Senin (15/5) pagi.

Mama-mama Papua dari kedua kampung itu ada yang menggelar jualan ikan kakap, kerapu dan udang. Ada pula yang menjual pisang dalam bentuk tandan dan sisir. Yang lain, mama-mama paruh baya itu menggelar jualan sayur kacang, daun singkong, tomat, dan rica.  Pemandangan itu menarik dan memberitakan seberkas sinar harapan, warga Asmat sudah  gemar menanam, memanfaatkan sumber daya kali sebagai lahan mengais reziki. 

Suasana itu, kata salah satu warga dari Kampung Basim, Distrik Fayit, Philipus mengisahkan, mama-mama Papua dari Kampung Basim dan Kampung Biopis setiap hari menggelar dagangan sepanjang jelan jembatan papan itu. Mereka menjual sepanjang jalan itu bukan karena Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos sedang meninap semalam di Kampung Basim, Distrik Fayit. 

“Saya dan istri saya setiap hari menggelar jualan ikan sepanjang jalan itu. Jadi, kami selalu menjual pisang, sayur, tomat dan rica, ya di tempat itu. Tempat khusus untuk berjualan belum ada,  jadi. Kami manfaatkan sebgian jalan jembatan itu menggelar jualan,” tuturnya.

Ia mengaku bangga menyaksikan warga dari kedua kampung itu setahap lebih maju dari kebiasaan masa lalu merambah kekayaan yang dihidangkan dari alam sekitar mereka. “Saya senang sekali melihat kamu semua berjualan seperti ini. Ikan ini berapa harganya. Udang berapa satu tumpuk,” tanyanya seraya memborong seluruh jualan ikan dan udang mama-mama Papua itu. 

Media ini tidak kalah gesit menengok, menyaksikan dan mengabadikan dalam gambar cara Bupati Asmat memborong seluruh jualan ikan, udang, tomat dan rica hingga jualan mama-mama itu tidak tersisa. 

“Mama, mari..,  yang gendong anak kecil itu. Ini ikannya bawa pulang masak baik-baik untuk anak-anak di rumah, ya. Ini engkau punya bawa pisang. Mama-mama yang jualan, maaf ya. Kamu dapat uang dari jualan. Mereka  dapat ikan dan pisang, bagaimana setuju,” tanyanya disahuti mama-mama itu: “Pa Bupati terima kasih.”

Bupati Asmat memborong jualan mama mama Papua dan membagikan hasil pembeliannya kepada warga masyarakat yang mengerumuni dan menemaninya belanja itu terdengar mereka guyon dan ketawa lepas. Ada mama mama yang berteriak memohon jualannya diborong habis. 

“Pa Bup borong saya punya juga. Ini ada pisang, ikan dan udang bersama  tomat dan rica. Lengkap saya jual pa bup,” teriaknya disahuti Elisa: “Sabar, berapa banyak jualanmu?” Kumpul semua tomat dan ricanya, harganya semua berapa sambil memberikan uang kepada mama itu tanpa dihitung.”
Mama Papua yang mengakui namanya Theresia menyambut hasil jerih payahnya menjual tomat, rica, ikan dan udang dihargai melebihi dari perhitungannya. “Pa Bup terima kasih banyak sekali,” teriaknya sambil mencium uang pecahan lima puluh ribu rupiah dan menepuk bahu Bupati Asmat seraya bergoyang gaya Asmat. 

Ekspresi wajah mama mama  yang menjual ikan, udang, pisang, sayur singkong, tomat, rica dan warga yang mendapat pemberian ikan, udang, sayur, tomat, dan rica terlihat bersuka cita sambil bergoyang ala Asmat dan berteriak: “Kami tidak salah memilih engkau. Terima kasih bupati, terima kasih,” teriak mereka sambil mereka mengarak-arak Bupati Asmat menuju ke SDN Inpres Basim hingga jembatan nyaris rubuh.

Menjawab media ini, Elisa Kambu mengaku tidak pernah menghitung seberapa besar uang yang diberikannya kepada warga. “Saya tidak pernah menghitung apa yang diberikan kepada warga yang berjuang menata hidupnya. Saya melakukan itu, karena saya sangat bangga.  Mereka sudah mulai gemar menanam dan gemar memanfaatkan potensi dalam kali di sekitar kehidupan mereka.  Dengan pendekatan seperti itu, saya berharap mereka terpacu dan termotivasi dari hari kehari. Mereka berjualan dari apa yang mereka bisa usahakan, itu target yang ingin saya capai. Dan dibalik itu, saya berharap saya bisa berguna dan membuat mereka bersukacita, itu saja,” tuturnya polos sepolos wajahnya menyapa warganya.

Media ini menerawang jauh sambil berandai semua pejabat bisa meniru ala Bupati Asmat, Elisa Kambu merajut benang kasih. Pejabat bisa  berbagi kasih kepada warganya. Warga pasti terpacu, termotivasi dan memetik gaya hidup yang bermanfaat bagi yang lain. Tentu saja tidak mudah. Tetapi, berani memulai tanpa memasang tirai pembatas pejabat dan bawahan. Pasti bisa! (Sergi) 


Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment