Features : Diantara Hujan Berkat dan Doa Menanti Tabib Ajaib

Bagikan Bagikan
Tampak Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos sedang mendoakan seorang Pendeta yang sedang sakit bersama Kapus Puskesmas Atjs, Ambrosius Oktan
“Ulurkanlah tangan-Mu yang ajaib. Angkatlah segala sakit dan penyakit dari hamba-Mu yang selalu dan senantiasa berserah diri kepada-Mu. Urapilah ususnya, perut dan seluruh organ tubuh hambamu dan seluruh pasien di Puskesmas ini. Da..,lam na..,ma Yesus! Dan darahmu yang kudus.  Sembuhkanlah hamba-Mu!” demikianlah doa Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos ketika mendoakan seorang Pendeta yang sedang di rawat dan para pasien rawat inap di Puskesmas Atjs, Selasa (16/5) lalu.

Sejak dini hari hingga prosesi pelantikan kepala kampung pukul 10.30 Wit,  Kota Distrik Atjs dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Meski begitu, Bupati Asmat didampingi Dandim 1707 Merauke, Letkol Inf. Heri Krisdianto, Wakapolres Asmat, Kombespol. Sam Rumes Mamisala, Kepala Badan Keuangan dan Pengelolaan Aset Daerah, Halasson F. Sinurat, S.STP, para ajudan bupati, Dandim, Wakapolres dan Wartawan Salam Papua tidak mengurungkan niat mengunjungi pasien, para medis serta mengecek kebutuhan Puskesmas Atjs.

Walau hujan lebat menerpa atap seng Puskesmas Atjs memekakkan telinga, seorang perawat perempuan dan laki-laki menyambut Bupati Asmat di Ruang Unit Gawat Darurat dengan ramah diselimuti wajah berseri-seri.  Ruangan itu sangat keren, bersih dan tercium pengharum ruangan yang sangat khas. Terdengar pula ucapan pujian dari mulut Bupati Asmat, Dandim dan Wakapolres. “Andaikan semua Puskesmas di Kabupaten Asmat seperti ini, pasti pasien merasa di rumah sendiri. Ini luar biasa pa Bup,” kata Dandim dan Wakapolres  serempak.

Dari situ Kambu dan rombongannya menuju ruang rawat inap kelas I. Ia menyapa setiap pasien sambil berjabatan tangan dan sesekali menepuk bahu para pasien dari kamar ke kamar. Ia bersendagurau sambil memijit-mijit bahu seorang mama tua usia uzur sedang berbaring lemas dengan infus dan diketahui pengusaha warung makan bernama Hj. Murni. “Aduh sayang! Mama sakit. Pantas!  Kemarin dan tadi malam,  kami tidak merasakan masakan mama ini.  Cepat sembuh ya! Sayang dia,” tuturnya seraya mengusap wajah mama tua itu.

Giliran di kamar ke empat di ruangan kelas I itu,  Ia mengunjungi seorang pendeta yang sedang dirawat dan ditemani istrinya tercinta. “Selamat pagi pa pendeta. Bagaimana sakit apa pa pendeta? Kerja melayani jangan lupa menjaga kesehatan pa pendeta,” tuturnya disahut pa pendeta: “Pa bup, terima kasih.  Hujan deras seperti ini masih sempatnya mengunjungi orang sakit. Terima kasih sekali.”

Ia mengajak Pendeta berdoa. “Mari kita berdoa. Allah khalik langit dan bumi. Allah yang kami sembah dalam nama Yesus. Engkaulah tabib segala tabib. Penyembuh ajaib. Ulurkanlah tangan ajaib-Mu. Angkatlah segala sakit dan penyakit dari tubuh hambamu ini. Dan semua para pasien yang sedang di rawar di Puskesmas ini. Da…lam nama Yesus! Sembuhkan semua pasien di Puskesmas ini. Da..lam nama Yesus dan Darah-Mu yang kudus, urapilah usus, perut dan seluruh organ tubuh hambamu dan seluruh pasien disini. Da..lam nama Yesus, keluarlah sakit dan penyakit dari tubuh pasien disini.”

Selain itu, ia berdoa memohon tangan ajaib Tuhan memberkati semua tangan para medis, obat, makanan dan minuman yang dinikmati para pasien. “Da…lam nama Yesus. Berkatilah para medis, obat dan makanan sehingga pasien yang sedang menjalani perawatan cepat sembuh dan kembali menjalani aktifitas harian mereka.”

Ia memotivasi pendeta dengan mengisahkan masa lalunya sempat mati dan hidup kembali. “Pa pendeta! Saya sempat mati dan hidup kembali. Keluarga besar sudah pada menangis dan terkejut ketika saya hidup kembali. Jadi kita harus yakin dan percaya. Allah kita, Allah yang hidup. Maka, senantiasa kita selalu bersyukur dan bersyukur!” tuturnya sambil memberikan minyak urapan: “Pa Pendeta gosok saja di setiap tempat yang sakit. Da…lam nama Yesus pasti sembuh!”

Seiring hujan lebat masih turun deras, para pasien mendapat hujan berkat dari Bupati Asmat berupa uang. “Zul tolong bantu para pasien itu,” tuturnya sambil memanggil dan membisik dalam telinga ajudanya.

Media ini merekam jelas, Bupati melalui ajudannya memberi uang kepada pendeta yang sedang sakit itu sebesar  lima juta rupiah. Dan beberapa pasien yang lain menerima amplop berisi uang. Sementara, mama-mama asli Papua di ruangan rawat anak-anak, ia memberi sendiri tanpa berhitung.

Kepada para medis kontrak yang belum mendapat honor bulanan mereka, ia membantu mereka sambil meminta ajudannya memberikan sebesar 10 juta rupiah. “Kamu berapa orang yang belum mendapat honor. Saya bantu kamu satu-satu juta ya. Saya senang, kamu semua kerja baik disini,” tuturnya disahuti para medis kontrakan: “Sepuluh orang pa bup!”

Dia meminta Kepala Puskesmas Atjs, Ambrosius Oktan dan seluruh para medis mempertahankan pelayanan yang sudah berjalan bagus seraya mengucapkan terima kasih. “Pa Kapus pertahankan ritme kerja. Saya ucapkan terima kasih atas pelayanan kalian di Puskesmas ini. Segala kekurangan di Puskesmas ini saya sudah lihat sendiri. Saya berjanji sebelum Agustus semua sudah selesai dikerjakan.

Dan para perawat yang datang dari tempat yang jauh dan meninggalkan sanak saudara. Saya ucapkan terima kasih. Saya bangga dengan pelayanan kalian kepada pasien disini. Saya berharap tangan Tuhan  melalui tangan kalian bisa cepat menyembuhkan pasien di tempat ini, terima kasih. (Sergi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment