Karyawan Underground Khawatir Menyusul Mogok Kerja

Bagikan Bagikan
Para Karyawan saat berkumpul mempertanyakan Aksi Mogok kerja

SAPA (TIMIKA) - Para karyawan di tambang bawah tanah (underground) PT Freeport Indonesia (PTFI) mulai khawatir menyusul berlangsungnya aksi mogok kerja ribuan karyawan lainnya sejak 1 Mei 2017.

Sekitar 300an karyawan underground berkumpul di gedung kantor (Office Building 4) mile 72, ridgecamp, Tembagapura, Rabu (3/5). Mereka mempertanyakan kejelasan mogok kerja yang disusul interoffice memorandum manajemen Freeport berisi pemanggilan karyawan kembali bekerja. 

Informasi yang dihimpun Salam Papua di lapangan menyebutkan, para karyawan underground mulai resah dan khawatir terjadinya pergesekan di lingkup pekerja (seperti tahun 2010-2011) menyusul aksi mogok tersebut. 

Keresahan para karyawan tersebut direspon oleh pihak manajemen Freeport melalui Vice President Underground Mine Operations, Hengky Rumbino. Setelah memberi penjelasan, para karyawan kemudian kembali beraktifitas.

Adapun interoffice memorandum tertanggal 2 Mei 2017 yang dikeluarkan manajemen Freeport, pada intinya mengimbau seluruh pekerjanya yang sedang melakukan aksi mogok agar kembali bekerja. 

"Jika semua karyawan datang ke tempat kerja, kami akan mencapai jumlah tenaga kerja yang sesuai untuk memenuhi target produksi yang baru. Dengan demikian, kami meminta semua karyawan untuk bersatu dan bekerja bersama demi mencapai target," tulis memo tersebut. 

Disebutkan pula bahwa karyawan (yang tidak sedang menjalani program furlough) dan telah mangkir dari jadwal kerja, masih memilki hak sesuai dengan PKB-PHI, jika mereka memutuskan untuk kembali bekerja.  

"Jika anda telah mangkir dari jadwal kerja selama periode tertentu, belum terlambat untuk kembali bekerja dan memperjuangkan masa depan anda demi menghidupi keluarga dan diri sendiri," imbau manajemen Freeport. 

Dijelaskan, bahwa sebagian besar karyawan yang memutuskan kembali bekerja tidak akan kehilangan pekerjaan mereka, walaupun tindakan disipliner akan dikenakan secara adil dan konsisten berdasarkan PKB-PHI. 

"Surat panggilan telah dan terus dikirimkan kepada karyawan yang telah mangkir selama 5 hari berturut-turut atau lebih. Jika tidak menanggapinya, hal itu akan mengakibatkan timbulnya konsekuensi yang besar bagi pekerjaan anda dan keluarga, termasuk pengunduran diri secara sukarela," imbuhnya.   (Sevianto Pakiding)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment