Sanggar Agimuki Nemeng Siap Mengikuti Festival Danau Sentani

Bagikan Bagikan
Maria Anggaibak
SAPA (TIMIKA) – Pemilik Sanggar  Agimuki Nemeng, Y. Maria Anggaibak mengakui, meski tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, pihaknya telah mempersiapkan diri untuk mengikuti Festival  Danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang akan digelar pada 19 Juni 2017  mendatang.

“Memang sanggar ini sama sekali tidak diperhatikan pemerintah. Meski sudah berkali-kali saya coba untuk memfasilitasi tapi tidak direspon. Makanya biar kami bergerak sendiri saja dan siap tampil di Sentani nanti,” ungkap Maria ketika diwawancarai di Kantor Sentra Pemerintahan, Jalan Cenderawasih, Poros SP 3, Distrik Kuala Kencana, Selasa (30/5).

Dijelaskan, sanggar yang didirikan 2014 lalu tersebut telah berbadan hukum dan dilindungi oleh dua lembaga adat Suku Amungme (Lemasa). Serta telah memproduksi berbagai jenis hasil karya seni budaya yang dirajut oleh tangan-tangan terampil asli Amungme.

Lanjutnya, dan dalam festival yang akan diselenggarakan di danau sentani, pihaknya akan menampilkan noken asli yang dirajut dari benang kulit kayu genemo dan batang anggrek berbagai jenis, serta mahkota atau topi dari bulu burung kasuari.

“Kami akan menampilkan kerajinan asli Suku Amungme pada festival nanti,”ujarnya.

Kata dia, satu hal yang mengharuskan dirinya mengikuti festival tersebut adalah, untuk memperkenalkan ciri khas asli Suku Amungme dimata daerah-daerah lain yang ikut. Selain itu, dirinya juga sangat ingin mengenal hasil karya budaya yang akan dipamerkan oleh daerah lain. Sebab bisa saling mengenal budaya satu sama lain itu sangat penting.

“Noken itu berbagai ukuran, baik besar, sedang, dan kecil dengan berbagai motif. Dan masing-masing akan dikenakan harga yang berbeda. Untuk topi kepala itu kita gunakan bulu kasuari, kerena burung cenderawasih itu sudah dilarang,”ungkapnya.

Kata Maria, dirinya merupakan salah satu perempuan Amungme yang memilki kepedulian dalam menjaga kelestarian alam dan budaya, termasuk karya seni yang telah diwariskan secara turun temurun. Karenanya, dirinya mengharapkan agar adanya perhatian khusus dari Pemkab untuk memfasilitasi upaya mengangkat budaya melalui karya kerajinan tangan. 

Dirinya mengakui, sangat ingin mengangkat nama Mimika dalam bidang pengembangan karya seni asli Suku Amungme. Sebab menurut dia, sangat disayangkan jika harus orang lain yang mengembangkan karya kebudayaan tersebut.

“Jujur yang selama ini tampilkan karya-karya kita di luar itu orang lain, bukan kami sendiri. Kenapa kami yang benar-benar mendara daging dengan kebudayaan kami tidak bisa diperdayakan?,”tuturnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment