Terdakwa Kasus Narkoba Mengaku Hanya Sebatas Pecandu

Bagikan Bagikan
Sidang perkara penyalahgunaan narkotika dengan terdakwanya SS alias Ria
SAPA (TIMIKA) - Terdakwa berinisial SS alias Ria yang terjerat kasus Narkotika jenis Sabu, dihadapan Majelis Hakim mengaku kalau dirinya hanya sebagai pecandu barang haram tersebut, dan berniat untuk direhabilitasi. 

Pengakuan terdakwa dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika, Selasa (23/5), menguak sebuah fakta yang mengagetkan penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Zainal Sukri. 

Di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Fransiscus Y. Bapthista, terdakwa mengaku jika sebelumnya dirinya telah mengajukan permohonan rehabilitasi ke Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Mimika. 

Atas keterangan tersebut, terdakwa menyertakan bukti surat ke BNNK Mimika, sekaligus surat dari Panti Rehabilitasi Peduli Anak Bangsa di Makassar, Sulawesi Selatan, yang membuktikan jika terdakwa pernah menjalani rehabilitasi disana. 

Selain itu, terdakwa mengaku sempat berhenti menkonsumsi barang haram tersebut. Namun terdakwa kembali ke kehidupan kelamnya mengkonsumsi Sabu setelah ditawari oleh seorang temannya dari Makassar. 

"Saya sudah pernah direhabilitasi di Makassar. Tapi ada panggilan pekerjaan sehingga saya kembali ke Timika. Setelah sampai di Timika, saya belum sempat melapor ke BNN,” katanya.

Penasehat Hukum terdakwa, Zainal Sukri, mengaku kaget atas fakta persidangan disertai bukti-bukti tersebut. Dirinya mempertanyakan kasus ini bisa sampai di pengadilan tanpa upaya menolong terdakwa dengan melakukan rehabilitasi. 

"Pasal 54  UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika itukan jelas, bahwa terhadap pecandu seharusnya direhabilItasi," ujar Sukri. 

Menurut Sukri, Pasal 112 UU Narkotika yang disangkakan kepada terdakwa berkaitan dengan unsur membawa, menyimpan, dan memiliki Narkotika jenis Sabu harus dicermati secara baik.

"Kalau membawa 1 gram atau lebih kecil Narkotika, berarti itukan tujuannya untuk dipakai, apalagi saat tes urin terdakwa terbukti positif. Berarti harusnya direhabilitasi," katanya. 

Sukri berjanji akan mempertanyakan rangkaian proses hukum terdakwa kepada pihak BNNK Mimika yang akan dihadirkan untuk memberikan keterangan pada sidang berikutnya, Senin (30/5) pekan depan. 

"Banyak kasus serupa yang kemudian direhabilitasi. Maka itu nanti saya minta agar terdakwa direhabilitasi saja, atau paling tidak dia hanya sebagai pengguna," pungkasnya. 

Penangkapan terhadap SS alias Ria, warga Jalan Budi Utomo belakang toko senyum 5000 itu pada Jumat 23 Desember 2016. Saat itu terdakwa menghubungi rekannya, Bibi (DPO) yang berada di Makassar untuk memesan  Sabu.  

Kemudian proses pembelian Sabu dilakukan dengan cara mentransfer uang sebesar Rp1,350 juta, untuk satu paket. Satu paket Sabu tersebut lalu dikrim oleh Bibi melalui jasa pengiriman barang Global Prima Expres (GPE) .

Selanjutnya pada Sabtu 24 Desember 2016,  terdakwa bersama saksi Wiwik Sri Irianti dan Saksi Damayanti datang ke Kantor pengiriman barang GPE untuk mengambil kiriman paket tersebut .

Mengetahui pengambilan paket Sabu tersebut, anggota BNNK Mimika, Baktiar, kemudian melakukan penangkapan dan penggeledahan terhadap paket yang diambil terdakwa, dan ditemukan satu paket berisi butiran kristal yang diduga Narkotika jenis sabu yang diselipkan dalam lipatan pinggang celana pendek. 

Pada saat dilakukan pemeriksaan dikantor BNNK Mimika, terdakwa mengaku bahwa masih terdapat satu paket Sabu sisa pakai yang disimpan dirumah kos terdakwa di Jalan Busiri Ujung, tepatnya belakang toko senyum 5000.

Selanjutnya, anggota BNNK  Mimika melakukan penggeledahan dirumah kos terdakwa dan ditemukan Sabu sisa habis pakai beserta bong (alat hisap sabu) dibawah meja kamar kos terdakwa. (Sevianto Pakiding)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete