TNI Perkuat Babinsa Waspadai Paham Radikalisme

Bagikan ke Google Plus
Letkol Inf Windarto
SAPA (TIMIKA) – Komando Distrik Militer (Kodim) 1710/Mimika memperkuat peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam menyampaikan wawasan kebangsaan, untuk mengantisipasi paham-paham yang berseberangan dengan ideologi NKRI termasuk radikalisme.

Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Windarto, kepada wartawan di Timika, Rabu (24/5), menegaskan bahwa TNI selalu mengantisipasi pergerakan kelompok manapun yang berusaha memecah belah bangsa dan merongrong kedaulatan NKRI.

“Setiap pergerakan sekecil apapun harus antisipasi. Siapapun yang berusaha merongrong kedaulatan NKRI, merubah dasar negara Pancasila, berhadapan dengan TNI,” tegas Windarto.

Windarto menekankan kepada Babinsa agar selalu berada di tengah-tengah masyarakat khususnya di kampung-kampung (desa). Babinsa dalam melaksanakan kegiatan teritorial diharapkan bisa memberi pemahaman bela negara dan wawasan kebangsaan. 

“Disampaikan kepada masyarakat bahwa kalau kebhinekaan itu ada yang mencoba memecah belah, itu akan mengkhawatirkan negera kita sendiri. Maka itu harus diantisipasi,” ujarnya.

Berdasarkan instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, kata dia,  bahwa seluruh prajurit wajib menanamkan paham semboyan ‘NKRI harga mati’. Paham-paham berseberangan termasuk kelompok radikalisme harus ditumpas sebelum menjadi ancaman. 

“Tentu kita tidak mau ada kegiatan radikal yang sifatnya bisa mengganggu stabilitas nasional, apalagi tujuan utamanya adalah ingin meruntuhkan dan memecah belah Indonesia,” tandasnya. 

Dia mengemukakan, pergerakan kelompok radikal kini tidak secara terang-terangan. Mereka bisa  melalui jalur politik, media atau pemberitaan bersifat mengadu domba dengan memutar balikkan fakta.

“Banyak berita hoax (bohong). Apalagi sekarang ada kelompok yang memanfaatkan atau mengatasnamakan agama. Kemudian mengatasnamakan kelompok suku, itu sebenarnya tidak boleh,” imbuhnya.

Dandim mengingatkan, bahwa banyak pihak dari negara-negara lain menginginkan Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu potensi ancaman dilihat dari banyaknya penambahan pasukan Amerika tidak hanya di Darwin, tetapi di sekitar kepulauan Natuna, Filipina, hingga Pulau Timur-Timur.

“Inilah yang perlu kita waspadai. Dan TNI sendiri sekarang sudah mulai mengorganisir kekuatan. Dalam arti melihat posisi mana yang menjadi titik rawan, sehingga disitu akan dibuat pangkalan baru,” pungkasnya. (Sevianto)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment