Usaha Bengkel Pinggir Jalan Akan di Tertibkan

Bagikan ke Google Plus
Salah Satu Bengkel Yang Berada di Perempatan Lampu Merah Bank Papua
SAPA (TIMIKA) – Dinas Tata Kota (Ditako) telah mengagendakan pelaksanaan penertiban bengkel yang ada di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan untuk bisa memberikan efek kepedulian terhadap kenyamanan lingkungan, bagi seluruh pemilik usaha yang dinilai menghalangi jalur kendaraan umum. Hal ini mengingat menjamurnya tempat usaha bengkel dan usaha lainnya yang memakan badan jalan di beberapa ruas jalan dalam wilayah kota timika. 

“Kami akan surati Satpol PP untuk bersama-sama menertibkan usaha-usaha yang terlalu bebas. Kan kalau bengkel itu antrian motor pelanggan itu bisa menghambat pengendara lain, karene terlalu makan ke badan jalan,”ujar Kadistako Mimika, Yohanis Batto ketika diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (23/5).

Dijelaskan, bengkel dilampuh merah jalan balibis dan Bank Papua merupakan salah satu bengkel yang sering menjadikan penyempitan jalur lalu lintas kendaraan, sebab ketika kendaraan ke arah Babusalam dan Yos Sudarso menunggu perintah lampu rambuh jalan, maka kendaraan lain yang akan belok kiri menuju katedral tiga raja akan berdesakan akibat jalur kiri pun dipadati dengan antrian motor dan mobil yang hendak melakukan perbaikan di bengkel tersebut.

Menurut Batto, posisi bengkel tersebut sangat berpengaruh buruk, sebab oli bekas dan baut-baut kecil sering  berceceran hingga ke badan jalan, ditambah lagi jika dipinggiran tepat di depan bengkel tersebut sering terjadi kerusakan.

“Di situ sangat tidak bagus untuk usaha bengkel, karena posisinya terlalu sempit. Nanti tetap kami tertibkan,”ungkapnya.

Diakui, jika mau menertibkan terkait dengan penataan kota, di Timika sangat menjamur dengan adanya para pedagang makanan, buah-buahan serta  usaha lain yang tidak beraturan. Kata dia, alasan yang kerap kali dipergunakan oleh para pengusaha ketika adanya pemeriksaan adalah kata sementara.

“kata sementara itu selalu jadi alasan. Padahal sementara tetapi akan berbulan-bulan dan akhirnya bertahun-tahun,”ungkapnya.

sementara untuk di depan Masjid Babusalam, banyak pedagan sering meminta ijin ketika bulan puasa atau lebaranuntuk menjual bahan makanan khas, akan tetapi hanya diijinkan selama bulan tersebut, sedangkan selanjutnya tidak diperbolehkan.

Meski demikian menurut dia, dalam menjalankan tugas penertiban pengaturan pedagang dan tempat usaha, pihaknya tidak bisa berjalan sendiri namun harus bersamaan dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) sebab Disperindag yang lebih berwewenang dalam men gatur tempat untuk berdagang, sedangkan Distako  hanya untuk penataan.

“Kita tidak bisa jalan sendiri tapi harus berkoordinasi dengan Disperindag terdahulu,”tuturnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment