APG Gelar Buka Puasa Bersama

Bagikan ke Google Plus
Ustadz Setiyono saat menyampaikan tausiyah di buka puasa bersama APG
SAPA (TIMIKA) - Keluarga besar Amiete Papua Group (APG)  menggelar buka puasa bersama dengan seluruh karyawan yang tersebar dibeberapa perusahaan,  salah satunya SKH Salam Papua.

Buka puasa bersama yang menghadirkan Ustad Setiyono,  dan dihadiri jajaran direksi APG, berlangsung di Waanal Coffee and Resto,  Jalan Poros SP 3, Kamis (21/6).

Ustad Setiyono dalam tausiyahnya lebih menekankan kepada perayaan Hari Raya Idul Fitri. Dimana pada Hari Raya Idul Fitri, maka kita kembali ke fitrah atau seperti bayi. Dalam arti, bayi ini semua dilakukan secara alami tanpa adanya unsur paksaan. Karenanya, di Hari Raya Idul Fitri nanti kita berharap menjadi lebih berkualitas dan independen, dan kebenaran dan kenyakinan tidak bisa dibeli oleh orang lain.

“Jadi katakan yang benar adalah benar, dan yang bathil adalah bathil,”katanya.

Selain itu, kata Ustad Setiyono, Idul Fitri kita kembali ke manusia. Hal ini dimaksudkan adalah, dalam hidup ini wujud kita manusia, tetapi mentalitas kita tidak. Dalam arti, terkadang sebagai manusia diberi penjelasan tidak menghiraukan, bahkan melakukan semaunya sendiri. Padahal manusia diberikan hikmah yang harus disyukri. Karena itu, hikmah di Idul Fitri nanti kita harapkan menjadi manusia lebih baik, yang memiliki rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

“Tidak ada ajaran apapun yang mengajarkan mendolimi orang lain. Dan itu harus dihindari, agar tidak terjadi perpecahan disana sini. Selain itu, kita lebih bertanggungjawab terhadap amanah yang diberikan,”tuturnya.

Kata dia, manusia itu makhluk yang baik, sehingga jangan mau menjadi manusia yang tidak sempurna. Karenanya, dalam kebersamaan ini bisa menjadi modal dalam hidup dan menjalankan tugas. Serta bisa menghindari hal-hal yang menimbulkan perpecahan. Sehingga, apabila menjadi pengikut, maka harus menjadi yang baik, bukan ikut-ikutan.

“Jangan menghabiskan energi, yang bisa menimbulkan perpecahan antara kita semua. Tapi marilah kita memandang hal yang besar, maka perbedaan yang kecil tidak menjadi besar. Dalam arti, kita harus berlapang dada terhadap semua masalah yang ada,”ungkapnya.(Red)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment