Dari SH Ke SH Susah Hidup Ke Sarjana Hukum

Bagikan ke Google Plus
Valentinus Uluhaijanan
SAPA (TIMIKA) – Setiap orang memiliki perjalanan hidup tersendiri yang sudah diatur oleh Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa menebaknya. 

Intinya hanya Tuhan yang tahu. Setiap kita hanya bisa menghadapi dan menjalaninya. Cara kita menghadapi dan menjalaninya sangat menentukan apa yang terjadi dalam hidup kita. Apakah berubah dari hidup susah ke hidup senang. Atau sebaliknya, dari hidup senang ke hidup susah.

Sepenggal kisah hidup Valentinus Uluhaijanan alias Valen Kay (VK) sangat layak menjadi inspirasi bagi siapa saja dalam menghadapi dan menjalani perjalanan hidupnya. Lebih dari sebagian usia hidupnya dijalani dengan amat sangat susah payah. Bahkan layak dikategorikan kelam dan gelap. Dan kisah hidup VK yang kelam dan gelap itu sudah menjadi rahasia umum masyarakat Mimika, terlebih dikalangan warga Suku Kei.

“Saya lebih dikenal sebagai penjahat, walau banyak yang saya kerjakan itu sesungguhnya membela orang yang hak-haknya dirampas, terlebih dalam menyelesaikan masalah tanah,” kata VK ketika diwawancara Salam Papua di Restoran Cenderawasih 66 Timika, Jumat (2/6).

Kisah perjalanan hidup VK yang kelam dan gelap itu sesungguhnya juga memilukan. Terlahir dari keluarga sederhana  di Kampung Bombai Maluku Tenggara 16 Februari 1975. Membentuk pencerahan hidup dengan mengenyam pendidikan di  SMP St. Dominikus Savio, Elat dan melanjutkan STM  Langgur, Tual, Maluku Tenggara. Lalu, 1994 merantau ke Sorong. 

“Di Sorong saya masuk tes Tamtama Brimob. Dari 300 orang lebih hanya 23 yang diterima dan tinggal berangkat Pusdik di Watu Kosek. Jadi, Jayapura itu rayon I, Biak rayon II dan Rayon III di Sorong, semua kumpul di Sorong. Saya lulusan terbaik, namun apa yang terjadi, saya diberhentikan waktu itu, karena ada laporan yang saya sama sekali tidak mengerti.  Tuhan bilang, Valen harus hidup di lumpur. Lalu, saya ke Jayapura menjadi kuli bangunan. Saya merenung perjalanan itu sakit sekali rasanya. Lalu, kembali ke Ambon, tepatnya di Seram. Lantas, saya mendengar di Timika ada bisnis kayu gaharu. Saya ke Timika Agustus 1998. Jadi dari 1998 sampai 2003, saya hidup di tenda dalam hutan belantara. Setelah itu saya sempat berpikir beralih mendulang emas. Namun saya merasa tidak cocok,” cerita VK.

“Percaya atau tidak, saya kemudian menjadi kuli politik salah satu partai. Saya membawa parang panjang, membela orang menjadi bupati dan menjadi anggota dewan. Saya bela orang sampai di pengadilan, sampai bakar-bakar mobil. Saya tidak ditangkap, karena saya membela orang banyak. Orang bilang saya jahat. Tetapi saya tidak penah menipu,” kata VK.

VK mengaku semua pekerjaan kasar dan yang dianggap rendah dan hina sudah ia jalani. Ia tekuni tanpa rasa malu dan rendah diri karena ia percaya ada rencana besar dibalik itu. Bahkan pernah merasakan pedih dan perihnya hidup di penjara selama tujuh setengah bulan karena kasus perkelahian. Dirinya duluan di pukul dan ia membalasnya. Keduanya kemudian diproses hukum dan sama-sama divonis tujuh setengah bulan penjara.

Ditanya tentang kisah hidup yang tidak akan dilupakan saat dipenjara, VK mengatakan, itu masa yang sangat berat, karena waktu itu istrinya sedang hamil tua. Dibalik itu, VK bersyukur karena bisa hidup lebih dekat dengan Tuhan dibalik terali besi. VK bahkan mengaku kalau tidak dipenjara mungkin saja ia sudah meninggal dunia karena kerasnya kehidupannya saat itu.

“Merasakan hidup tujuh setengah bulan dalam penjara sangat merubah hidup saya menjadi lebih baik. Hari-hari saya jalani dengan membaca Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Wahyu. Saya juga membaca undang-undang dan peraturan, terlebih yang terkait dengan masalah hukum dan membuat saya tahu lebih banyak,” tutur VK.

Setelah keluar dari penjara, sesungguhnya VK belum tahu bagaimana warna hidupnya ke depan. Namun VK percaya semua hidup susah yang sudah dan sedang dijalaninya merupakan ujian dari Tuhan. Bahkan sesungguhnya Tuhan sedang menempa hidupnya dan bila ia mampu melewatinya maka Tuhan akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik.

“Saya merefleksikan semua itu dan membuat komitmen untuk berubah. Dan saya berjanji sebelum saya memasuki usia 50 tahun, saya harus merasakan naik mobil mewah dari hasil keringat sendiri. Puji Tuhan! Di usia 43 tahun saya diberkati Tuhan lewat kerja sama dengan Pak Bram (Bram Raweyai-Red). Saya bisa membeli mobil mewah dan sudah memiliki tanah sekian hektare dengan sertifikat yang jelas,” katanya bangga.

Ditanya tentang kunci keberhasilan hidupnya saat ini, VK mengatakan semua itu berkat dari Tuhan yang hanya mungkin didapat sekali dalam hidupnya. “Bagi saya, bila saya bekerja jujur, loyal, dedikasi tinggi, bekerja keras, melayani orang lain dengan membela orang yang hak-haknya dirampas, maka Tuhan pasti memberkati. Itulah motto hidup yang saya jalani setelah keluar dari penjara dan yang hasilnya saya rasakan saat ini,” ujar VK.

Setelah bekerjasama dengan Bram, VK kemudian memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) “Dharma Andhigha”  Bogor dengan sistim kuliah jarak jauh. Dan pada 22 Mei 2017 diwisuda dan berhak menggunakan title Sarjana Hukum (SH).

“Saya tidak mampu menahan air mata ketika saya diwisuda, menerima Ijazah dan mendapat gelar sarjana hukum dari STIH “Dharma Andhigha” karena saya sudah merasakan susahnya hidup sebagai kuli bangunan, pembantu rumah tangga dengan  bekerja mencuci piring, menyapu dan pel kamar tidur, hidup di bawah tenda dalam hutan belantara hingga merasakan pengapnya ruangan dalam terali besi. Bisa meraih gerlar Sarjana Hukum itu karunia yang sangat berharga dari Tuhan,”  kata VK dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengaku bersyukur, apabila dulu diterima menjadi anggota Brimob mungkin hidupnya tidak seberuntung saat ini. “Saya baru sadar! Kalau dulu saya menjadi anggota Brimob tidak mungkin hidup seperti ini, disegani banyak orang dan memiliki harta yang cukup. Saya bersyukur Tuhan mempertemukan saya dengan orang yang tepat dan menuntun saya hingga seperti ini,” ujar VK.

Kisah perjalanan hidup VK dari susahnya hidup (SH) sampai bisa meraih gelar sarjana hukum (SH) semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja bahwa sesungguhnya susahnya hidup bisa dirubah menjadi senangnya hidup, bila mau bertobat, menyerahkan hidup kepada Tuhan dan berkomitmen menjalani hidup yang lebih baik dengan utamakan kejujuran, loyal, bekerja keras dan melayani orang lain.

“Tuhan telah merubah hidup saya. Dulu saya membela orang tanpa ijasah SH dan orang menyebut saya markus alias makelar kasus, sekarang tidak lagi. Sekarang saya sudah lebih paham hukum dan saya tetap akan bekerja melayani orang dengan membela orang yang hak-haknya dirampas. Saya sudah memilih jalan hidup saya ke depan sebagai advokat (pengacara hukum), jika Tuhan berkenan tiga bulan ke depan saya akan berangkat untuk mengikuti tes menjadi advokat di Jakarta,” kata VK. (Red)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment