Diduga Terlantarkan Tahanan Sakit, Satlantas Dilaporkan ke Propam

Bagikan Bagikan

SAPA (TIMIKA) - Seorang tahanan polisi tersangka kecelakaan lalu lintas bernama Rizal Dora yang mengalami patah tulang pada lengan, kini menahan sakit di ruang tahanan Polres Mimika. Pihak kepolisian dalam hal ini satuan lalu lintas (Satlantas) diduga menelantarkan tersangka.

Max Werluken mewakili keluarga tersangka, Rabu (21/6) sekitar pukul 11.00 WIT kemarin melaporkan buruknya kinerja Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Mimika bersama jajarannya ke Propam Polres Mimika.  

“Saya mewakili tersangka baru selesai laporkan Kasat Lantas bersama jajarannya ke Propam yang menahan tersangka namun tidak memberikan pelayanan yang maksimal dan seakan di terlantarkan,”  kata Max kepada wartawan, di Polres Mimika.  

Max menegaskan  sangat disayangkan kenapa korban patah tulang tidak dirawat namun ditahan dan saat diminta keluarga untuk berobat malah tidak di ijinkan.  

“Memang ada keluarga yang pergi minta untuk berobat namun tidak diberikan. Padahal dia (Rizal) tangannya patah,” kata Max. 

Max menjelaskan,  terkait kasus  kecelakaan tersebut sudah ada penyelesaian kekeluargaan setelah keluarga tersangka bertemu dengan keluarga korban yang difasilitasi oleh kepolisian dan pada saat itu ada pernyataan dari pihak keluarga korban bahwa kasus tersebut telah dicabut laporannya dan diselesaikan secara kekeluargaan. Keluarga tersangka juga sudah menganti kerugian kecelakaan termasuk materi dan kendaraan sepeda motor tersebut.  

Namun kepolisian mengatakan bahwa proses hukum tetap dilanjutkan dan berkas kasus tersebut sudah diserahkan ke kejaksaan.  

“Oke, kalau proses hukum kami hargai, tapi polisi tidak boleh menelantarkan tersangka yang dalam keadaan sakit di kurung dalam ruang tahanan begitu, apakah tidak ada peri kemanusiaan? Tersangka tidak bisa di biarkan seperti itu,” ujar Max.  

Menurut Max, dirinya melaporkan Kasat Lantas bersama jajarannya itu agar pelayanan lalu lintas kepada masyarakat  harus lebih baik lagi ke depan. Ini bukan untuk menjatuhkan atau mencari kesalahan namun bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, termasuk yang berada dalam tahanan karena kasus laka lantas.  

Max mempertanyakan, kasus laka lantas dengan korban meninggal dunia saja bisa diselesaikan. Ini sudah ada kesepakatan, malah ditelantarkan. 
“Kalau polisi tidak bisa berobat, silakan hubungi keluarga, beritahu keluarga jadi jaminan kalau dia melarikan diri. Bukan didiamkan,  katanya polisi pelindung, penganyom, mana?” tanya Max.

Sementara Kasatlantas Polres Mimika Samuel Dominggus Tatiratu SIK mengatakan, bahwa kasus tersebut telah dilaporkan ke Kapolres dan Wakapolres.

Ia mengatakan ketika LP itu dibuat, hanya 7 hari, kemudian diserahkan ke Jaksa. Pihak kepolisian sudah mencoba mediasi supaya penyelesaian tidak sampai ke ranah hukum. Tetapi kasus ini tidak semerta-merta tidak dibawah sampai ke ranah hukum ini merupakan dekresi kepolisian dimana ancaman hukuman diatas lima tahun.

"Pengendara atas nama Dora  membawa kendaraan dalam keadaan mabuk total dan lalai dalam membawa kendaraan, mengakibatkan tabrakan sehingga Suster mengalami patah, sehingga dia harus ditahan," kata Tatiratu.

Dikatakannya bahwa perdamaian tersebut  batas 7 hari, dan P16 penunjukan jaksa sudah ada. Sehingga perkara ini tetap bergulir ke meja hijau, dan hal ini telah disampaikan kepada keluarga korban dan keluarga menerima dan harus diproses hukum.

"Kita tahan orang harus tahu sakitnya apa, dari hasil rongseng bahwa pelaku ini mengalami luka patah pada bahu sebelah kanan sehingga permintaan keluarga korban untuk dilakukan pengguhan penahanan. Untuk penanguhan penahanan juga ada tiga poin, apabila itu dipenuhi maka dilakukan penanguhan penahanan," katanya.

Menurutnya, yang bersangkutan ternyata bisa jalan, makan seperti biasa, hanya perintah Kapolres agar dibantu lakukan penanguhan penahanan sehingga dilakukanlah penanguhan. Ini kan ada penanguhan penahanan 20 hari dari jaksa sudah ada, sekarang siapa yang mau disalahkan. 

"Kalau pelaku sakit kenapa mengajukan penanguhan penahanan terlambat, bukan kita yang mengatur dorang sendiri yang meminta. Betul bahu sebelah kanan patah tapi kan jauh dari kematian, tetapi tidak disampaikan. Kalau dia sakit itu bukan tanggung jawab polisi. Kita tahan orang itu memang masuk tidak boleh sakit dan sakitnya seperti apa," kata Tatiratu. (Markus Rahalus)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment