Elisa Kambu : Potret “Leitstar” Unik Di Mata Anak-Anak

Bagikan Bagikan
Tampak Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos didampingi Kepala BPKAD Asmat, H.F. Sinurat, S.STP sedang membagi kue kepada anak-anak
“Bapa bupati saya lagi. Saya belum disuap,” teriak seorang bocah diantara kerumunan anak-anak usia empat lima tahun meminta Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos menyuapkan kue lontar ke dalam mulutnya usai Pemda Asmat berbuka puasa bersama 5.000 lebih warga Asmat, di Pasar Dolog Asmat, Sabtu (10/6) malam.

Peristiwa unik yang jarang dilakukan para pejabat. Apa lagi, pejabat sekelas bupati. Anak-anak tidak sekedar disapa dan dilayani. Mereka merasakan sentuhan tangan pejabat menyuapkan kue ke dalam mulut mereka. Anak-anak itu tidak segan mengorek tangan seorang bupati meminta disuapkan. “Bapa Bupati saya lagi. Saya belum disuap,” teriak seorang bocah sambil mengorek tangan Bupati Asmat. “Adoh…, engkau belum dapat. 

Mari…!,” sahutnya seraya menyuapkan bocah itu dengan sendok berisi kue lontar.

Peristiwa itu menghidangkan gelak tawa para pejabat dan ibu-ibu  yang melayani khusus para pejabat berbuka puasa bersama rakyat. Meski, ibu-ibu dari anak-anak itu berteriak meminta stop. “Anak-anak stop sudah. Itu pa bupati. Hei… sini! Stop sudah!” disahut pa Kambu: “Jangan! Tidak apa apa. Saya yang minta mereka.”

Adakah para pejabat bisa meniru dan bisa melakukan hal yang sama di tanah ini?” Sisi unik dari Bupati Asmat menyapa rakyat dan anak-anak dengan polos. Ekspresi dan bahasa tubuhnya memancarkan empati yang sangat dalam dan menginspirasi banyak pihak, terutama para pejabat. 

Bila anak-anak itu adalah Juliette, maka saat itu Elisa Kambu adalah sang Romeo. Kambu didampingi Kepala Badan Keuangan dan Pengelolaan Aset Daerah, HF Sinurat, S.STP serta ajudannya, Zulkarnain melayani penuh cinta. Kambu  mengekspresikan bagaimana seorang pemimpin daerah menjadi “Leitstar”, menjadi bintang penunjuk atau penuntun bagi banyak orang, menjadi teladan bukan hanya berbasa-basi dengan mulut dan pikiran, bukan hanya dengan kata-kata tetapi alam perbuatan dan alam tindakan.

Malam itu, ibu-ibu pejabat terlihat gembira  dan para pejabatpun merasakan hal yang sama. Kue-kue sisa belum habis.  Bupati pun masih sibuk membagikan kue-kue itu kepada anak-anak. Suasana itu membuat ibu-ibu terhibur dan tertawa terpingkal-pingkal, meski terlihat lelah.  Para pejabat pun merasakan suasana  yang sama. Walau, mereka ingin pulang cepat. Perasaan tidak enak. Pulang tanpa pamit dengan bupati, itu tidak mungkin, terpaksa menunggu. 

Kambu menjawab teka-teki ibu-ibu pejabat dan para pejabat. Ia sibuk memenangkan hati anak-anak dan memperlihatkan bagaimana cara melayani anak-anak dan rakyat tanpa pamrih.  Ia mempertontonkan pendekatan yang tidak ada celah membuat jarak antara rakyat dan pejabat, apa lagi, bupati. 

Memang, makna pejabat adalah pelayan. Pelayan yang membuat semua orang bersukacita. Pejabat yang menjadikan diri berguna dan bermanfaat bagi orang lain. 

Dari rekaman media ini,  tatapan mata anak-anak itu memancarkan mata kegembiraan. Setiap ada Kambu dalam pesta bersama warga, anak-anak sudah mengetahui kalau dipenghujung pesta, Kambu melayani mereka. Mereka berkerumun dan berteriak meminta jatah pelayanan. Bahasa Kambu pada anak-anak adalah bahasa cinta, bahasa kasih sayang dan bahasa harapan. Anak-anak selalu berteriak dan berlarian sambil memanggil namanya atau menyebut bapa. 

“Bapa, saya tadi belum dapat,” teriak seorang bocah sambil merapat dan disahuti Kambu: “Ah, betul!” sahutnya sambil merogoh saku celana dan memberikan sesuatu kepada anak yang berteriak itu.

Media ini teringat dengan pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, JF Kennedy mengatakan, “Jangan tanya statistik betapa populernya saya, tapi lihatlah apakah anak-anak meneriakan namaku. Karena dalam teriakan anak-anak ada bahasa ketulusan.”  Dan Kambu adalah ketulusan itu sendiri. 

Seperti kata Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,…. Bunga mawar, sekalipun tidak bernama mawar, ia akan tetap mewangi.” Pelayanan yang tulus tidak akan pernah mendapat hambatan dan tantangan melainkan berkat mengalir sepanjang hari. (Fidelis Sergius Jeminta)

  

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment