Kabupaten Mimika Masuk Endemik Filiarsis

Bagikan ke Google Plus
dr Helena Uli Arta
SAPA (TIMIKA) – Kementerian Kesehatan memasukkan Kabupaten Mimika merupakan daerah endemik filiarsis (kaki gajah,red). Hal ini dikarenakan, pada 2006 lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Papua telah melalukan pemeriksaan pada masyarakat di daerah Iwaka, dan ditemukan 1,45 persen penduduk terinfeksi filiarsis.

“Dinkes Papua melakukan pemeriksaan pada darah jari kepada 1000 orang, dan ditemukan 1,45 persen anak cacing filaria. Dimana cacing filaria tersebut ditularkan oleh nyamuk anopeles, culex, dan lainnya,”demikian disampaikan Subdit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ), Ditjen P2P Kemenkes RI, dr Helena Uli Arta saat ditemui Wartawan di sela-sela pertemuan sosialisasi dan advokasi pemberian obat pencegahan massal filiarsis di Hotel Grand Tembaga, Kamis (8/6).

Kata dia, dari temuan 1,45 persen tersebut, maka berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Republik Indonesia, Nomor 94 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Filariasis, apabila besarnya lebih dari 1 persen, maka harus diberikan obat pencegahan selama lima tahun berturut-turut. Dan diharapkan 65 persen dari jumlah penduduk di daerah tersebut, harus minum obat. Khususnya pada usia 2-70 tahun, namun tidak sedang dalam keadaan hamil. 

“Pemberian obat tidak hanya diberikan begitu saja, tapi harus diamati dengan baik. Jangan sampai, di depan kita minum obat, tapi dibelakang tidak meminumnya. Kalau demikian, maka tidak akan menghasilkan manfaat yang baik,”jelasnya.

Ia mengatakan, dari kondisi tersebut, pihaknya melakukan sosialisasi dan pertemuan kepada semua pihak, mulai pemerintah daerah, dinas terkait, kepala puskesmas, dan kepala distrik. Hal ini dikarenakan, pada tahun lalu pemberian obat tersebut tidak memenuhi target. Karenanya di tahun ini, diharapkan bisa memenuhi target yang diinginkan.

“Setelah lima tahun, kami akan lakukan evaluasi terhadap darah penduduk. Dan kita akan lihat, apakah sudah turun atau belum,”ujarnya. 

Kata dr Helena, kalau sudah turun, maka kita melakukan transmission asessement survey (TAS) atau survey penilaian penularan terhadap anak kelas 1 dan 2. Dimana survey akan dilakukan terhadap 30 sekolah yang dilakukan secara random (acak,red), dengan jumlah 1500 anak, dan tidak boleh melebih batas ambang. Yang mana batas ambang di tahun lalu 16-20.

“Kalau dalam TAS tersebut ditemukan sebanyak 19 anak yang positif terinfeksi filiarsis, maka harus melanjutkan pengobatan lima tahun lagi,”terangnya. 

Ia menjelaskan, penyakit ini tidak mengakibatkan kematian, tetapi tidak kejadian luar biasa (KLB). Hal ini dikarenakan penyakit ini bersifat menahun bukan kronis. Jadi tidak mungkin, terjadi bapak kena dan yang lainnya kena atau penularan. Tetapi berdasarkan data World Health Organitation (WHO) atau organisasi kesehatan dunia, penyakit filiarsis ini penyebab kecacatan kedua setelah kusta.

“Jadi kita tidak mau masyarakat Mimika menderita filiarsis. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan stigma bagi penderitanya. Oleh sebab itu, kami akan terus melakukan pengawasan dan pendampingan,”ungkapnya.(Red)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment