P2MA PTP dan Tokoh Kei Siap Ciptakan Keamanan

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) – Pusat Pengendali Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MA PTP) wilayah Mee-Pago dan Lapago Mimika bersama tokoh masyarakat Mimika asal Kei, Valentinus Ulahayanan, SH alias Valen Kay (VK) dan Marcianus Tawurutubun,SE siap menciptakan keamanan dan kedamaian di Kota Timika. Siap menghentikan aksi-aksi yang mengganggu, meresahkan masyarakat dan tidak menjadi contoh yang baik bagi generasi penerus bangsa ini.

Salah satu kepala suku P2MA PTP, Marthen Omaleng yang juga Kepala Kampung Banti mengatakan, P2MA dibentuk dengan tujuan utama membuat Kota Timika secara khusus dan Kabupaten Mimika secara umum harus aman dan damai, tidak boleh ada konflik dalam bentuk apa pun. Semua orang yang tinggal di daerah ini, baik warga asli Papua dari tujuh suku dan juga non Papua atau pendatang perlu bersatu dan bersama menjaga keamanan dan kedamaian Timika.

Marthen mengatakan, salah satu perjuangan P2MA sekarang ini adalah menciptakan keamanan dan kedamaian Kota Timika dari gangguan yang dilakukan oleh Pusat terhadap produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berujung efesiensi karyawan melalui furlough dan berbuntut aksi mogok kerja yang dilakukan karyawan PTFI.

“Kami sudah ke Jakarta bertemu Menteri ESDM dan sejumlah pihak terkait, dan sudah mendapatkan hasil dimana PT Freeport sudah beroperasi normal kembali,” kata Marthen.

Menurut Marthen, sekarang ini yang masih mengganggu keamanan dan kedamaian Timika adalah aksi mogok dan demo karyawan. Juga aksi pemalangan jalan di depan Kantor Pengadilan Negeri Kota Timika setiap kali digelar sidang kasus penggelapan dana iuran anggota SPSI dengan tersangka Sudiro. “P2MA PTP sudah keluarkan pernyataan agar aksi mogok dan demo itu dihentikan. Pernyataan P2MA PTP ini juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat Mimika asal Kei. Karena itu pada kesempatan ini, saya mengajak tokoh masyarakat dan semua warga Kei di Timika untuk bersama dan bersatu dengan kami menjaga keamanan dan kedamaian Kota Timika, bekerjasama dengan Kapolres dan Dandim hilangkan konflik dan membangun daerah ini untuk lebih maju,” kata Marthen.

Kepala Suku Moni P2MA PTP, Ruben Kogobau mengatakan dirinya bangga dan berterima kasih, kepada tokoh masyarakat dan warga Timika asal Kei yang mau bersatu dengan kepala suku dan tokoh adat tujuh suku yang tergabung dalam P2MA PTP  menjaga keamanan dan kedamaian kota ini. “Sejarah membuktikan, sejak dahulu kala, warga dari Kei datang ke Mimika sebagai guru dan juga pemuka agama, untuk mendidik dan memperkenalkan agama kepada masyarakat  asli Papua. Masyarakat Kei beratus tahun lalu adalah pembawa terang bagi masyarakat asli Papua.

“P2MA PTP bersama warga Mimika dari Kei dan semua suku bangsa yang ada di Mimika harus menjaga PT Freeport agar beroperasi normal, supaya sendi-sendi kehidupan di daerah ini, baik itu pendidikan, kesehatan dan ekonomi bisa berjalan baik dan kita bisa menikmati hidup yang layak,” kata Ruben.
Ruben menegaskan, PUK SPSI Freeport dibawah pimpinan Sudiro telah mengganggu PTFI sejak tahun 2011 sampai sekarang tidak stop-stop. Kenapa bisa terjadi seperti ini? Ada apa dibalik itu? 

“Untuk mengatasi apa yang dilakukan Sudiro, maka tujuh kepala suku sudah ke Jakarta bertemu Menteri ESDM dan pihak terkait menyampaikan masalah tersebut. Lebih dari itu, semua suku bangsa di Mimika, baik itu suku asli atau oyame (pendatang-Red) harus bersatu mengambil langkah-langkah untuk menghentikan semua biang konflik di daerah ini,” kata Ruben.

“Orang asli Papua dan orang Kei adalah tuan tanah dan pribumi di Tanah Papua, kita adalah saudara, keluarga, kita harus bersatu dan bersama, membangun keamanan dan kedamaian di Timika, supaya Freeport tetap beroperasi secara normal, supaya kita bisa menikmati hidup yang baik. Kalau sekarang terganggu, hidup kita bersama anak istri akan susah, karena kita tidak mungkin pergi mencari pekerjaan di daerah lain,” tambah Ruben.

Ruben menegaskan, mulai 13 Juni 2017, P2MA PTP menegaskan bahwa SPSI sudah tidak sah di daerah ini, SPSI harus ditutup karena kehadirannya hanya membuat kekacauan di daerah ini. “Sudiro dan Aser Gobay merupakan provokator yang menimbulkan konflik di daerah ini, bahkan mengganggu operasi PT Freeport. Karena itu Sudiro dan Aser Gobay harus diberhentikan,” ujar Ruben.

Menurut Ruben, sebelumnya hanya tujuh suku yang berjuang, sekarang ditambah Suku Kei sebagai suku ke delapan. “Dan delapan suku ini sudah komitmen menjadi satu, bergandengan tangan, kita bekerjasama dengan bupati, Kapolres, Dandim menciptakan keamanan dan kedamaian di Mimika. Mulai tanggal 13 Juni, aksi mogok di Jalan Pendidikan dan demo harus dihentikan, juga tidak boleh ada lagi palang-palang jalan. Kalau masih ada, kita akan turun untuk buka secara paksa karena semua aksi itu sudah merugikan banyak orang,” kata Ruben.

Sekjen P2MA PTP Willem Songgonau mengatakan Sudiro dan Aser Gobay harus siap bertanggung jawab terhadap permasalahan yang terjadi pada ribuan karyawan yang dianggap mengundurkan diri sendiri oleh manajemen PT Freeport Indonesia. “Sekarang ini anak-anak karyawan tersebut yang sekolah di luar negeri, Jawa dan daerah lain di Indonesia sudah kembali ke Timika. Kalau Freeport tidak terima kembali ribuan karyawan tersebut, maka Sudiro dan Aser Gobay harus bertanggung jawab terhadap nasib karyawan tersebut. Silahkan bawa ke Jawa atau Paniai untuk masukan mereka ke perusahaan di sana. Jangan sampai tetap ada di Timika dan membuat kekacauan di daerah ini,” kata Willem.

Sementara tokoh masyarakat Mimika, Valen Kay (VK) menegaskan dirinya tidak punya kepentingan apa pun dengan Bupati Mimika dan PT Freeport Indonesia. “Tapi sebagai warga Mimika, saya perlu Timika ini aman, supaya pembangunan di daerah ini jalan, akses-akses jalan yang menghubungkan kampung-kampung di kota ini harus di bangun, sehingga kita bisa menikmati hasilnya. Kita bisa membuka usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup,” kata VK.

VK menegaskan pihaknya sangat mendukung dan siap bersama P2MA PTP menciptakan keamanan dan kedamaian di daerah ini. “Kamis sangat berterima kasih diterima sebagai suku ke delapan dan kami siap bersama P2MA PTP menciptakan keamanan dan kedamaian di daerah ini,” ujar VK.

Senada dengan VK, tokoh masyarakat Mimika asal Kei, Marcianus Tawurutubun, SE mengatakan, masyarakat Mimika asal Kei pada prinsipnya siap bersama kepala suku tujuh suku yang tergabung dalam P2MA PTP  mengamankan Mimika dari konflik yang sengaja diciptakan pihak-pihak tertentu. 

“Saya mohon supaya di bulan suci Ramadhan ini, kita harus saling menghormati, saling menghargai, kita jaga keutuhan kebhinekaan kita, berbeda-beda tapi kita ini satu. Saya mohon dengan hormat, siapa pun di kabupaten ini, jangan kotori bulan suci ini dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu, tindakan-tindakan yang membuat umat yang sedang puasa terganggu aktivitasnya, terganggu emosinya dan terganggu puasanya,” kata Marcianus. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Benar kata sang legenda rocker, Ahmad Albar: "Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah..."

    Sang Pahlawan rela berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga, memadamkan rasa egonya untuk memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat pekerja dari telapak kaki kapitalis, serta menggiring pekerja ke zona sejahtera.
    Sangat miris... Sang PEJUANG KESEJAHTERAAN di tuding provokator.

    Sebagai umat percaya kepada TUHAN pencipta alam semesta, apapun yang dirancangkan manusia untuk menghalangi suatu perjuangan mulia maka yakin dan percaya bahwa TUHAN tidak akan tinggal diam, Dia pasti campur tangan.
    Jika TUHAN dipihak kita, siapakah yang berani berdiri dihadapan-Nya...!?

    ReplyDelete