Stop Mogok dan Demo Karyawan Kembali Bekerja

Bagikan ke Google Plus

SAPA (TIMIKA) - Pusat Pengendali Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MA-PTP) wilayah Mee-Pago dan Lapago Mimika, melalui Ketua Suku Umum, Anis Natkime dengan tegas meminta karyawan yang saat ini mogok kerja dan rencananya hari ini akan melakukan aksi demo agar stop mogok dan demo karena justru akan merugikan diri sendiri dan menyusahkan keluarga.

“Itu memang hak karyawan, tapi aksi mogok yang selama ini dilakukan ternyata illegal karena dilaksanakan tidak sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan dan juga PKB. Karena aksi mogok tidak membuahkan hasil, sekarang mereka mau demo, sudah pasti demo itu akan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat Timika, karena itu saya minta agar distopkan, tidak boleh ada aksi-aksi mogok kerja dan demo-demo di Timika lagi,” tegas Anis kepada Salam Papua, Senin (5/6).

Sebagai sSalah satu pemilk hak ulayat lokasi tambang PT Freeport Indonesia, Anis mengajak seluruh karyawan yang saat ini masih melakukan aksi mogok untuk kembali bekerja, sebab manajemen PTFI telah melakukan panggilan untuk kembali bekerja.

“Untuk semua karyawan yang sedang lakukan mogok kerja, saya minta untuk kembali bekerja. Tapi kalau tidak mau kembali bekerja maka silahkan tinggalkan Timika, pulang ke kampung dan jangan buat aksi-aksi tambahan yang membuat daerah ini tidak aman,” kata Anis.

Secara khusus Anis berharap untuk para karyawan yang merupakan anak tujuh suku asli agar benar-benar berpikir dewasa. Menurut Anis, aksi mogok yang sekarang terjadi merupakan sesuatu yang ilegal dan tidak memiliki landasan yang kuat, karena itu PTFI telah memanggil kembali bekerja dan kalau tidak kembali bekerja maka dianggap mengundurkan diri sendiri.

"Jangan dengar pengaruh dari orang lain. Kalau masih mau bekerja silahkan naik dan melapor. Kalau masih mau mogok silahkan pulang kampung saja supaya tidak jadi penyebab masalah di Timika," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala suku Moni, Ruben Kobogau. Ruben mengatakan yang disampaikan Anis Natkime merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi semua karyawan yang saat ini sedang melakukan aksi mogok, sebab aksi mogok hanya mendatangkan kerugian bagi setiap individu.

Menurut Ruben, aksi mogok dilakukan tanpa alasan yang jelas dan tidak sah karena manajemen PTFI telah melakukan panggilan sebanyak tiga kali. 

Dengan demikian sangat lebih baik jika tidak harus memperpanjang aksi mogok dan harus sepakat dengan pihak manajemen.

"Manajemen ini sudah baik hati untuk panggil kembali, berarti manajemen punya hati nurani yang sangat baik kepada karyawannya. Lebih baik kembali kerja dan stop bikin gerakan tambahan,"ujarnya.

Sedangkan Wilson Zonggonao mengakui, P2MA sangat berkomitmen untuk bersama-sama aparat penegak hukum dalam menjaga keamanan di wilayah Timika. Wilson menilai, adanya perpanjangan aksi mogok hanya membuat perpanjangan persoalan di tanah Timika.  Dikatakan, persoalan yang kini terjadi adalah masalah interen antara SPSI dan PTFI, sehingga dengan demikian akan lebih bagus untuk mencari refrensi hukum yang baik supaya bisa mengetahui baik dan buruknya yang sedang terjadi.

"Karyawan yang lakukan mogok itu dasarnya apa?. Kita harus mengerti jalur hukum supaya kita tahu apa yang kita lakukan. Kami siap mendukung pihak keamanan dalam mengamankan situasi di Timika," ujar Wilson.

Diakui Wilson, dari pada melakukan aksi mogok dan demo, alangkah lebih baik jika mencari solusi agar bisa kembali duduk bersama untuk berdiskusi sehingga menemukan jalan penyelesaian. Aksi mogok dan demo hanya menghambat aktivitas pemerintah dan masyarakat umum di Timika.

Menurut Wilson, aksi demo bisa saja dilakukan namun pada waktu-waktu tertentu serta sesuai aturan. Juga tidak menimbulkan sesuatu yang terkesan menakutkan oleh adanya arogansi dan intimidasi.

Dirinya menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi bersama seluruh lembaga adat agar bisa menfgmbil bagian dalam membantu aparat kepolisian dan penegak hukum lainnya.

"Apa salahnya kita ikuti aturan dari manajemen. Lagi pula manajemen dari dulu tidak pernah lakukan PHK dan yang lainnya kalau tidak ada persoalan seperti yang kemarin terjadi. Ini hanya karena persoalan dengan aturan Negara saja," tuturnya.

Sementara perwakilan kaum intelektual, Maroni Natkime mengatakan, khusus karyawan tujuh suku yang saat ini masih tergabung dalam aksi mogok agar bisa menyayangi istri dan Anak-anak dengan cara kembali bekerja.

Diakui Maroni, tanggungjawab penuh dalam keluarga adalah seorang suami, akan tetapi jika seorang suami yang nota bene sebagai tulang punggung keluarga harus tetap mogok maka nafkah keluarga akan ikut mogok.

"Kasihan anak dan istri kalau kita sebagai suami mogok. Karena bukan tidak mungkin kalau kita mogok terus maka perusahaan akan memogokkan kita selama-lamanya,"ungkap Maroni.

Maroni menambahkan, jika mencintai keluarga itu berarti dirinya tidak mempertahankan ego dan tidak terpengaruh dengan adanya ajakan-ajakan yang sama sekali tidak menguntungkan.

"Kita ini hidup dari hasil kerja kita di PTFI, jadi kalau kita melanggar dan tetap pada ego kita, berarti resikonya kita akan tanggung. Saya pikir lebih baik kita kembali bekerja saja, supaya bisa bahagiakan anak, istri dan keluarga kita semuanya," ujarnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus

0 komentar:

Post a Comment