Untuk Apa Mogok dan Demo Lebih Baik Kembali Bekerja

Bagikan Bagikan
Elena Beanal
SAPA (TIMIKA) - Tokoh Perempuan asli Amungme Elena Beanal dan Sekertaris Eksekutif  Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (SE LPMAK), Abraham Timang meminta seluruh karyawan agar menghentikan aksi mogok dan demo. Karyawan diimbau kembali bekerja selagi masih diberikan kesempatan oleh Management PT Freeport Indonesia (PTFI) demi menghidupi keluarga tercinta.

Elena meminta SPSI yang marak melakukan aksi di Pengadilan Negeri maupun aksi mogok kerja dan demo damai terhadap manajemen PTFI, agar menghargai dan menghormati pemilik hak ulayat dalam hal ini masyarakat asli Mimika yaitu Amungme dan Kamoro. 

"Saya minta mereka menghargai kami pemilik tanah Amungsa. Jangan terus melakukan demo yang sebenarnya sangat menggangu. Untuk apa demo, untuk apa mogok kerja. Lebih baik kembali bekerja, untuk bisa menghidupi keluarga," ungkap Elena kepada Salam Papua di Kantor LPMAK Jalan Yos Sudarso, Rabu (7/6). 

Elena menegaskan  sebenarnya demo itu untuk apa, apalagi mogok kerja. Perusahaan PTFI kan sudah kasih kesempatan dengan memanggil untuk kembali bekerja, tapi karyawan sendiri yang menolak. Sehingga untuk apa demo dan mogok lagi. 

"Kasihan anak dan isteri. Biaya pendidikan anak harus dipikirkan, biaya hidup juga harus dipikirkan kembali. Karena mogok dan demo itu tidak ada untungnya, mau dapat apa dari mogok dan demo," Tanya Elena. 

Lanjut Elena, seharusnya karyawan yang mogok ini tetap kerja dan bersyukur. Karena banyak orang yang melamar dan ingin kerja di Freeport tapi belum diberikan kesempatan untuk bekerja, meskipun ijasah S2. Karena itu harus pikirkan itu bukan demo terus. 

"Bapak-bapak kasihan isteri dan anak. Jadi jangan lagi mogok tapi mari kembali bekerja, karena perusahaan tidak mungkin bayar gaji kalau tidak bekerja. Perusahaan tidak mau rugi, jadi tidak bekerja pastinya tidak digaji. Kalau tidak digaji maka anak isteri mau makan bagaimana, berobat bagaimana, sekolah bagaimana," kata Elena. 

Elena menambahkan, aksi yang dilakukan selama ini sebenarnya kurang bagus. Apalagi mengajak anak dan isteri.  "Di Timika, masih banyak pelamar untuk bekerja di PTFI. Jadi bagi yang mogok kasih keputusan apakah masih mau bekerja atau mau istirahat. Dengan begitu warga yang mau kerja bisa mendapatkan kesempatan,” ujar Elena.

Abraham Timang
Secara terpisah, saat dihubungi wartawan via telpon, Rabu (7/6),  SE LPMAK, Abraham Timang meminta agar karyawan tidak ikut-ikutan berdemo apabila aksi demo yang dilakukan tidak mendapat hasil positif.

Abraham menegaskan, apabila oleh perusahaan dianggap sudah mengundurkan diri sendiri, bagaimana langkah selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, biaya pendidikan dan lain-lain. Sebagai manusia perlu untuk mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, sebab banyak orang yang mencari pekerjaan, namun belum mendapatkan pekerjaan. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja dan mendapat penghasilan yang layak, hal tersebut yang perlu direnungkan baik-baik oleh karyawan.

"Perusahaan sudah memberikan kesempatan kepada karyawan untuk kembali bekerja, dan karyawan harus kembali bekerja untuk memenuhi kepentingan hidup keluarga. Tidak harus ikut-ikutan demo," jelasnya.

Seperti diketahui, hingga saat ini sudah lebih dari 3.000 karyawan yang terlibat aksi mogok kerja karyawan SPSI, dianggap mengundurkan diri sendiri karena lima hari berturut-turut tidak masuk kerja dan juga tidak mengindahkan panggilan kembali bekerja yang dilakukan management PTFI. (Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment