Allo Rafra, Pahlawan di Jalan Sunyi

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratif Pilihan Salam Papua Menyambut HUT RI




PAHLAWAN di Jalan Sunyi. Itu sebuah topik yang paling tepat disematkan pada tokoh inspiratif yang satu ini. Dia salah satu sosok dari sejumlah tokoh inspiratif dari sekian tokoh pilihan pertama Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua yang diperkenalkan kepada khalayak di Mimika dalam rangka menyambut HUT RI ke 72 di Kabupaten Mimika.  Penampilannya sangat sederhana dan hemat berbicara. Dia sangat memelihara etika sopan santun dalam berdialog dan merawat harta terpendam yang tidak dimiliki tokoh yang lain. Tetapi, media ini berhasil mewawancarai dan bersedia berbagi sebagian dari harta kekayaan dalam dirinya yang sangat inspiratif, bahkan bisa menginspirasi banyak pihak. Untuk mengetahui siapa sesungguhnya tokoh yang satu ini, ikuti petikan dialog Salam Papua dengan pasangan hidup dari Christa Elseria Simatupang, SH ini.

Rute perjalanan hidup tokoh yang lahir di sebuah dusun di Fak-Fak, tepatnya, di Kampung Mamur, Kabupaten Fak-Fak, 19 Desember 1948 ini buah kasih dari pasangan seorang guru perintis asal Maluku Tenggara, Kepulauan Kei, Casianus Yosef Rafra dan Yuliana Maria Rahakbau. Kedua orang tuanya membaptisnya dengan nama lengkap Athanasius Allo Rafra. Menurut ceritera ayah dan ibunya, tokoh kita ini lahir ditolong seorang mama tua asli Kampung Mamur. Dan ayahnya tiba di Fak-Fak, dua tahun sesudah Indonesia merdeka 1945. Itu berarti Papua kala itu masih berada dalam genggaman atau jajahan Belanda. Hidup di tempat yang sunyi dalam segala keterbatasn.

“Yah, kata orang tua saya. Dia tiba di Fak-Fak bersama mama saya 1947 dan mengajar di Kampung Piahar, Fak-Fak sebelum dipindahkan  di kampung yang sangat  ja..uh sekali, dari pusat Ibu Kota Kabupaten Fak-Fak. Pada saat bapak pindah itu, mama saya sedang hamil saya. Dari Piahar ke Kampung Mamur di mana kampung saya lahir itu berjalan tiga hari tiga malam. Di Mamur itulah saya lahir dan besar hingga menikmati sekolah bersama teman-teman asli Fak-Fak, di Kampung Mamur. Kami sekolah belum mengenal buku tulis. Kami menggunakan batu kalam. Tapi anehnya! Kami bisa mengingat semua apa yang guru ajarkan,” tuturnya bangga mengenang masa kecil kepada media ini ketika diundang ke Redaksi SKH Salam Papua, Minggu (30/7) kemarin.

Allo panggilan akrab Athanasius Allo Rafra, ayah tiga anak yang sudah rata-rata mengenyam pendidikan S2 dan  hidup dalam kondisi ekonomi yang cukup mapan, Bintang Yuliana Lestari Rafra, SE,MM, Yudha Casianus Rafra, ST, M.Si, dan dr. Maria Pentania Rafra, MARS ini mengaku semangat hidup sederhana, pantang menyerah dengan keadaan, setia menjalani tugas dan tanggung jawab kepada masyarakat kecil mengalir dari semangat hidup sang ayah.

 “Saya warisi hidup yang jujur, berani, tegas dalam mengambil keputusan dan setia terhadap pelayanan kepada orang kecil itu diwarisi dari ayah saya. Saya selalu gelisah kalau tugas dan pelayanan kepada masyarakat terabaikan. Saya pernah menyesal sekali. Ketika saya menjadi penjabat Bupati Mimika. Masalah perang saya bisa mendamaikan antar suku. Bisa ke kampung-kampung melihat langsung masalah dan mendengar keluh kesah masyarakat, seperti di Potowayburu, Jila, Tsinga, dan beberapa kampung lainnya. Tapi saya berencana sebelum selesai masa penjabat Bupati Mimika. Saya mau mendengar seluruh keluh kesah guru-guru. Tapi, itu tidak terlaksana. Jadi saya masih berutang terhadap guru-guru di balik gunung dan pesisir,” tuturnya polos.
Ketika media ini menyentil soal semangat anak-anak pada masanya bersemangat menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika sesudah Papua berintegrasi dengan Indonesia 1963 dan Pepera 1969 serta fenomena menyambut HUT RI yang ke 72, 17 Agustus 2017 mendatang, Allo sedikit terperanjat dengan pertanyaan itu sambil menarik nafas panjang. Allo mengisahkan, makna dibalik lagu itu sangat dalam. Lagu itu mengandung spirit dan tanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa.

“Coba renungkan kata demi kata dari lagu kebangsaan kita, “Bangun badan dan jiwanya.” Saya sedih kalau saya lalai membangun badan dan jiwa masyarakat yang dilayani. Apa lagi kalau saya mengingat kisah ayah saya mengajar di kampung pedalaman Fak-Fak, jauh dari keramaian. Mereka mengenal kota Fak-Fak itu hanya lima tahun sekali, itu pun kalau diminta turun. Maka, saya sangat sedih dengan realita yang sedang kita hadapi di Timika. Guru berdemo dan meninggalkan tempat tugas. Siapa yang akan membangun badan dan jiwa anak-anak yang berada dibalik gunung dan pesisir itu. Ini tanggung jawab seorang pemimpin yang tidak boleh melalaikan hal itu. Itu harus memiliki hati dan nurani mendengar dan menjawab jeritan masyarakat saat ini. Mendengar jeritan anak-anak Amungsa. Pemimpin harus hadir ditengah-tengah mereka. Ya, kondisi saat ini, saya tidak dalam kapasitas sebagai pengamat dan tidak siap menjawab soal itu, biarlah masyarakat yang menilai,” katanya sedikit berapi-api ketika menyentuh sisi-sisi kemanusiaan.

Kabarnya Anda tidak suka membeberkan keberhasilan ketika memimpin sebagai penjabat di Kabupaten Mappi dan sederet keberhasilan ketika sebagai Caretaker di Kabupaten Mimika, dan bahkan pernah ikut berjuang masalah pendidikan saat mendapat amanat rakyat Mimika sebagai legislator di DPRD Mimika. Konon kabarnya, ketika anda memimpin di Mimika pernah mengembalikan uang lebih ke kas negara Rp 800 miliar lebih. Mengapa anda tidak suka?” “Saya punya moto hidup itu, Berbuatlah yang baik untuk dilihat dan dikenang. Berbicaralah yang enak dan sopan untuk didengar. Dan bekerjalah dengan jujur supaya dipercaya. Perluasan moto itu dalam spirit hidup saya. Saya sangat bahagia dan puas ketika kehadiran saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya selalu berjuang dalam hidup saya itu bisa bermanfaat bagi orang banyak. Saya sangat bahagia,” tuturnya bersemangat sambil melempar senyum penuh makna, entah apa yang ada dalam perasaannya.

Tetapi disudut hatinya masih menyimpan harta dan kekayaan bagaimana semestinya menjawab harapan masa depan anak-anak Amungsa dan warga Mimika bisa tertawa dan bersukaria. Warga tanpa terusik demo dan perang suku. Guru-guru bisa betah mengajar di pedalaman. Merancang masa depan anak-anak Amungme, Kamoro, Damal dan anak-anak dari semua lintas suku di Kota Timika memiliki masa depan. Kota yang warganya bisa menghidangkan keramahtamahan. Sehingga semua orang yang datang dari berbagai daerah ke Timikia pulang dengan sukacita dan menceriterakan keramahan warga Mimika.

Ketika disentil, Allo dengan gayanya yang khas mengisahkan, warga Mimika sangat merindukan seorang tokoh pemimpin daerah yang bisa turun ke kampung-kampung. Tokoh yang memiliki keberanian, kejujuran, memiliki kecerdasan intelektual dan nurani. Artinya pemimpin yang mempunyai hati nurani untuk masyarakat banyak. Warga sedang merindukan yang bisa berada di tengah rakyat dikala mereka bertengkar ataupun perang suku. “Saya pernah duduk bersama dan menyelesaikan perang suku di Banti dan Damal 1997. Ketika itu, saya masih menjadi staff.  Bupati Titus Poteroyau meminta saya ke sana untuk mendamaikan warga. Tokohnya saya panggil dan bahas bersama. Mereka tidak mau berdamai. Mereka minta saya tinggalkan mereka. Saya bilang mereka, Saya tidak akan pulang dan tidur saja ditengah mereka sebelum mereka berdamai. Akhirnya mereka mau berdamai dan meminta saya hadir dalam acara perdamaian. Saya puas sekali. Kalau kisah seperti ini saya sudah kenyang dan makan garam di Mimika,” katanya.

Tetapi, anda tidak suka diekspos keberhasilan anda mendamaikan berbagai perang suku dan menghasilkan berbagai karya nyata selama menata kota Timika hingga perkembangannya saat ini sangat pesat, itu khan buah karya tangan anda. Anda malah memilih jalan sunyi atau mungkin lebih keren anda bisa disebut sebagai pahlawan di jalan sunyi?” Dia sedikit terperangah dengan pernyataan media ini disebut Allo sebenarnya  “Pahlawan di Jalan Sunyi.” “Ya anda yang menilai, terserah,” sergahnya. Begini! Saya itu lebih memilih diam, rakyat yang menilai. Saya puas ketika mereka hidup damai dan tidak ada demo seperti masalah SPSI dan guru-guru menuntut hak-hak mereka soal dana insentif. Karena masalah seperti itu masalah kecil. Dalam filosofi kepemimpinan tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Hanya butuh keberanian mengambil kebijakan, meski keputusan itu sama sekali tidak populer. Singkat ceritera, pemimpin mesti memiliki hati dan berani mengambil keputusan yang tegas. Yang penting, jujur! Keputusan itu bukan untuk kepentingan pribadi dan membuat siasat dengan berdalih atas nama kepentingan orang banyak, pada hal terselip kepentingan diri sendiri. Itu yang saya sebut itu pemimpim memiliki hati dan berkepribadian yang jujur. Jujur terhadap diri sendiri, Tuhan dan sesama,” katanya bergairah.

Kisah dibalik kesederhanaan hidup Athanasius Allo Rafra hanya sebagian kecil yang terungkap kepermukaan dari balik  kharisma yang bergelora dalam semangat hidupnya yang ingin bermanfaat bagi masyarakat banyak. Kita tunggu episode selanjutnya. (Fidelis S.J)        

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment