Kadispenmen Minta Kadispendasbud Mundur

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) Aksi demo guru honor di depan Kantor  Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) Mimika, Senin (24/7) terlihat berbeda karena dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Menengah (Kadispenmen) Kabupaten Mimika, Armin Wakerkwa. Menariknya ratusan guru honor yang demo dan Kadispenmen sama-sama meminta Kadispendasbud Jeni O. Usmani mundur dari jabatannya karena dinilai tidak mampu menangani pendidikan dan guru-guru dengan baik.

Ketua koordinator solidaritas guru honorer Kabupaten Mimika Alex Rahawarin dalam orasinya mengatakan, tujuan kedatangan ratusan guru honorer ke Kantor Dispendasbud untuk meminta kejelasan dari Kadispendasbud terkait dana TTP guru yang belum dibayarkan. Karena beberapa waktu lalu pihaknya telah berangkat ke Jayapura untuk meminta kejelasan dari Pemprov Papua terkait dana insentif. Pihaknya menilai ada penipuan yang dilakukan Kadispendasbud terhadap guru-guru honorer.

"Kami tuntut bayar insentif, jadi kami minta kepada Kadispendasbud untuk menjelaskan dana insentif karena kami sudah ke Provinsi untuk tanyakan, karena ini termasuk penipuan terhadap guru honorer," kata Alex saat berorasi di depan Kantor Dispendasbud di Kantor Sentra Pemerintahan SP3, Senin (24/7).


Alex menegaskan, dana insentif tersebut harus dibayarkan karena SK penempatan guru-guru honorer merupakan SK dari Dispendasbud bahkan diperkuat dengan adanya laporan bulan tentang kehadiran guru-guru honorer yang bertugas di pedalaman, pesisir, pinggiran yang dikirim ke Dinas dari masing-masing sekolah sehingga tidak ada alasan untuk tidak membayarkan insentif gutu.


"Setiap bulan ada laporan kehadiran yang dikirim dari sekolah-sekolah ke Dinas sebagai bukti kehadiran guru honorer di sekolah," jelasnya.


Ditempat yang sama Kadispenmen Armin Wakerkwa yang bertemu langsung dengan massa pendemo meminta kepada Kadispendasbud Jeni O Usmani, S Pd, M Pd agar segera mencairkan anggaran insentif guru untuk membayar guru-guru honorer serta tidak  memperumit masalah insentif guru.


Armin menegaskan, apabila Jeni O Usmani tidak mampu memimpin Dispendasbud maka sebaiknya mengundurkan diri dari jabatan sebagai Kadispendasbud agar diisi pejabat baru yang memiliki hati nurani untuk menangani pendidikan dan berlaku adil kepada para guru yang sudah mengabdi.

"Saya minta Kadis segera cairkan anggaran untuk bayar insentif  honorer. Saya juga minta kepada Yeni O Usmani untuk mundur kalau tidak mampu menjabat sebagai Kadispendasbud," kata Armin dalam orasinya.


Menurut Armin, guru-guru honorer telah melaksanakan tugas mereka. Dengan demikian, hak dan kwajiban harus seimbang. Buruknya kepemimpinan Kadispendasbud membuat hancur Pendidikan di Mimika.


"Mereka ini hanya minta hak-hak mereka  dan ibu Yeni harus bayar karena mereka sudah laksanakan tugas. Kalau caranya seperti ini maka pendidikan di Timika tidak akan maju," jelas Armin.

Salah satu guru honorer Edy dalam orasinya mengatakan, guru-guru yang melaksanakan aksi demo tidak ditunggangi kepentingan politik dan sebagainya melainkan menuntut hak-haknya honorer yang belum dibayarkan.

Selain itu Eddy menambahkan guru honorer yang  direkrut memiliki SK untuk mengajar, namun tidak tahu penyebab Kadispendasbud Yeni O Usmani tidak memperjuangkan hak-hak guru honorer. Kadispendasbud tidak memiliki hati sebagai seorang perempuan, tapi seorang ibu yang lagi bersenang-senang diatas penderitaan anak-anaknya.

"Dimanakah hati nurani pemimpin Mimika, kami kesini bukan meminta-minta dan merampok. Kami sudah laksanakan tugas dan kami bukan guru ilegal, kami tidak datang ke tempat tugas tanpa SK," ungkapnya.



Pantauan Salam Papua di lapangan, ratusan guru honor ini bergerak dari Timika Indah sekitar pukul 09.30 WIT. Membawa spanduk yang bertuliskan Jeni Usmani, S. Pd, M. Pd Penipu Ulung dengan foto Kadispendasbud terbalik. Bahkan ada spanduk yang bertuliskan Jangan jadikan pendidikan sebagai sebuah proyek, dan Kesejahteraan guru honorer masih jauh dari kata layak.


Massa yang tiba di kantor Dispendasbud melakukan orasi yang menuntut pembayaran hak-hak mereka yang belum terbayarkan. Namun Kadispendasbud tidak kunjung menerima massa pendemo. Tidak bisa menyampaikan aspirasi kepada Kadispendasbud membuat massa pendemo melampiaskan kekesalan dengan menggembok pintu Kantor Dispendasbud menggunakan rante sepanjang 30 cm dan gembok. Hal tersebut menandakan ketidakmampuan Kaadispendasbud untuk bertemu dengan pendemo dan mendengar tuntutan serta langkah apa yang harus dilakukan apabila tenaga pengajar tidak menjalankan tugasnya. Hal tersebut akan berimbas pada kegiatan belajar mengajar.

Seorang guru lainnya saat berorasi menyampaikan kekecewaannya terhadap Kadispendasbud. Dia mengatakan, akibat tidak dibayarkan insentif guru membuat pendidikan di wilayah pinggiran, pesisir bahkan pedalaman, akan lumpuh total.


“Di pedalaman dan pesisir, pendidikan saat ini tidak berjalan normal karena banyak guru honor yang masih ada di Timika menuntut insentif. Bahkan di dalam kota Timika saja ada siswa yang bertanya kepada gurunya apabila ibu pergi menuntut insentif siapa yang akan mengajar dengan nada sedih,” kata guru tersebut.

Buruknya penanganan pendidikan di Mimika membuat membuat Pastor Warjito yang merupakan pemerhati pendidikan di Mimika menutup mulutnya menggunakan lakban. Hal tersebut menandakan kekecewaanya terhadap pimpinan pendidikan di Mimika. Diperkirakan pendidikan akan lumpuh untuk 1 semester kedepan akibat dari insentif guru belum terbayarkan. (Ricky Lodar).
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment