Kasus Pencurian Mendominasi Persidangan di PN Timika

Bagikan Bagikan

SAPA (TIMIKA) – Humas PN Timika, Fransiscus Y Baptista,SH.,MH menyampaikan, selama satu semester, mulai Januari sampai Juni 2017 ini, terdata kasus pencurian 21 kasus. Kasus pencurian ini mendominasi persidangan, dibanding kasus lainnya di Pengadilan Negeri (PN) Timika.  “Kasus pencurian dominan di PN Tmika,” kata Fransiscus kepada  Salam Papua di PN Timika, Senin (17/7).
 Dia mengatakan, kasus yang disidangkan di PN Timika ini sangat variatif, seperti pencurian, narkoba, perjudian, pembunuhan, kecelakaan Lalulintas, dan pencabulan. Dari kasus yang variatif tersebut, selama satu semester di 2017 ini  PN Timika menyidangkan sebanyak 81 kasus. Ditambah dengan kasus yang dilakukan anak dibawah umur sebanyak tiga kasus.
“Jadi selama satu semester ini, kami menyidangkan 84 kasus. Dan dari jumlah tersebut ada yang sudah diputus. Tapi ada juga yang masih proses persidangan,”kata Fransiscus.
Dari data yang dihimpun Salam Papua selama satu semester di 2017 di PN Timika terdata  untuk Januari 2017,  sidang pencurian dua kasus, Febuari 2017  satu kasus, Maret 2017  dua kasus, April 2017  satu kasus, Mei 2017  lima kasus, dan Juni 2017 10 kasus.
Menurut Fransiscus dari 84 kasus yang disidangkan di PN Timika selama satu semester ini. Kasus yang paling mendominasi adalah pencurian, dimana ada 21 kasus selama satu semester. Dengan demikian setiap bulan ada kasus pencurian yang disidangkan. Dan rata-rata umur dari terdakwa masih berusia produktif, yakni antara 18-23 tahun.
“Kasus pencurian yang mendominasi di PN Timika, baik pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP) sampai kepada pencurian biasa (Pasal 362 KUHP),” katanya.
Menjawab media ini ketika ditanyai soal motif kasus pencurian yang terjadi di Timika ini menjelaskan, beberapa kali persidangan pencurian yang dilaksanakan, dari keterangan terdakwa kebanyakan motivasinya ingin memiliki. Dari hal tersebut, akhirnya pelaku melakukan pencurian. Ia mencontohkan pencurian kendaraan bermotor. Mereka menjual lagi. Jadi rasa ingin memiliki kendaraan itu yang disampaikan dalam persidangan sebagai motif dari pelaku pencurian.
“Sebenarnya kasus pencurian yang terjadi ini, selain rasa ingin memiliki juga faktor ekonomi. Namun terkadang, hasil dari menjual kendaraan tersebut digunakan untuk Minuman Keras (Miras) dan yang lainnya,” jelasnya.
Dari sisi usia pelaku, dia menyebutkan, rata-rata usia  20-30 tahun,  usia produktif.  Dalam arti, usia-usia tersebut memiliki rasa keingintahuan dan memiliki yang tinggi. Kelompok usia itu juga  mudah terpengaruh oleh lingkungan, dalam hal ini ajakan dari teman. Walaupun juga ada tuntutan ekonomi.  Sehingga para pelaku nekat melakukan tindak pidana pencurian tersebut.
“Disinilah peran dari semua pihak, untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada anak-anak ini. Sehingga, tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum dan pribadi,” tuturnya.(Uji)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment