Merajut Kebersamaan Mendukung Freeport

Bagikan Bagikan


Tajuk : SUDAH menjadi bahasa klise di kalangan masyarakat bahwa Timika akan menjadi kota mati bila tidak ada PT Freeport Indonesia (PTFI). Bahkan sebuah fakta yang tak terbantahkan adalah bila PT Freeport berhenti beroperasi karena masalah tertentu dalam waktu seminggu saja, perekonomian di Timika seakan sudah mati suri. Apalagi bila kondisi ini berlangsung lebih dari satu bulan, tentu perekonomian Mimika akan lumpuh total dan bisa berimbas ke bidang pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Fakta lain yang tidak dipungkiri adalah bila PT Freeport tidak hadir dan mengeksploitasi tambang di Tembagapura maka Kota Timika, bahkan Kabupaten Mimika mungkin saja tidak pernah ada. Juga tidak pernah ada ratusan ribu warga, termasuk didalamnya puluhan ribu karyawan bersama keluarganya yang saat ini mendiami Mimika dan menyandarkan hidupnya pada aktivitas perusahaan raksasa asal Amerika ini. Artinya kebergantungan warga Mimika terhadap PT Freeport sangat amat besar dalam segala sisi kehidupan.

Walau demikian, sampai sejauh ini belum muncul kesadaran di kalangan masyarakat untuk merajut kebersamaan mendukung PT Freeport agar senantiasa dalam kondisi aman dan nyaman berproduksi. Jangankan masyarakat umum, di kalangan karyawan yang jumlahnya diatas 30.000 sekali pun, bila termasuk anggota keluarganya bisa mencapai 70.000 an orang, sejauh ini kesadaran tersebut belum ada.

Bahkan yang sering dilakukan sebagian karyawan (tidak semua), sedikit-sedikit demo, sedikit-sedikit mogok kerja, merongrong dan menghambat aktivitas produksi perusahaan. Ujung-ujungnya produksi menurun, pendapatan Freeport pun menurun. Akibatnya royalty untuk negara dan daerah Papua, termasuk Mimika juga menurun. Masyarakat Mimika, terlebih masyarakat Amungme, Kamoro dan lima suku kekerabatan lainnya yang dirugikan.

Kondisi buruk semacam ini sudah lama berlangsung dan sudah semestinya dibutuhkan langkah nyata untuk menjamin keamanan dan kenyamanan PT Freeport di daerah ini. Langkah nyata yang menjamin tidak ada upaya dan tindakan dari pihak mana pun, termasuk dari karyawan untuk merongrong dan menghambat produktivitas PT Freeport.

Kehadiran Pusat Pengendali Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MA PTP) Mimika telah menjadi jawaban nyata untuk menekan dan mengatasi pihak-pihak yang selama ini suka mengganggu produktivitas PT Freeport. Berbagai langkah nyata sudah dilakukan P2MA PTP, terlebih terkait dengan aksi mogok kerja yang hingga kini masih dilakukan sejumlah karyawan. Dan sejauh ini, langkah-langkah nyata yang dilakukan bisa dikatakan berhasil dan ikut membuat PT Freeport sudah kembali berproduksi.
Namun tantangan bagi PT Freeport ke depan tentu saja masih ada. Dan tentu saja peran dari P2MA PTP ini masih sangat diharapkan. Karena itu, sudah saatnya P2MA PTP membuka diri, merajut kebersamaan dengan komponen masyarakat lain di Timika, yang membentuk diri dalam paguyuban-paguyuban untuk membangun persepsi, cita-cita dan tujuan  yang sama, menjaga dan melindungi PT Freeport agar bebas dari berbagai macam gangguan, agar produksinya terus meningkat, agar pendapatan untuk negara dan daerah terus meningkat dan tentu saja akan meningkatkan derajat hidup bagi masyarakat Mimika.

Dalam beberapa kali pertemuan P2MA PTP, keinginan untuk merajut kebersamaan dengan paguyuban lain sudah menjadi agenda penting yang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Karena tujuan besar yang ingin dicapai adalah terbentuk sebuah wadah kebersamaan dari Sabang sampai Merauke yang berbhineka tapi tunggal ika (Bhintuka), tidak hanya memastikan keamanan dan kenyamanan berproduksi bagi PT Freeport, tapi keamanan dan kenyamanan bagi seluruh masyarakat Mimika, melakukan berbagai aktivitasnya di Tanah Amungsa ini.


Sudah saatnya sikap masyarakat Mimika  yang sejauh ini hanya berharap yang ‘manis’ dari PT Freeport, sementara saat PT Freeport ‘menangis’ hanya berdiam diri, harus ditinggalkan dan ditanggalkan. Kalau pun ada rasa kecewa terhadap sikap oknum-oknum di departemen tertentu di Freeport karena berkinerja buruk, maka tidak seharusnya itu dilampiaskan kepada perusahaan. Karena siapa pun yang berkinerja buruk dan memperburuk citra perusahaan sudah tentu suatu saat nanti akan ‘terhempas ke luar.’ Sementara perusahaan akan tetap ada dan berproduksi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Karena itu sudah saatnya mari kita bersatu, merajut kebersamaan mendukung PT Freeport terus berproduksi dan terus memberi kontribusi bagi kemajuan masyarakat Mimika, Papua dan Indonesia. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment