Nikmati Aroma dan Minum Kopi Kirpikir di Waanal Coffee Seraya Berbagi Rahmat

Bagikan Bagikan
 “Bagai siang memeluk malam. Begitulan cita rasa dan aroma,  ketika kita menikmati minum  “Kopi Kirpikir Sendiri Sudah”  seraya berbagi rahmat di Waanal Coffee and Resto Timika. Sulit dipercaya! Bagaimana kenikmatan dan kepuasan sambil berbagi rahmat bisa terjadi pada saat yang sama. Mau bukti! Kita bisa mencoba, membuktikan dan menikmatinya di Waanal Coffee.”

Cuaca Sabtu (15/7) siang, sekitar pukul 13.45,  di luar Waanal Coffee hujan gerimis membasahi bumi persada Mimika . Para pramu saji Waanal Coffee  hilir mudik melayani tamu yang memesan berbagai aneka makanan dan minuman. Para tamu  kelihatan bersukacita, gembira  dan santai menikmati pesanan sesuai selera. Menikmati kebahagiaan dan memaknai hidup.
Saya memperhatikan dengan cermat. Teman kantor saya memesan Kopi “Kirpikir sendiri sudah.” Jenis minuman kopi yang dipesan teman saya sangat asing ditelinga saya. Saya terperangah dan penasaran mendengar jenis minuman “Kopi Kirpikir Sendiri Sudah.”

“Saya sudah merasakan jenis kopi yang lain. Saya ingin menikmati Kopi  Kirpikir Sendiri Sudah,” pintanya kepada seorang pelayan yang sangat ramah melayani kami berdua. “Bapa pesan minuman apa?” sapa pelayan itu. “Saya kopi hitam saja,” jawabku sekenanya.

Pesanan saya tiba duluan. Selang beberapa saat, pesanan teman saya, Kopi- Kirpikir Sendiri  tiba. “Saya terkejut!. Pelayan yang mengaku bernama Yosef Yamko  melayani pesanan teman saya muncul dengan sebuah napan. Terlihat jelas dalam napan itu, sebuah gelas berisi susu kental seperempat dari dasar gelas berwarna putih. Sebuah cerek berisi air putih panas.  Dan wadah kosong menyerupai cerek pula. Bedanya, di permukaan wadah kosong  itu ada sebuah tabung kecil  dilapisi kain terisi bubuk kopi.    

“Wah! Pesanan kopinya kok aneh yah!” kata saya disahuti teman saya hanya senyum  sambil menahan ketawa. Saya pun ikut tertawa lebar. Sehingga, semua tamu memandang kami tanpa mata berkedip. “Pa…,  inilah sedapnya. Kopi Kirpikir sendiri sudah!” kilahnya.

Naluri saya sebagai seorang jurnalis muncul dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga itu.  Saya mengambil kamera dari dalam tas yang selalu menemani saya, kemanapun saya pergi.  Saya memotret pelayan itu sedang menuangkan air panas ke dalam wadah tabung berisi kopi bubuk melewati saringan kain dan menetes  ke dalam wadah kosong itu.

“Saya menyaksikan proses penyajian pesanan kopi Kirpikir pesanan teman saya tanpa mata berkedip. Teman saya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi saya. Saya tidak menghiraukannya. Terserah…,  dia mau menilai saya apa,  tak masalah. Bagi saya kesempatan berharga itu tidak boleh lewat begitu saja.”

Adalah Manager Waanal Coffee asal  Kebumen, Desa Wadas Malang, Kecamatan Karang Sambung, Kabupaten Kebumen, Toto Hadi Suarno mengisahkan, filosofi kopi yang disajikan di Waanal Coffee membutuhkan waktu panjang menjelaskannya. Semisal, Kopi  Kirpikir  kepanjangan dari “Pikir, Pikir dirangkai dengan dua kosa kata Sendiri Sudah menjadi salah satu nama dari sekian jenis minuman kopi di Waanal Coffee. Kopi- Kirpikir Sendiri Sudah sangat akrab dan paling disukai para penikmat kopi.   

Setiap jenis minuman kopi yang disajikan di Waanal Coffee memiliki cita rasa yang berbeda. Perbedaan itu mulai dari proses pemilihan biji kopi, peracikan,  ukuran bubuk kopi dan prosentasinya sesuai dengan nama dan pesanan para tamu. “Pilihan biji kopinya pun berbeda dengan Caffe lain yang ada di Timika. Kami punya, kopinya kopi asli.  Filosofi  kami, para penikmat kopi disentuh lewat cita rasa  sambil berbagi rahmat dengan para petani, itu bedanya,” tutur Toto memancing saya larut dalam penjelasannya.

Mantan suami dari Dini Yulianti ini menceriterakan, kunci utama penyajian di Waanal Coffee itu terletak pada “Baristanya”. Barista mesti memiliki komunikasi  yang hangat dan pengetahuan luas. Mereka harus tahu segalanya tentang produk yang mereka sajikan. Seorang barista yang baik harus bisa memberikan saran kepada pelanggannya tentang kopi apa yang cocok mereka minum saat itu. Misalnya, apakah kamu suka kopi yang strong, medium, atau light, atau apakah kamu suka kopi hitam atau kopi susu,” tuturnya.

Kedua,  alat peracik kopi, ketika anda memilih minuman kopi yang disukai, sekali-sekali mencoba menengok alat-alat yang digunakan. Kita akan menyaksikan alat-alat yang memenuhi standart kesehatan seperti, mesin espresso, grinder, barista kit, milk jug, termometer, timbangan digital, bak cuci yang memadai, peralatan untuk bersih-bersih. Termasuk anda melihat peralatan “manual brewing” seperti aeropress, french press, V60, chemex. Kelengkapan fasilitas alat penunjang bagian dari sisi cita rasa Waanal Coffee.

Meminum Kopi di Waanal Coffe yang diracik sendiri para peracik kopi  biji asli berasal  dari tangan para petani asal pegunungan tengah Papua seperti Jayawijaya, Tiom, Tolikara, Lanijaya dan Moanemani, termasuk dari Amungme dan Kamoro. Pemilik Waanal Coffee menjalin kerja sama dengan para petani pegunungan tengah dengan membeli kopi mereka, itu simpul berbagi rahmat pertama. Kedua, peracik kopi Waanal Coffee menyajikan kopi asli sesuai selera para tamu. Tamu menghargai harga pelayanan dan kenikmatan kopi yang disajikan tanpa berhitung misalnya. Misteri dibalik kenimatan dan kepuasan yang dihargai dengan kesetiaan membayar lebih itu, terjadi saling berbagi rahmat, itu misteri kedua.

“Coba kita renungkan, para tamu sadar atau tidak sadar. Kenikmatan dan kepuasan direngkuh sambil berbagi rahmat dengan para petani lewat membayar tagihan. Tagihan itulah rahmat berbagi terjadi. Itu filosofi kami pak. Mengembangkan usaha kami saling berbagi rahmat. Maka marilah kita berbagi rahmat di Waanal Coffee,”  kata Toto bagai seorang Rahib yang baru selesai bersemedi diantara  hutan kopi di Pegunungan Tengah.


 Spirituaitas usaha saling berbagi rahmat sebagaimana dikisahkan ayah dari tiga putri dan semata wayang putra ini mengispirasi, menggugah, mengetuk pintu rahmat bagi siapa saja bahwa didalam kepuasan dan kebahagiaan yang kita raih tersembunyi rahmat berbagi serta membahagiakan sesama. Nikmatilah rahmat saling berbagi berkat di Waanal Coffee. (Fidelis Sergius Jeminta).
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment