Pelabuhan Terakhir Itu Bernama Keluarga

Bagikan Bagikan


PERAYAAN Hari Anak Nasional 2017 yang jatuh pada hari Minggu (23/7) menjadi momen tepat bagi ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya untuk meluangkan waktu sejenak berkumpul bersama mencurahkan perhatian secara lebih berkualitas kepada anak-anak.

Setelah sepekan orang tua sibuk bekerja, saatnya mengajak anak-anak berolah raga, membuat sarapan bersama dan sejenak meletakkan gawai atau meninggalkan program kesayangan di televisi berbayar.

Pesan khusus dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) HAN tahun ini adalah perlindungan dari negara terhadap anak-anak, yakni dengan menjaga hak-hak mereka (anak-anak) dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan memerhatikan prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak, yaitu non diskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup; kelangsungan hidup dan perkembangan anak dan penghargaan terhadap pendapat anak.

Sebuah tantangan dihadapi masyarakat, khususnya orang tua dan keluarga yang anak-anaknya lahir di era 2000-an disebut anak-anak zaman pramillenium, di mana secara alami anak-anak bersentuhan erat dengan dunia digital sehingga sebagai konsekuensi, ayah, ibu serta anggota keluarga lainnya pun dituntut untuk melek teknologi agar dapat melakukan pendampingan saat anak mengakses internet melalui gawai atau memilih program di televisi.

Pemerhati Anak Seto Mulyadi yang akrab dengan sebutan Kak Seto mengatakan kegemaran anak-anak dan remaja dalam mengakses internet ibarat pisau bermata dua, bisa berdampak positif dan berdampak negatif.

"Era digital itu seperti pisau bermata dua. Jika kita tidak berhati-hati maka kita akan terkena sendiri imbas dari era digital itu," katanya.

Anak-anak yang tumbuh di era digital kerap dihadapkan pada persoalan pengawasan karena orang tua yang sibuk terkadang tidak memperhatikan perkembangan dan aktivitas anak. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan anak tidak optimal.

Orang tua dan keluarga dituntut memberikan perhatian lebih sebab baik buruknya karakter anak sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan oleh keluarganya dan lingkungan terdekatnya.

Pasalnya, peran pengasuhan yang seharusnya menjadi kewajiban ayah dan ibu mulai bergeser karena hadirnya "anggota baru" dalam keluarga, yakni gawai dan televisi. Gawai dan berbagai program televisi telah memberi kesenangan dan kemudahan sehingga mampu membius anak-anak untuk berlama-lama di depan televisi ataupun menggenggam gawai.

Orang tua juga harus sadar akan era digital. Menurut praktisi parenting Fauzil Adhim masih banyak orang tua yang tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan gawai sehingga kebanyakan orang tua dapat dikendalikan oleh anak-anak dalam penggunaan alat komunikasi digital.

"Di masa digital native ini, anak-anak yang lahir dengan kondisi sudah ada gawai dan internet, dengan total penggunaan tujuh jam sehari. Permasalahannya bukan pada gawainya, tetapi pada bagaimana kita menyiapkan anak-anak kita dengan cara terbuka dan terpercaya, karena di gawai itu terdapat banyak tawaran, tinggal bagaimana kita memilihnya," ujarnya.

Berselancar di dunia maya atau bermain games melalui gawai tidak selalu memberikan dampak buruk tetapi juga memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan manusia. Beberapa manfaat dari media digital tersebut adalah melipat waktu, multitasking, dan saling terhubung tanpa mengenal waktu dan batas.

Sebuah survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, bahwa 90,27 persen anak usia sekolah di Indonesia suka menonton televisi, sedangkan hanya 18,94 persen lainnya suka membaca. Ironisnya, kebanyakan orang tua dan orang dewasa masa kini cenderung membiarkan anak-anak dalam "pengasuhan" program televisi dan fitur-fitur canggih gawai ketimbang meluangkan waktu untuk menemani anak usia balita dan sekolah dasar untuk belajar, menonton acara televisi atau sekadar mendongengkan cerita sebelum tidur.

Hasil riset tahun 2014 yang didanai UNICEF dan dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika menemukan fakta sebanyak 30 juta anak dan remaja Indonesia merupakan pengguna internet sehingga media digital kini menjadi pilihan utama saluran komunikasi mereka.

Studi ini mengungkapkan bahwa 69 persen responden menggunakan komputer untuk mengakses internet. Sekitar sepertiga atau 34 persen menggunakan laptop dan sebagian kecil atau hanya 2 persen terhubung melalui video game.

Lebih dari setengah responden (52 persen) menggunakan ponsel untuk mengakses internet, namun kurang dari seperempat (21 persen) untuk smartphone dan hanya 4 persen untuk tablet.

Penelitian ini mengumpulkan data untuk mengarahkan kebijakan ke depan dalam melindungi hak-hak anak mengakses informasi dan pada saat yang sama, berbagi informasi dan mengekspresikan pandangan atau ide-ide mereka secara aman.

Mahluk Sosial Peran keluarga sangat penting pada terbentuknya masyarakat yang masih memiliki semangat gotong royong dan hal positif lainnya di tengah era digitalisasi.

Orang tua sebagai orang dewasa perlu memiliki ketahanan digital sehingga tidak terjebak dan larut dengan digitalisasi.

Pegiat Literasi dan Periset Pusat Studi Pendidikan dan Kreativitas Anak Muhamad Iqbal mengatakan peran orang tua juga harus memberikan kesadaran agar sebuah keluarga mampu menghadapi era digital ini.

"Para orang tua harus mengetahui bahwa bukan gawai yang harus diproteksi, melainkan menyiapkan anak-anak kita dalam menyikapi era digital. Orang tua sejak dini juga dapat menanamkan ajaran kehidupan yang baik bagi anak. Perlu komunikasi berkualitas antara ayah, ibu dan anak sehingga menjadi saling berkesinambungan dan melekat," ujarnya. (Antara)



Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment