Peningkatan SDM Setelah Pembangunan Infrakstruktur

Bagikan Bagikan
SAPA (CIKARANG) - Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi target sasaran selanjutnya setelah pembangunan infrastruktur.

"Pemerintah fokus dan berkonsentrasi pembangunan infraksturkur baik pelabuhan, airport, jalur kereta api di luar Jawa, jalan tol, pembangkit listrik untuk mempersiapkan daya saing kita tapi setelah infrasktruktur, adalah pembangunan SDM," kata Presiden di kawasan industri "Greenland International Industrial Center, Cikarang, Jumat (28/7).

Presiden Joko Widodo menyampaikan hal itu saat peluncuran program Pendidikan Vokasi di PT Astra Otoparts Tbk. Dalam peluncuran itu ada 141 industri dan 393 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menandatangani 800 perjanjian kerja sama.

"Kalau negara ingin besar dan kuat ekonominya, dari kalkulasi yang sudah kita hitung, insya Allah pada 2040-2045 kalau yang kita kerjakan konsiten, SDM tergarap betul, dan asal tidak ada turbulensi politik, hitungan kita nanti kita akan jadi negara empat besar ekonomi terkuat," ungkap Presiden.

Penyebabnya adalah karena Indonesia memiliki keunggulan baik Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia.

"Kita punya SDA, tapi SDM lebih penting. Kita sepakat SDM lebih penting karena SDA bisa memanjakan, tapi etos kerja, produktitvitas SDM-SDM kita baik, bersaing dengan negara lain akan lebih mudah," tambah Presiden.

Presiden mengaku sudah membandingkan anak-anak muda Indonesia dengan anak-anak muda di negara-negara lain, hasilnya para pemuda Indonesia tidaklah kalah.

"Ndak kalah, ndak kalah, ndak kalah. Kita harus meyakini itu dan kita harus percaya diri," tegas Presiden.

Selain percaya diri, para pemuda Indonesia juga harus ikut terus mengikuti training-training.

"Proses-proses 'training' seperti ini harus kita lalui dan tidak tergantung lembaga pendidikan yang ada, 'training' cepat sangat dibutuhkan industri dan sangat dibutuhkan perusahaan," tambah Presiden.

Ia mencontohkan bisnis "outsourcing" di Filipina bisa menghasilkan 27 miliar dolar AS dalam satu tahun.

"Nilainya gede sekali, negara kita kalah, tidak ada satu wilayah bisnis yang bisa menghasilkan sangat besarnya 'income' bagi negara dan masyarakat sangat besar sekali. Kalau ada 'training' dan pendidikan kita bisa masuk ke area itu, masa kita kalah?" ungkap Presiden.

Presiden juga mendorong agar SMK dan industri Indonesia masuk ke area financial technology (fintech).

"Fintech itu sangat dibutuhkan nantinya kalau industri jasa kita bergerak dengan cepat. Kita memang masih masuk di dalam hal-hal 'basic', tapi begitu SDM kita siap kita akan masuk kepada jasa seperti 'business process outsourcing', masuk ke 'training-training fintech'," jelas Presiden.

Presiden pun mendorong agar para siswa SMK tidak lelah untuk belajar dan mengikuti pelatihan.

"Jadi untuk anak-anakku semua jangan lelah untuk belajar terus, meski sudah 'training' nanti masuk lagi ke 'training' yang di atasnya lagi sehingga posisi-posisi penting di perusahaan itu betul-betul bisa kita pakai untuk memajukan negara yang kita cintai," ungkap Presiden.

Tidak lupa Presiden berdialog dengan salah satu peserta training bernama Suparti yang berasal dari Cirebon.

"Sudah 2 minggu ikut training, diberi pelajaran cari menjahit celana, baju, batas training 20 hari," kata Suparti.

Setelah training, Suparti pun mengaku dapat langsung bekerja di PT Trevis Subang.

"Enak dong, sudah di-training langsung masuk kerja, saya juga mau. Apalagi gratis, saya juga mau, enak banget ya," kata Presiden.

Presiden berjanji mengirimkan satu sepeda ke rumah Suparti karena saat itu Presiden tidak membawa sepeda. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment