Proyek Runway Bandara Ewer Sempat Terhenti

Bagikan Bagikan


SAPA (ASMAT) — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat, Pieter Dallung mengungkapkan, pembangunan landasan pacu atau runway Bandar Udara Ewer sempat terhenti pada awal Juli lalu.
Proyek itu terhenti karena kehabisan material dan perlu dipasok lagi dari Palu, Provinsi Sulawesi Tengah dengan menggunakan kapal tongkang. “Tanggal 5 Juli 2017, saat mau ke Jayapura, saya lihat tidak ada aktifitas pembangunan di Bandara Ewer, saya sempat cek dan tanya,” kata Pieter, Selasa (18/7).
Dari penjelasan para pekerja, kata Pieter, ia memperoleh informasi bahwa material proyek runway itu telah habis dan kini dalam perjalanan dari Palu. Material tersebut didatangkan dengan tiga kapal tongkang, dan lamanya pelayaran menuju Asmat diperkirakan sekitar 18 hari.
Pieter mengatakan ia telah memanggil kontraktor pelaksana proyek tersebut. Menurut penjelasan pihak pelaksana, satu kapal tongkang bisa melakukan pembongkaran selama dua hari. Meski begitu, ada saja sejumlah kendala dalam proses pembongkaran.
“Tiga kapal tidak bisa berlabuh sekaligus, karena arealnya sempit. Lalu material tidak bisa ditimbun sekaligus, karena kontur tanahnya lembek,” ungkapnya.
Namun, Dishub Asmat telah menekankan kepada kontraktor pelaksana agar pengaspalan landasan pacu Bandara Ewer sudah harus selesai dikerjakan pada akhir tahun 2017. Sesuai kontrak, landasan pacu bandara tersebut diperpanjang 600 meter dengan lebar 30 meter.
Pieter juga mengaku pihaknya telah melakukan pengecekan kegiatan pembangunan landasan pacu bandara tersebut. Diketahui, pekerjaan pengerasan atau pemadatan sudah mencapai 400 meter.
“Kalau tikar baja sudah dibongkar beberapa bulan lalu. Ada disisakan sedikit tikar baja di ujung landasan. Selain sebagai kenang-kenangan, itu juga bisa sebagai sarana safety jika sewaktu-waktu pesawat tergelincir,” tuturnya.
Pieter menambahkan, pembangunan dan pengembangan bandar udara maupun pelabuhan di daerah itu semata-mata untuk membuka aksebilitas. “Kita di Asmat ini hanya mengandalkan transportasi udara dan laut. Tidak ada jalur darat untuk keluar daerah. Kita berharap frekuensi penerbangan dan pelayaran ke Asmat semakin tinggi nantinya,” tuturnya. (Nuel)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment