Ribuan Anggota Jemaat GKII Hadiri Ibadah Syukuran

Bagikan Bagikan
Syukuran GKII
SAPA (TIMIKA) – Ribuan anggota jemaat  Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Pegunungan Tengah Papua yang datang dari   43 klasis, Minggu (16/7) memadati Gedung Tongkonan, Jalan Sam Ratulangi guna menghadiri ibadah syukuran atas putusan pengadilan Niaga Negeri Makassar, nomor 1/Sus-MKS/2017/PN Niaga MKS atas perkara pemegang hak cipta satu-satunya atas logo dan atau lambang berdasarkan  ciptaan pendaftaran 035075 tertanggal 9 Juli 2007 dengan judul Ciptaan Sinode  GKII.

Pengadilan Niaga Makassar menyatakan tergugat telah beretikad baik dalam mengajukan permohonan pendaftaran hak cipta dengan judul Ciptaan Sinode GKII (Kingmi) di Tanah Papua, dengan nomor pendaftaran 057465, 29 April 2011. Pengadilan Niaga Makassar memerintahkan tergugat untuk mencoret pendaftaran hak cipta dengan nomor pendaftaran 057465, 14 Februari 2011 dengan judul Ciptaan Sinode Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua dari daftar umum ciptaan. Pengadilan Niaga Makassar memutuskan, menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara Rp 671.000 serta menolak gugatan penggugat selain dan selebihnya.

“Hari ini adalah suka cita besar kita bersama, karena setelah sekian lama kita memperjuangkan lambang kita, namun karena kasih Yesus akhirnya kita dimenangkan. Itu berarti yang hilang telah dikembalikan oleh Yesus untuk kita semua di Papua,”ungkap Ketua Umum GKII se Indonesia, Pdt. Daniel Ronda ketika menyampaikan sambutannya.

Ronda mengatakan, yang diperjuangkan bukan meminta sesuatu, namun kita hanya mengharapkan hak kita dikembalikan. Dan menurut Ronda, Jemaat GKII se Papua harus bersyukur karena Pengadilan Niaga Makassar telah memutuskan dan mengakui hanya kita yang berhak menggunakan lambang tersebut. 
Dengan demikian Ronda mengatakan, Jemaat GKII harus bisa melihat arti dibalik lambang tesebut, dimana ada kasih, arahan dan ajakan dari Tuhan tentang kehidupan yang baik. 

“Kalau kita lihat secara mata manusia, lambang tersebut hanya lukisan manusia. Akan tetapi, yang ada dibalik lambang tersebut harus betul-betul diimani, sebab tersirat banyak kekuatan kasih Tuhan,”tutur Ronda.   

Selain itu Ronda mengatakan bahwa berdasarkan tema syukuran yakni, ‘Yesus Datang untuk Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang (Lukas 19:10),’ Jemaat GKII Wilayah II Pegunungan Tengah Papua diajak untuk meneladani Zakeus sang pemungut pajak, dimana meski dirinya dituntut untuk mengembalikan semua pungutannya sebanyak dua kali lipat, namun Zakeus mengembalikannya empat kali lipat.

Menurut Ronda, sejak lama lambang GKII digugat dalam perkara oleh pihak lain yang ingin menggunakannya, namun karena keyakinan dan kegigihan para pengurus atau hamba Tuhan GKII maka lambang tersebut dikembalikan dengan putusan dari pengadilan.

“Tidak apa-apa yang lain mengakui lambang itu milik mereka, tapi melalui Pengadilan Niaga, Tuhan telah memenangkan kita karena itu lambang itu milik kita,”ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua GKII Wilayah II Pegungan Tengah Papua, Pdt Niko Wakerkwa. Pdt. Niko mengakui, perjuangan memenangkan hak cipta kepemilikan lambang GKII bukan hal yang mudah, yang membutuhkan kesabaran dan kerja keras semua hamba Tuhan dan dukungan doa dari semua jemaat.

Dalam ibadah syukuran yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, penegak hukum, serta ketua pengurus dari beberapa klasis se wilayah Papua tersebut, Pdt. Niko mengakui, sejak 2006 hingga 2017 GKII selalu menggelar konferensi di Mimika dalam menguatkan pelayanan. 

Niko mengatakan, seluruh jemaat GKII harus bersama-sama memperjuangkan agar terus berdiri kokoh dan bersama-sama mengemban tugas pewartaan di tanah Papua tanpa harus mendengarkan pengaruh-pengaruh yang menyurutkan semangat pekabaran injil.

Niko mngakui, dalam tubuh GKII banyak bermunculan generasi-generasi cerdas yang bisa menjadi pelayan Tuhan, pekabar firman dan penabur kasih diantara sesama. Dengan demikian, dengan dimenangkannya lambang GKII tersebut, maka generasi tersebut harus berani melibatkan diri dalam menjadi hamba Tuhan.

“Untuk apa Sarjana dan Doktor kita di tanah Papua, kalau bukan untuk menebarkan pekabaran injil. Jangan hanya pintar berpolitik dan menghambur-hamburkan uang Negara, sementara untuk pekabaran Injil tidak bisa apa-apa,”ungkapnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. keputusan Hukum sepihak saja itu secara hukum dari satu belah pihak perkara tidak ada berarti tidak sah sementara para pemimpin gereja masalah LOGO itu organisasi ini bukan baru dan bukan soal karna saya ke jakarta surabaya makasar ikut ibadah di GKII ke papua kingmi GKIP perbedaan dimana ?? ini pekerjaan Tuhan bukan kepentingan Dunnia

    ReplyDelete