Tajuk: Anak-anak Amungsa Meratapi Masa Depan

Bagikan Bagikan


Seharusnya anak-anak Amungsa tidak pernah merasa pesimis akan masa depan ketika semua guru selalu dan senantiasa berada bersama mereka. Menuntun mereka bermimpi meraih masa depan lewat pendidikan dan proses belajar mengajar di peisir dan pedalaman Mimika. Anak-anak Amungsa diseputar pesisir dan pedalaman semestinya tidak berduka dan meratapi masa depan mereka. Karena Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan menelantarkan para guru honerer yang sudah menjadi sahabat mereka selama ini.

Jangan membiarkan mereka bersenandung duka dan meratapi masa depan. Seharusnya lidah dan mulut mereka dengan riang gembira  mendendangkan lagu Himne guru:  “Terpujilah engkau ibu bapa guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.... dan seterusnya. Masak tega..! Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang nota bene menjadi bagian dan  pernah menyandang predikat sebagai patriot dan pahlawan tanpa jasa.  Dan ikut menggelorakan lagu Himne guru kepada anak didik mencederai sendiri  Himne guru!”  Atau Himne guru hanya sebatas slogan dikala silau dengan jabatan yang disandang. Semestinya, ibu, bapa guru yang berdemo menuntut hak,  setelah mereka menjalankan kewajiban tidak perlu mencoreng predikat pahlawan tanpa jasa. Anak-anak Amungsa di pesisir dan pedalaman yang menanti mereka bisa berbagi ilmu tidak berduka dan meratapi masa depan.

Kita tidak boleh melucuti impian mereka meraih masa depan hanya gara-gara dana insentif. Kalaupun dana itu memang tidak pernah dianggarkan. Mengapa? Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak mensosialisasikan sebelum tahun anggaran berjalan. Sementara, informasi yang berkembang dan santer di tengah masyarakat tercium, ada guru-guru baru yang baru diangkat Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika sudah dibayar gaji dan insentifnya. Ini luar binasa! Logika miring seperti ini, tidak heran kalau guru-guru honor sangat ngotot dan boleh jadi mereka memegang kartu AS, soal gaji dan insentif guru yang baru diangkat sudah dibayar.
Ingat! Sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu kelak akan jatuh terkapar. Meski saat ini, kita ibarat melempar batu sembunyi tangan dan berkelit atas nama SK dan tidak dianggarkan. Apakah itu benar! Karena amanat Undang-Undang dasar 1945 pasal 28 sangat jelas dalam petunjuk teknisnya bagi seluruh kabupaten/kota mengalokasikan dana untuk pendidikan 20 persen dari total APBD kabupaten/kota.

Apakah kita tidak pernah takut bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang berkeliaran di Timika mengikuti dan mengumpulkan data soal dana insentif Kabupaten Mimika tahun anggaran 2016 dan 2017?” Kita tidak boleh menyesal bila ada yang diringkus gara-gara dana insentif.  Karena kami sudah mengingatkan lebih awal sebelum itu terjadi. 
    
Sekedar intermeso, Indonesia baru meratifikasi konvensi hak perlindungan anak  pada tahun 2002 dengan mengeluarkan kebijakan resmi berupa penerbitan Undang-Undang Perlindungan Anak. Setelah dikeluarkan UU tersebut, Aceh dan Sulawesi Selatan menyusul menerbitkan Peraturan Daerah Perlindungan Anak. Di Aceh, Perda Perlindungan Anak ini disebut Kanun.

Mungkin momen soal dana insentif ini menjadi momen berharga bagi kita di bumi Amungsa. Kita segera menjawab Perda tentang Perlindungan Anak untuk menghibur dan menghapus air mata anak-anak Amungsa yang sedang meratap masa depan mereka.  Sebab, Convention of the Rights of the Child  yang berisi  54 pasal dan sudah dikelompokan dalam lima cluster, yaitu  hak-hak sipil dan kebebasan fundamental; hak dalam lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; hak dalam kesehatan, gizi, dan sanitasi lingkungan; hak dalam pendidikan, waktu bersantai, dan kegiatan budaya; serta hak dalam perlindungan khusus. Supaya, kita bisa dicatat dalam catatan sejarah perjalanan Kabupaten Mimika pernah mengukir dan mewariskan catatan berharga bagi anak cucu di kemudian hari.

Mari..., kita memberikan sebuah kado yang berharga kepada anak cucu sambil merenungkan pernyataan berikut: “Abad ke dua puluh satu menjadi abad pencerahan atau tidak pernah sama sekali. Walau kita sedikit cemas, itu pertanda awal dari kebijaksanaan. Semoga! (Fidelis S. Jeminta)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment