Tajuk : Menanti Bupati Mimika Selamatkan Anak Amungsa.

Bagikan Bagikan
Andaikan kita semua menyaksikan bagaimana ekspresi kegembiraan anak-anak di berbagai belahan lain di Indonesia merayakan hari anak, Minggu (23/7) kemarin. Mereka bisa bermain ular tangga bersama Presiden RI, Joko Widodo. Asyik menyaksikan peristiwa itu. Anak-nak itu terlihat gembira, bersukacita dan mempertontonkan masa depan yang cerah berada di pelupuk mata mereka. Lantas...! Bagaimana kabar dengan anak-anak kita di bumi Amungsa......?”

“Ya..., kita di Mimika masih sibuk beragumentasi tidak bisa diselenggarakan, karena bertepatan dengan hari Minggu.  Memang...., di belahan lain, di Indonesia bukan hari Minggu!  Bukan...! Semua institusi, terutama Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan yang sangat dekat dan bertanggung jawab atas hari anak masih sibuk membuat petak umpet dan membangun strategi meluluhkan hati para guru yang sering demo dana insentif. Apa itu solusi dan jawaban yang pantas. Bukankah para guru itu berdemo menagih hak dan kewajiban setelah menjalani kewajiban?” Semestinya, kita harus sibuk mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi dengan harapan anak-anak Amungsa.  Setelah, guru-guru meninggalkan tempat tugas dan sibuk berdemo dari hari ke hari.

Sementara, anak-anak Amungsa sedang menanti mendapat pendidikan yang layak dan hak atas pendidikan. Berhenti berkelit dibalik aturan soal dana insentif. Anak-anak Amungsa lagi menangis dan menjerit akibat tidak tahu membaca, menulis dan berhitung.  Apa kita sudah tidak mempunyai hati dan nurani lagi. Ataukah mata hati dan pikiran kita yang jernih sudah silau dengan potret sudirman yang terpampang dalam uang kertas Indonesia?” Jika semua menyembah berhala kepada uang. Ini malapetaka besar!  Ingat! Rumus dana insentif itu dihitung berdasarkan data anak-anak Amungsa yang berada di daerah-daerah yang terisolir dan sulit dijangkau pelayanan pendidikan. Bukan soal ada SK atau tidak ada SK. Kita seharusnya malu. Dana itu diberi kepada mereka yang totalitas mengabdi dan menjalankan pelayanan pendidikan bagi anak-anak di daerah yang terisolir. Sehingga, mereka mendapat pelayanan pendidikan yang layak dan mendapat hak atas pendidikan. Jika masalah ini berlarut-larut. Malapetaka besar bagi anak-anak Amungsa tidak mendapat pendidikan yang layak.

Ingat! Hak atas pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia di Indonesia tidak sekadar hak moral melainkan juga hak konstitusional. Ini sesuai dengan ketentuan UUD 1945 (pasca perubahan), khususnya Pasal 28 C Ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Selain ketentuan di atas, Pasal 31 ayat (2) UUD 1945 (pasca perubahan) juga merumuskan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar, sedangkan pemerintah wajib membiayainya. Pasal 31 ayat (3) dan (4) menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dengan demikian, Bupati Mimika, Eltinus Omaleng segera turun tangan sebelum anak-anak Amungsa semua buta aksara, itu pertama. Kadua, Bupati Mimika mesti jeli membaca siasat yang dibangun Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan lewat dana insentif ini sedang memperlihatkan sebuah isyarat melemahkan prestise bupati. Sebelum, strategi itu membias kemana-mana dan mempertaruhkan wibawa dan martabat,  jauh lebih arif menghentikan semua sandiwara itu. Sebab, muara akhirnya mereka semua akan mencuci tangan dan melepaskan beban itu kepada pundak bupati.  Ini siasat yang sangat cerdik memelihara momentum sambil mengulur waktu memanfaatkan momen Pilkada 2018 yang sangat dekat. Harap analisa ini keliru. Jika jitu...! Jangan pernah menyesal, karena kami sudah mengingatkan lebih awal sebelum terjadi. Semoga. (Fidelis S Jeminta)
  

    

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment