Tajuk : Pemimpin Wanita Tidak Buat Kekacauan

Bagikan Bagikan
SAAT ini kedudukan pria dan wanita sudah bisa dikatakan sejajar. Hal ini terbukti dengan banyaknya wanita yang menjadi pemimpin di perusahaan dan di lembaga pemerintah.

Dalam hal kepemimpinan, jangan meragukan kepemimpinan wanita. Karena wanita yang memimpin akan membawa pengaruh yang sangat baik. Dan berikut ini adalah alasan mengapa wanita lebih baik dalam memimpin.

Wanita mendengar . Semua manusia diciptakan telinga dan mulut untuk mendengar dan berbicara. Namun, hanya wanita dianugerahi naluri yang kuat untuk mendengarkan dan berbicara memakai hati. Ini yang membuat wanita lebih baik menjadi pemimpin, karena sangat mendengar aspirasi bawahannya.

Wanita bisa berkolaborasi. Wanita memiliki passion untuk bekerja dengan orang lain. Ini memberi kesempatan kepada bawahan yang ingin menyuarakan opininya dan menjadi bagian dari percakapan.

Wanita lebih fleksibel. Fleksibilitas bukan hanya tentang fisik. Tak kaku kepada peraturan dan toleransi pada bawahan membuat wanita lebih baik dalam memimpin.

Wanita pandai memotivasi. Berkesinambungan dengan kemampuan mendengarnya, wanita juga pandai memotivasi. Karena lebih perasa, kebanyakan pemimpin wanita mengerti apa yang harus ditonjolkan  dan apa yang harus dikurangi dari sebuah potensi.

Penuh Kasih. Meski banyak yang sering mengatakan bahwa wanita lebih emosional saat menjadi pemimpin,  ada ahli yang menyatakan wanita itu memimpin dengan penuh kasih. Bukan berarti memanjakan. Penuh kasih berarti mampu bersikap tegas dan bertujuan membangun.

Lebih Fokus. Wanita itu lebih fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya—terutama jika beban kerjanya banyak. Soalnya, wanita sudah terbiasa dengan banyaknya pekerjaan dalam satu waktu, mulai dari pekerjaan kantor, tanggung jawab sebagai ibu, hingga semua hal yang berkaitan dengan penampilan.

Membiarkan Hati Bicara. Dalam menghadapi persoalan, kadang tidak selamanya logika yang digunakan untuk menyelesaikannya. Untuk mencapai tujuan, hati perlu digunakan agar semua bisa berjalan baik. Menjadi makhluk yang lebih sensitif, membuat wanita lebih mudah dalam menerapkan peran hati saat menjadi pemimpin. Intinya menyatukan hati dan logika. Mengusahakan ada keseimbangan antara keduanya sehingga bisa menjadi pemimpin yang baik.

 Wanita secara kodrati memang lebih banyak menggunakan perasaannya ketimbang pria. Namun, wanita harus memilih untuk melakukan kompromi. Ia tetap tegas untuk memutuskan ikatan kerja bawahannya, tapi  dengan cara yang lebih ‘manis’ dan tak menyakiti hati. Jika naluri ini diikuti tanpa ada penyesuaian, tentu saja akan merugikan wanita, karena orang-orang akan memandang ia sebagai atasan yang lembek, tak bisa mengatur orang atau membuat keputusan yang tegas. Yang dilakukan wanita sangatlah bijaksana, ia mampu mencapai tujuan lembaga dan sekaligus menjaga hubungan baik dengan bawahannya serta mendapatkan respek dari tim anak buahnya yang lain.


Lalu bagaimana dengan para pejabat/pemimpin wanita atau wanita yang menjadi Kepala SKPD di Kabupaten Mimika? Seperti Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan, Jeni O. Usmani, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Alice Irene Wanma, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Perkebunan Yohana Paliling.

Siapakah diantara mereka ini yang dalam memimpin lembaga dan bawahannya sudah sesuai dengan criteria pemimpin wanita di atas? Siapa yang tidak? Tentu saja yang tergolong tidak sesuai adalah pemimpin wanita yang dalam memimpin lembaganya menimbulkan banyak kekacauan, yang berlaku semena-mena, tidak adil, merugikan dan menyengsarakan bawahannya, yang mendapat kecaman dari berbagai pihak karena berbohong, tidak pandai mencari solusi, kaku pada aturan, kebijakan dan keputusannya tidak menggunakan hati nurani dan tidak mendengar masukan dan saran dari pihak lain yang baik untuk dirinya dan lembaga yang dipimpin. (*/yulius lopo)
 




Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment