Tangkapan Ikan Berkurang Warga Kamoro Palang Jalan

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA)  - Sedikitnya 100 warga asli Suku Kamoro melakukan aksi pemalangan jalan dijalan poros Poumako, Kampung Poumako, Distrik Mimika Timur, Selasa (25/7)  mulai pukul 08.00 sampai 14.30 WIT sebagai protes atas kehadiran sejumlah kapal ikan di perairan Mimika yang membuat hasil tangkapan ikan warga berkurang drastic.

Masyarakat suku Kamoro menuntut agar para pencari ikan orang pendatang tidak diperbolehkan mencari ikan lagi karena merusak mata pencarian mereka yang selama ini menggunakan  peralatan terbatas dengan hanya menggunakan Katintin. Sementara para pendatang telah mencari ikan dengan jaring panjang dan piber.

Adapun kronologis kejadian sebagai berikut.  Sekitar pukul 08.10 WIT masyrakat Suku Kamoro secara spontanitas menutup jalan poros Poumako menuntut agar para penjaring ikan orang pendatang untuk tidak menjaring lagi karena menganggu mata pencarian asli  masyrakat Suku Kamoro. Sekitar  pukul 08.25 WIT anggota KP3 Laut dan anggota Polairud Polres Mimika yang berjumlah 15 orang,  dipimpin Iptu Barnabas tiba di lokasi kejadian dan langsung bersosialisasi dengan masyarakat.

Iptu Barnabas selaku Kepala Sektor Polairud Mimika)  mengimbau masyarakat kalau mau meyampaikan aspirasi jangan memalang jalan karena menganggu penguna lain yang membutuhkan. “Kalau bapak ibu mau meyampaikan aspirasi mari sama-sama ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang berjarak 200 meter dari sini, kita disana  bisa berdiskusi agar bisa mencari jalan keluarnya,” kata Barnabas.

Sekitar pukul 09.00 WIT, setelah berumbuk dengan sesama masyarakat Suku Kamoro akhirnya palang dibuka dan seluruh masyarakat berjalan bergegas menuju ke Kantor DKP dan lansung bertemu dengan Kepala DKP. Marike Hiranusi.

Dalam acara diskusi terbuka, Wakil Ketua III Lemasko, Marianus Maknaipeku  mengatakan, aksi demo palang jalan dilakukan karena, warga pendatang menggunakan kapal dan jarring yang panjang sehingga mendapat ikan dalam jumlah banyak dan langsung di jual, sehingga ikan hasil tangkapan masyarakat Kamoro tidak laku dijual dan akhirnya busuk,

“Kenapa bisa mereka dapat ijin mencari uang di laut kami, siapa yang kasih ijin Ibu Dinas, jawab, jawab, apakah kalian semua dibayar.  Kkalau mau pendatang mencari makan di kampung kami silahkan, jangan menjaring tapi hanya sebagai pembeli, biar mereka yang pasarkan, kami mencari di laut, karena itu laut kami sebagai anak Kamoro,” kata Marianus.

Menanggapi penyampaian Marianus, Kepala DKP, Marike Hiranusi mengatakan, perlu ketahui untuk kapal yang berkapasitas 10 GT ke bawah, itu tidak perlu pakai surat ijin pelayaran, dan mereka juga mengunakan jaring standar, bukan pukat harimau.

“Nanti kami juga sampaikan kepada Dinas  Perdangangan harus ada suatu tempat untuk menadah hasil jaring bapak-bapak biar ikan tidak busuk. Saya tahu masyrakat Kamoro mara pencrian ada di laut, saya minta semua perwakilan yang mau bicara silahkan bicara kita cari solusi yang terkait, semua untuk kepentingan masyrakat.  Ini ada perwakilan dari Lemasko, mari bapak ibu sampaikan aspirasi, masyarakat jangan menjadi korban, tetapi harus ada jalan keluar,” kata Marike.

Seorang  ibu  mewakili Suku Kamoro  mengatakan, aksi ini dilakukan karena masalah ekonomi, ini hak sulung bagi suku Kamoro yang telah dirampas warga pendatang. “Saya sampaikan Negara Indonesia memberikan Papua ini otonomi khusus, orang lain jangan menganggu mata pencarian hak kami suku Kamoro. Saya minta Lemasko dan pemerintah duduk, jangan ada lagi saudara kita pendatang untuk mencari ikan di laut Kamoro. Kepala kampung mereka bermain itu dari dulu dengan kepala suku, pak camat perhatikan itu, untuk rumah kost para penjaring itu segera kasih kosong, pulangkan mereka,” kata ibu ini.

Kepala Distrik Mimika Timur dalam tanggapannya mengatakan, sebelum bapak ibu demo hari ini, dirinya sudah memanggil para pencari ikan warga pendatang, tetapi hanya pengusaha Poumako saja yang datang, dari Iripau kebawah tidak datang.

“Bapak ibu perlu tahu, walaupun saya Suku Ambon tapi saya lahir dan besar di Tanah Kamoro, jadi saya mau perubahan supaya kita tidak dianggap biasa saja. Anak-anak bisa sekolah yang tinggi dan berubah, bisa jadi pemimpin dan bisa bekerja di kantor pemerintahan,” katanya.

Dalam acara diskusi ini, sejumlah warga perwakilan dari Suku Kamoro yang menyampaikan aspirasi pada intinya meminta Pemkab Mimika melalui DKP membantu masyarakat Kamoro kapal piber dan jarring yang panjang agar bisa menangkap ikan dalam jumlah banyak.

Menanggapi permintaan warga tersebut, Kepala Disntrik Mimika Timur mengatakan  akan menyampaikan ke Bupati, bahwa jangan katintin lagi tapi piber.

Pada kesempatan tersebut sejumlah warga menyampaikan ada piber milik warga pendatang yang telah disita sebelum aksi pemalangan jalan ini dilakukan.

 “Masyarakat tadi pagi sandra piber, berapa tahun Lemasko tapi tidak pernah lihat masyarakat Kamoro, kamu berdiri sebagai anak Kamoro, piber yang kami sandra kamu Lemasko harus bayar, lemasko aneh, tidak pernah perhatikan kami. Kalau tidak bayar kami akan bikin demo di Lemasko, saya yang pimpin. Satu hari kami menjual hanya dapat 50.000 bagaimana kami makan. Anak saya masuk sekolah pelayaran, mana pernah diperhatikan sama lemasko,” kata Martinus Waekatewao.

Menanggapi penahanan piber ini, Kepala Distrik Mimika Timur, Kapolsek Kp 3 Laut, Bapak Iptu Samsul Hadji dan Kepala Polairud Mimika meminta warga untuk mengembalikan kepada pemiliknya, karena tindakan tersebut tergolong pelanggaran hukum.

Sekitar  pukul 14.30 WIT, diskusi selesai  dan masyarakat Suku Kamoro  kembali ke rumahnya masing-masing.

Tertibkan Nelayan Non Papua
Ketua Lemasko Robert Waorapea, SH yang ditemui terpisah mengatakan pihaknya telah meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika untuk untuk menertibkan kapal-kapal  pengusaha-pengusaha ikan yang membuat hasil tangkapan warga Kamoro berkurang.

“Lami sudah sampaikan ini kepada pemerintah  untuk menertibkan nelayan-nelayan non Papua dan kami sarankan supaya kita punya saudara-saudara dari luar Ini dia beli ikan sudah dari masyarakat dan jangan mereka pergi mencari dan menangkap,” kata Robert ketika ditemui diruang kerjanya dikantor Lemasko SP4,  Selasa (25/7).   (Red/Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment