Tinggi Gelombang 2,5 Meter, Warga Dihimbau Tak Melaut

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Timika, Aji Supraptaji menghimbau warga masyarakat dan para nelayan tidak melaut. Karena tingggi gelombang diseputar perairan Amamapare mencapai 2,5 meter.
Ketinggian gelombang di perairan Amamapare itu  tidak terlepas dari hembusan angin yang berhembus dari arah Timur dan Tenggara berkecepatan 40 km/jam disertai awan konvektif ke wilayah selatan Mimika. Perubahan itu mengakibatkan hujan dan tingginya gelombang yang mencapai 0,5 meter hingga 2,5 meter.
“Kami amti data terakhir,  biasanya pada saat pagi hari sering hujan di wilayah Selatan Timika dan  angin berhembus dari timur dan Tenggara. Situasi itu sangat signifikan terjadinya pembentukan cuaca disini,” katanya kepada Salam Papua di ruang kerjanya di Kantor Pemantau Klimatologi BMKG Timika, Senin (17/7).
Dia menjelaskan curah hujan dan tingginya gelombang akibat dari hembusan angin dengan kecepatan 40km/jam dengan membawa uap air dari wilayah Pasifik Selatan dan melewati Papua. Namun kecepatan angin 40km/jam itu sampai di Papua, tepatnya di Pegunungan Jayawijaya terhalang. Akibat angin terhalang dan memantul  ke wilayah Mimika dalam bentuk awan,  sehingga menimbulkan hujan yang disertai tinggi gelombang.
“Masa udara berhembus dari arah pasifik bagian timur suplai uap air dibawa ke wilayah Papua. Ini sangat fenomenal bagi atmosfir dibagian selatan Papua, kebetulan di Papua ada gunung Jayawijaya tapi hembusan angin kisaran 40 Km/jam terhalang  di Pegunungan Jayawijaya membuat masa udara memantul ke atas dan kembali dalam bentuk awan sehingga sering terjadi hujan,” jelasanya.
Perubahan itu, kata Aji membentuk hujan dan gelombang tinggi mencapai 2,5 meter. Dengan kondisi seperti itu BMKG berkewajiban mengingatkan para nelayan dan warga masyarakat tidak boleh melaut sementara.
Dia berharap otoritas pelabuhan segera mengimformasikan dan menghimbau kepada nelayan  dan warga tidak melaut. “Para nelayan perlu mengetahui kondisi itu. Dan prlu diketahui pula puncak curah hujan agak tinggi pada Juli denga  fluktuatif yang tidak menentu. Bisa saja terjadi pagi, siang, dan malam. Kondisi itu sangat berpengaruh terhadap keselamatan, lebih-lebih warga yang melaut dengan perahu kecil,” harapnya.
Dia menyebutkan kondisi cuaca di Papua secara keseluruhan relatif berbeda dan tidak semua Kabupaten di wilayah Papua dan Papua Barat mengalami kondisi cuaca yang mirip dengan Timika. Ada beberapa daerah di wilayah Papua Barat seperti Sorong akan mengalami kondisi cuaca yang sama pada bulan Juli.
“Secara umum kondisi cuaca di Papua tidak sama seperti yang terjadi di Timika. Memang ada beberapa daerah yang kondisi cuacanya mirip dengan Timika, seperti Sorong Papua Barat,” katanya. (Ricky Lodar).
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment