TNI AU Mempertajam Pesawat Tempur

Bagikan Bagikan

SAPA (TIMIKA) – Untuk memperkuat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah udara, pemerintah pusat melalui TNI AU akan lebih mempertajam alutsista, khususnya pesawat tempur.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI Hadi Tjahjanto,SIP yang ditemui wartawan di Markas Komando (Mako) Pangkalan Udara (Lanud) Timika, Rabu (19/7) mengatakan, misi TNI AU yang sekarang ini dilaksanakan adalah sudah masuk pada rencana startegi (renstra) II di 2014-2019, yakni menjadikan TNI AU yang profesional dan modern. Sehingga program-program yang dilakukan sesuai renstra, yakni menambah kekuatan pada pesawat tempur.

“Sekarang TNI AU sudah masuk pada resntra II dan didalam perencanaan tersebut, program yang akan dijalankan adalah menambah kekuatan,” katanya.

Dijelaskan kenapa penambahan kekuatan pada pesawat tempur ini dilakukan. Hal ini dikarenakan, saat ini TNI AU hanya memiliki 134 pesawat, terdiri dari pesawat angkut Hercules, Pesawat 295, dan Pesawat Cassa. Selain itu, pesawat tempur dari berbagai jenis, seperti Sukhoi, F-16, Super Tukano, Hawk, Helikopter Caracal dan Puma.

Dikatakan, dengan kekuatan 134 pesawat tersebut, maka untuk menjangkau luas wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke masih belum cukup. Karenanya, pihaknya menerapkan sistim minimum kekuatan. Dalam arti, dengan keterbatasan tersebut, maka pihaknya membangun pangkalan-pangkalan di wilayah perbatasan.

“Ya kalau dibilang ideal dengan kekuatan 134 pesawat masih belum cukup. Karenanya, perlu dioptimalkan sumber daya yang ada, baik personil atapun lainnya,”kata Kasau.
Kasau menambahkan, dari kondisi tersebut, maka pihaknya akan menambah satu skuadron di Makassar untuk menggantikan pesawat F5E, yang merupakan pesawat generasi 4.5 ++. Penempatan di Makassar ini, karena di tempat tersebut memiliki pesawat dengan tipe yang sama, yakni Sukhoi 27 dan 30.

Selain itu, kata dia, akan ada penambahan alutsista pesawat, sesuai dengan renstra yang ada, yaitu pesawat herkules. Ini dilakukan sebagai bentuk modernisasi dari TNI AU. Pesawat Hercules yang akan dibeli adalah tipe C. Dimana tipe ini merupakan jenis pesawat modern. Sehingga pilot-pilot TNI AU bisa merasakan lompatan teknologi, dari pesawat yang analog ke digital.

“Dengan penambahan Pesawat Herkules ini, maka diharapkan adanya pengembangan teknologi dan perbaikan alutsista pada TNI AU,”ujarnya.

Berikutnya penambahan Pesawat Fire Fighting. Penambahan ini dilakukan, karena melihat permasalahan yang ada di Indonesia, yakni seringnya terjadi kebakaran hutan. Maka diperlukan pesawat tersebut untuk membantu pemerintah.

Ditambah dengan pengadaan pesawat drone (pesawat tanpa awak). Dimana kita akan memilih jenis pesawat Maximum Altitude Long Endurance (MALE). Pesawat ini bisa terbang dengan ketinggian di atas 20 ribu kaki, dengan lama penerbangan 24 jam. Dan jangakauan dari pesawat tersebut bisa mencapai 200 kilometer.

“Penambahan-penambahan itu akan dilakukan, sebagai bentuk peningkatan profesional dan modernisasi TNI AU. Namun demikian, penambahan tersebut belum cukup ideal dengan luasa NKRI. Sehingga, kami masih menerapkan minimum kekuatan,”ungkapnya.

Sementara untuk Laut China Selatan, Hadi mengatakan, sebenarnya bukan bagian dari permasalahan Indonesia. Namun Indonesia tetap menjaga hal-hal yang tidak diinginkan atau yang menyangkut wilayah pertahanan NKRI. (Uji)



Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment