Warga Belakang Kuburan PLN Keluhkan Sampah Kiriman

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Warga RT 17, Kelurahan Kebun Sirih, tepatnya di Komplek Buton, mengeluhkan banyaknya sampah kiriman yang menumpuk di area sekitar belakang Kuburan PLN. Dampak dari itu mengakibatkan kali (saluran air-red) tersumbat, rumah warga tergenang air, dan dikerumuni sampah.

Seorang ibu rumah tangga (IRT) warga Komplek Buton, belakang kuburan PLN yang bernama Hadijah, kepada Salam Papua, Sabtu (29/7), mengeluhkan dan mengatakan meski curah hujan masih tergolong sedang, namun kali yang berada disekitar belakang kuburan PLN selalu meluap. Selain meluap disaat hujan akibat tersumbat tumpukan sampah kiriman, luas kali tersebut juga sangat sempit, bahkan sudah banyak juga bangunan yang didirikan tepat di pinggir kali.

Memang kalau dari atas (area Bambu Kuning-red) salurannya lebar, tapi yang kesini sampai di Jalan Freeport lama itu sudah mengecil. Soalnya sudah banyak dibangun rumah. Sekarang itu biar hujan kecil tapi air meluap sampai batas lutut orang dewasa. Itu sampai setengah tembok rumah yang digenang air. Belum lagi sampah-sampah masuk ke dalam komplek," kata Hadijah.

Terkait hal itu, Hadijah berharap agar Pemerintah bisa membangun tanggul, seperti yang dibangun di beberapa wilayah lainnya. Sebab menurut dia, jika tanggul dibangun maka luapan air tidak lagi masuk hingga ke pemukiman warga.

Tidak hanya itu, Hadijah juga mengharapkan adanya sosialisasi yang dilakukan Dinas Tata Kota (Distako). Hal itu dimaksudkan agar masyarakat Mimika khususnya di wilayah Kebun Sirih bisa membuang pada tempatnya, bukan di kali maupun saluran air lainnya.

Coba kalau masyarakat khususnya para pedagang bisa amankan sampah, pasti kami yang di wilayah ini tidak akan jadi korban. Jadi, caranya Distako bersama Lurah harus bisa sosialisasikan kepada warga agar sampah itu diamankan,” ujarnya.

Sejak lama, tutur Hadijah, perwakilan pemerintah telah melakukan pemantauan lokasi yang dimaksud, bahkan berjanji melakukan pengerukan kali yang dianggap sempit tersebut. Tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut untuk mengatasi hal ini.

“Sudah beberapa kali pegawai datang foto-foto, tetapi tidak ada eksekusinya sampai saat ini,tuturnya.

Selain itu Hadijah juga mengungkapkan, pada tahun 2015 lalu Ketua RT yang lama telah berupaya mengajak seluruh warganya mengisi formulir. Itu dimaksud agar Pemkab Mimika menyalurkan dana untuk penanggulangan kali tersebut, tetapi itu juga belum terealisasi.

Kita sudah dimintai tandatangan untuk penyaluran dana, tapi saat ini kita tidak tahu, dana itu larinya ke mana?ungkapnya.

Sementara itu Ketua RT 17 Kelurahan Kebun Sirih, Sofia Randongkir, membenarkan apa yang disampaikan Hadijah. Sofia juga mengakui kalau seluruh warganya di RT 17 sangat peduli akan kebersihan lingkungan, sehingga sangat disayangkan jika mereka menjadi korban genangan air akibat adanya sampah kiriman saat musim hujan seperti sekarang.

Menurut Sofia, upaya warganya di RT 17 untuk membersihkan sampah kiriman selalu dilakukan. Namun upaya itu tidak memberikan solusi yang tepat mengatasi genangan air. Sebab sampah kiriman selalu datangnya dari wilayah atas atau Bambu Kuning. Dan ketika hujan turun, tentunya sampah menyumbat kali (aliran air-red) dan menjadikan Komplek Buton tergenang air.

Sofia juga mengakui Kelurahan Kebun Sirih bisa saja mengumpulkan seluruh Ketua RT untuk memberikan sosialisasi mengenai kesadaran membuang sampah. Namun pada kenyataan pertemuan hanya dilakukan oleh dinas dan pihak kelurahan, tidak melibatkan semua pihak khususnya masyarakat.

Percuma kalau yang lakukan pertemuan hanya Distako, BLH (Badan Lingkungan Hidup) dan Kelurahan saja, sedangkan RT dan masyarakat tidak dilibatkan,” ujar Sofia.


Coba kelurahan juga sosialisasikan kepada setiap RT, biar warga tahu buang sampah itu bukan di got (Saluran air-red). Karena itu kebanyakan sampah-sampah pedagang,” tambahnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. intinya kembali ke masyarakat. jangan selalu menyalahkan pemerintah. pemerintah membuat saluran pembuangan sebesar apapun tapi kalau kurangnya kesadaran masyarakat ya sama saja. contohnya pembangunan rumah di atas saluran drainase, apa itu ada ijin dari pemerintah? apa ada sertifikat tanah dan bangunannya? mari kita jwb pertanyaan tsb pda diri kta masing2.

    ReplyDelete