Agustinus, Anak Petani Mimpi Jadi Pilot, Dikaruniai Jadi Komandan Pesawat Tanpa Awak

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratif Salam Papua Menyambut HUT RI ke 72

“Sesuatu yang mustahil dan muluk bagi manusia. Tiada yang mustahil bagi Tuhan.  Maka, rawatlah suara hatimu sambil berharap merasakan tetesan hujan kasih sayang dalam ribaan hati ayah dan ibu,  untuk bisa menghargai panasnya matahari, ketika melangkah meraih mimpi. Peliharalah kehangatan kasih sayang ayah dan ibu untuk mengekalkan semangat menjalani hidup ini. Karena berkat dan kesuksesan hasil dari jeritan doa ayah dan ibu.”

ITULAH petikan kata-kata bersahaja dari seorang tokoh inspiratif kedua pilihan Salam Papua dalam rangka menyambut HUT RI ke 72. Tokoh yang satu ini lahir dalam pelukan keluarga petani bersahaja dan hidupnya diselimuti aroma keterbatasan ekonomi. Dibalik kondisi itu, ia mengaku menyimpan mimpi menjadi pilot. Ia menyadari mimpi itu terlalu muluk bagi anak seorang petani. Disisi lain,  ia menuturkan sesuatu yang mustahil bagi bagi manusia, Tiada yang mustahil bagi Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, embrio mimpi itu memberi isyarat lewat sebuah pesawat sedang terbang di atas langit Ambarawa. Ia mengisahkan, suatu hari bersama ayah dan ibu ke sawah dan mendengar bunyi menderu pesawat melintasi langit-langit Ambarawa. Ia berkisah. Dia menengadah kelangit. Dia melihat sebuah pesawat kecil melintasi di atas langit Ambarawa. Dari bunyi pesawat kecil itulah cikal bakal embrio tokoh ini bercita-cita menjadi pilot.

Diakuinya mimpi semakin bertumbuh subur lagi dalam sanubari. Ketika, ia bertamasya ke sebuah Museum di Ambarawa. Dia berceritera,  di Museum itu ada gambar sebuah pesawat kecil milik Jepang. “Saya terpesoan sekaligus merawat apa yang dilihat itu dan kemudian berbuah menjadi cita-cita. Saya bertekad mewujudkan cita-cita itu dengan rajin ke sekolah dan saya tanpa disuruh sama ayah serta  ibu membantu mereka di sawah dan di ladang. Biasalah, anak petani harus bisa membantu orang tua,” tutur anak kedua dari pasangan Cipto Sudiono (80) dan Wakiem (74 - Almarhumah), Letkol Pnb Agustinus Gogot Winardi, di ruangan kerjanya di Lanud Timika, Rabu (2/8) kemarin.

Agustinus yang sangat ramah dan suka ketawa meledak-ledak menciptakan suasana keakraban sambil mempersilahkan media ini boleh merokok dan menikmati hidangan ringan yang disediakan bagi para tamunya mengaku berterus terang. Ayah dan ibunya petani sederhana yang memiliki hati bersahaja dan hidup dalam suasana toleransi yang sangat harmonis dengan saudara lain yang berbeda keyakinan di kampung halamannya. “Saya lahir dari ayah dan ibu beragama Hindu, 8 Mei 1976, di Desa Nampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Sementara saya dan kakak kandung saya bernama Antonius Benuwardi, ayah dan ibu menuntun kami berdua di Baptis dalam Gereja Roma Katolik.  Awalnya, ibu saya ajak saya ke Pasar dan berpapasan dengan seorang Pastor. Ibu saya gandrung sekali dengan penampilan dan pancaran hidup pastor itu, itu pertama. Kedua mereka gandrung pula dengan pancaran hidup seorang Ketua Stasi di Kampung kami. Dari situlah, Ayah dan ibu menuntun kami mengikuti katekumen di rumah Ketua Stasi di Kampung Nampin. Saya mencium harapan ayah dan ibu, salah satu dari anaknya, entah saya atau kakak saya bisa menjadi Pastor. Itu tercium ketika,  mereka  menuntun saya dan kakak saya masuk sekolah di sekolah Kristen. Saya agak lupa sedikit kakak saya mungkin dibaptis ketika duduk di kelas V. Karena, saya menerimakan baptisan itu di kelas V.  Itulah bukti buah dari kasih sayang ayah dan ibu saya. Walau ayah dan ibu saya petani. Kakak saya disekolahkan hingga tamat sekolah pendidikan guru dan bekerja  sebagai guru. Ayah dan ibu memang bekerja keras menyekolahkan saya dan kakak saya bisa menikmati pendidikan di sekolah Kristen yang sangat berkualitas sejak dari SD, SMP hingga SMA,” kisahnya mengenang masa kecil dalam pelukan ayah dan ibu yang berjuang keras mewarisi masa depan bagi anaknya memiliki masa depan yang gemilang.

Ladang Persemaian Cita-Cita Jadi Pilot.
Ketika menelusuri ladang persemaian cita-cita Agustinus Gogot Winardi kecil menjadi pilot dan dikarunia berkat besar dalam hidupnya,  dipercayakan menerima amanat 2014  sampai 2016 di pesawat tanpa awak dalam misi pengintaian sebagai Komandan Skadron 51 dengan armada 4 buah pesawat pengintai di Pontianak, Kalimantan Barat. Bagaimana kisah seru anak petani asal Nampin yang menikahi darah manis asal Ambarawa, Rita Endang Sukmawati, walau bukan cinta pertama, tetapi cinta terakhirnya sambil tertawa lebar dan berterus terang menjumpai kekasih hidupnya kurang pede. Ia mengaku ketika pertama kali bertemu kekasih jiwanya,  di Sebuah Gua Maria Kereb, Ambarawa. Saat itu, Agustinus juga mengaku sedang menjawab mimpinya di Akademi Angkatan Udara, Jogya.

Pasangan setia Rita Endang Sukmawati yang dikarunia tiga orang buah hati, putra pertama, Marcelinus Kevin Bagaskara sementara duduk di kelas II di SMA CDS Sapientiadi Beno, putra kedua, Kornelis Theo Simbarlangit kelas II di SMP Pangudi Luhur Jogya dan buah hati ketiga, Laurensius Yonathan Barjua (almurhum) mendahului menikmati singga sana Altar Tuhan ketika berusia 2 tahun akibat menginap penyakit Kanker. Ia mengisahkan, untuk menjawab mimpi menjadi pilot dilalui di ladang persemaian cita-cita  di SD Kristen Nampin, SMP Mater Alma Ambarawa dan SMA Sapientiadi Beno, Ambarawa Angkatan Kedua. Setelah tamat SMA, Agustinus menuturkan, ada dua orang senior yang menambah inspirasi. Mereka  berpangkat kolonel dari Angkatan Darat.

“Inspirasi dari dua senior dalam kampung kami itu yang menambah amunisi saya meraih cita-cita menjadi pilot. Meski saya sadar, cita-cita saya terlalu muluk dalam keterbatasan ekonomi orang tua yang petani  bisa melanjutkan pendidikan di sekolah penerbangan. Tetapi, saya percaya misteri penyelenggaraan ilahi itu, kita tidak pernah tahu. Dan saya memegang teguh sambil berjuang tanpa menyerah meraih cita-cita itu dalam satu nas Kitab Suci berfirman:”Segala sesuatu yang mustahil bagi manusia, tapi tiada yang mustahil bagi Tuhan.” Saya sangat percaya itu dan berkat doa ibu dan ayah, anak petani tidak hanya menjadi pilot di Angkatan Udara malah sempat  mendapat kepercayaan dalam penugasan sebagai Komandan di Skadron 51 dengan armada 4 buah pesawat pengintai di Pontianak Kalimantan Barat 2014-2016,” tuturnya bangga.

Letkol Pnb Agustinus Gogot Winardi ini mengisahkan suka dukanya hingga mendapat kepercayaan sebagai Komandan Lanud Timika berawal dari tamat SMA meniti jalannya mimpi mengikuti pendaftaran umum di Ajemren Semarang,  calon taruna Akmil Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Kepolisian jadi satu.

“Saya memilih mendaftar mengikuti petunjuk mimpi mendaftar calon Taruna Akmil Angkatan Udara, itu pilihan pertama. Pilihan kedua Angkatan Darat terinspirasi dari dua senior saya. Panitia seleksi menyeleksi calon Taruna Akmil Ajemren Semarang sesuai pilihan pertama. Pilihan saya kandas alias tidak lulus. Tetapi, saya tidak patah arang.  Saya mencari kerja di Jakarta di perusahaan pemintal kapas selama kurang lebih 8 bulan mengumpulkan uang, terkumpul 500 ribu rupiah tahun itu.  Nilai itu besar sekali dan saya kembali meraih mimpi  mendaftar lagi di Ajemren Salatiga.  Karena, saya anak petani berjuang mengumpulkan uang itu membiayai pendaftaran dan perjuangan saya yang kedua langsung gol dan diterima sebagai calon Taruna Akademi Militer (Akmil) di Magelang dan mengisi formulir memilih di Angkatan Udara.   Saya bahagia sekali, titian menjadi Pilot semakin dekat di pelupuk mata. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, apalagi masuk Akmil selama 3,5 bulan masuk Angkatan Udara,” tuturnya bangga sambil tertawa lebar bersama media ini dan Pemimpin Umum Salam Papua.

Agustinus menegaskan, perjuangan untuk meraih cita-cita dan impian besar setiap orang itu mesti dibarengi dengan ketekunan dan keuletan yang tinggi. “Saya berpikir untuk meraih kesuksesan tidak memandang status sosial orang tua. Kesuksesan diaraih dari upaya kerja keras meraih peluang dan jangan menyia-nyiakan kesempatan itu. Itu yang saya lalui dalam hidup saya sebagai anak dari seorang petani ketika melewati seluruh perjalanan hidup saya meraih cita-cita dan membangun hidup keluarga yang bahagia. Nah, kita sampai dimana?” kilahnya dan disergah media ini, sampai pada proses masuk Akmil Angkatan darat. “Oke..., oke...,” tukasnya.

Kisah seru seputar masuk Akmil dan perjalanan tokoh inspiratif Letkol Pnb Agustinus Gogot Winardi sampai berlabuh pada puncak menjadi pilot. Tokoh ini  mengisahkan melalui route yang panjang dalam ujian terakhir menerbangkan pesawat Herculus ke Wamena 2004. Kisah pengukuhannya sebagai Perwira Angkatan Udara  di Istana Presiden disaksikan kedua orang tuannya yang tercinta akan dilukiskan dalam episeode kedua. Karena, kisah episode kedua ini sangat menginspirasi, terutama bagi generasi muda penerus bangsa bagaimana bangganya menyaksikan panorama alam Indonesia yang sangat indah ketika menerbangkan pesawat Hercules. Menikmati penerbangan seraya mencicipi kekayaan Indonesia. “Saya benar bangga menjadi anak kandung ibu pertiwi Indonesia.  Maka mari kita menggemakan dan mematrikan dalam sanubari semboyan “Saya pancasila, Saya Indonesia,” katanya dengan sambil mengepalkan tangannya.

Ia menyadari untuk menyulutkan semangat “saya pancasila” dan “saya Indonesia” itu memang tidak mudah ketika menyaksikan apa yang sedang terjadi diseputar daerah Papua, terutama di Mimika. Tetapi, dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 72 di Kabupaten Mimika, semua warga masyarakat Mimika mesti memanfaatkan momentum HUT Kemerdekaan RI ke 72 ini untuk mengisi kemerdekaan dengan bertekad bangkit memajukan Kabupaten Mimika, menciptakan situasi yang kondusif. Supaya pemerintah bisa membangun daerah ini dalam suasana yang aman.

“Ingat. Menikmati kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan keringat dan darah semua golongan warga Indonesia, tanpa memisahkan golongan ini dan golongan itu. Maka kita wajib mengisi kemerdekaan Indonesia kembali pada UUD 45 dan Pancasila. Meski kita menyadari ada yang sedikit melenceng ingin mengabaikan, mengaburkan dan mengkianati sejarah NKRI yang sudah diletakan dengan keringat dan darah. Maka, momen HUT RI ke 72 ini di Kabupaten Mimika kita semua harus seiring sejalan menggelorakan semangat, saya pancasila, saya Indonesia. Mari... kita jangan melupakan sejarah,” katanya meyakinkan.

Dia mengaggumi toleransi di Papua sangat tinggi. Maka generasi muda Papua dalam momentum HUT RI ke 72 ini sebagai momen mengejar ketertinggalan. Pemerintah daerah serius membenah dan meningkatkan pendidikan untuk mendorong SDM anak Papua yang cerdas, terutama di Kabupaten Mimika ini belum optimal meningkatkan program pendidikan. Dan pemerintah wajib mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan membangun koordinasi lintas sektoral dan optimalkan komunikasi yang intens dengan warga masyarakat.

“Saya melihat itu yang masih lemah. Sehingga kepercayaan masyarakat agak kurang terhadap pemerintah. Ibarat pepatah “lebih baik mundur satu langkah untuk maju 1000 langkah” demi Kabupaten Mimika. Saya sebenarnya miris melihat ekspetasi Mimika saat ini. Tapi, belum terlambat untuk memulai sesuatu yang baru dalam mengisi momentum kemerdekaan HUT RI yang ke 72,” ujarnya. (Fidelis S J/Yulius O Lopo) 


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment