Banyak Pedagang ‘Nakal’ di Agats

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) – Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Asmat, Jasmin Basir mengungkapkan banyak pedagang ‘nakal’ di Kota Agats, Kabupaten Asmat.

Menurutnya ada sejumlah pedagang yang menjual bahan pokok maupun material dengan harga yang tinggi atau sesuka hati. Bahkan ada pula yang menjual barang-barang yang sudah kadaluwarsa.

“Memang ada pedagang yang nakal di Agats. Harga bahan pokok, barang elektronik, industri maupun material selalu mahal, dan harga antara tempat usaha yang satu dengan yang lain selalu berbeda. Jadi mereka semau hati menentukan harga,” katanya,  Senin (28/8).

Dia menyebutkan, kesenjangan harga barang di Agats menyebabkan tingginya inflasi di kabupaten itu. Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pemda telah membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah yang melibatkan kepolisian, dan segenap organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Dinas Perindagkop.

“Sudah dibentuk tim yang diketuai Pak Sekda Bartholomeus Bokoropces. Tim ini mulai bekerja, dan kami juga terlibat. Memang harga barang di Agats sangat tinggi dan pedagang tentukan harga sesuka hati,” tuturnya.

Dalam beberapa kesempatan, kata Basir, Dinas Perindagkop telah berinisiatif melakukan operasi guna menstabilisasi harga barang. Bahkan pihaknya sudah berulang kali memberikan surat teguran kepada para pedagang yang menjual barang dengan harga yang tidak wajar.

“Kami sudah memberikan teguran keras, tapi mereka tetap ‘kepala batu’. Contoh saja, harga ban dalam sepeda motor di sini itu Rp100.000, padahal di Merauke dengan pasang hanya Rp35.000,” tuturnya.

Ke depannya, tegas dia, pedagang yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah, maka diberikan sanksi berupa pencabutan surat izin usaha perdagangan (SIUP). “Tapi itu nanti kembali lagi pada kebijakan bupati,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat Tim Pengendali Inflasi Daerah akan memanggil seluruh pedagang, agen dan penyalur untuk menyamakan persepsi terkait stabilisasi harga barang di Kabupaten Asmat.

“Setelah rapat baru tim turun untuk melakukan operasi. Kalau kedapatan ada yang jual sesuka hati, tentu aka nada sanksinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Asisten I Setda Kabupaten Asmat, Yustus Kakom mengatakan, tim pengendalian inflasi daerah terbentuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 538 tanggal 10 Mei 2017. Bupati Elisa Kambu dan Wakilnya, Thomas Eppe Safanpo sebagai pengarah tim itu.

Yustus mengungkapkan, kenaikan harga Sembako dan BBM dikeluhkan masyarakat. Pemerintah daerah tidak ‘menutup mata’ terkait persoalan tersebut.  Pemerintah akan mencari solusi untuk menekan disparitas atau kesenjangan harga, dan melakukan pengendalian.

“Ada juga laporan selisih harga di sejumlah tempat usaha dan pasar. Memang beberapa waktu lalu, Dinas Perindagkop sudah melakukan operasi pasar. Tapi harga-harga barang masih saja setinggi langit,” katanya.

Untuk menekan harga barang, pemerintah setempat akan fokus terhadap beberapa hal, di antaranya menggerakkan koperasi ASN, menjual barang kebutuhan masyarakat sesuai standarisasi harga, melakukan pertemuan dengan sejumlah pelaku pasar dan melakukan penertiban.


“Juga akan melakukan razia terhadap barang kadaluwarsa. Harga BBM eceran juga masih tinggi, untuk itu akan ditetapkan batas tertinggi harga BBM eceran,” jelasnya. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment