Biaya Rujukan Pasien Asmat Diminimalisir

Bagikan Bagikan


SAPA (ASMAT) - Kehadiran salah seorang dokter bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat sangat berkontribusi dan membantu meminimalisir biaya rujukan pasien ke luar Asmat.

Hal tersebut diungkapkan Direktur RSUD Agats, Riechard Mirino, Senin (21/8). “Kita sudah punya satu dokter specialis bedah dan kegiatan bedah sudah berjalan. Lebih dari 18 kasus yang sudah ditangani, baik usus buntu, luka benda tajam dan sebagainya,” kata Mirino.

Menurutnya, dengan adanya dokter bedah itu, biaya rujukan pasien melalui kapal atau pesawat ke rumah sakit di Timika atau Rumah Sakit Dok II di Jayapura sudah bisa diminimalisir. Biasanya, sambung dia, setiap bulan ada 16 pasien yang dirujuk ke luar Asmat.

“Dengan adanya dokter specialis bedah ini, sangat membantu, mengurangi rujukan yang biasa kita kirim ke Timika maupun Jayapura. Kami bersyukur sekali,” katanya.

Mirino mengatakan, satu dokter specialis bedah itu bisa mengembangkan dan menangani sekitar 22 jenis operasi di RSUD Agats. Hanya saja butuh alat khusus untuk optimalisasi kamar operasi di rumah sakit tersebut.

“Itu operasi mulau dari kepala sampai kaki. Operasi tulang juga bisa disini, tapi butuh alat khusus dan diharapkan menjadi perhatian pemerintah daerah. Kemarin dua minggu saja, ada 18 pasien sudah dioperasi, baik dari kandungan hingga usus buntu,” ujarnya.

Meski begitu, ungkap Mirino, rumah sakit setempat masih kekurangan beberapa dokter specialis di antaranya, okter kandungan, dokter anak, dokter penyakit dalam. “Rumah sakit kita ini membutuhkan minimal 4 dokter specialis,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Asmat Elisa Kambu mengatakan, selain kekurangan dokter specialis di RSUD Agats, pemerintah daerah juga kekurangan dokter umum untuk ditempatkan di puskesmas-puskesmas.

“Sebenarnya kita butuhkan banyak, tapi masih terbatas juga. Dokter specialis selama ini kita lakukan dengan cara kontrak kerjasama dengan beberapa daerah, seperti yang datang baru-baru ini dari Sarmi,” tuturnya.

Elisa mengaku, kehadiran dokter bedah di RSUD Agats sudah sangat membantu masyarakat (pasien). Bahkan mengurangi biaya rujukan yang selama ini dikeluarkan oleh pemerintah setempat.

“Sebelumnya dokter bedah tidak ada, jadi semua kasus yang berkaitan dengan bedah kita dorong ke Timika dan Jayapura. Biaya perjalanan untuk rujukan mahal,” ujarnya.

Kata Elisa, memang ada Kartu Papua Sehat (KPS) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Tapi itu hanya khusus pasien, sementara pengantar (keluarga pasien) dan tenaga medis yang mendampingi harus ditanggung pemerintah saat pasien tersebut dirujuk.

“Kita tak mungkin biarkan mereka pergi saja begitu, minimal ada bantuan pemerintah. Tapi sekarang kita bersyukur sudah ada dokter bedah dan dia sangat membantu,” katanya.

Terkait permintaan RSUD Agats agar ada optimalisasi kamar operasi atau bedah, Elisa menambahkan, pemerintah daerah akan menindaklanjuti hal itu.

“Nanti kita lihat dari sisi kemampuan anggaran juga. Tapi saya pikir tidak boleh ditawar-tawar lagi, itu harus dipenuhi untuk kepentingan pelayanan dasar,” tandasnya. (Nuel)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment