Disnak Perketat Pasokan Telur Ayam Ras Luar Mimika

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Mimika, akan terus memperketat peredaran telur ayam yang dipasok dari luar. Hal ini dilakukan karena, pasokan telur ayam yang didatangkan dari luar akan mengurangi semangat pengusaha lokal dan bisa saja menekan harga telur ayam lokal.

"Kita akan segera antisipasi, jangan sampai pasokan telur ayam dari luar Timika menyebabkan anjloknya harga telur di sini. Itu juga sangat mempengaruhi semangat para peternak kita," kata Yosefin saat diwawancarai di Halaman Graha Eme Neme Yauware, Jumat (11/8).

Menurut Yosefin, semangat para peternak ayam lokal akan semakin tinggi jika daya jual telur hasil usaha mereka semakin meningkat di seluruh pasaran di Mimika.

Ia mengatakan, sejak 2015 lalu peternak khusus ayam petelur di Mimika  telah mampu memproduksi telur ayam ras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi perhari melalui peternak ayam petelur yang sebagian besarnya merupakan peternak orang asli Papua.

"Peternak kita sudah mampu produksi sebanyak 8,5 ton telur ayam setiap hari. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan telur di Mimika mengingat setiap harinya konsumsi telur di Mimika hanya sebanyak 8,4 ton," katanya.

Dengan demikian Yosefin mengatakan, Mimika telah swasembada telur ayam ras. Hal ini didukung dengan kebijakan Bupati Mimika melalui surat edarannya kepada pemasok telur ayam ras di wilayah itu untuk menghentikan pasokan telur ayam dari luar Timika pada 2015 lalu.

Yosefina mengaku, kendati telah diterbitkannya regulasi tentang pemberhentian pasokan telur dari luar namun hingga kini pihaknya masih menemukan adanya telur dari luar yang beredar di wilayah itu.

Untuk itu pihaknya akan memperkuat pengawasan yang menurut Yosefin sebagai salah satu kendala yang dihadapi, termasuk sinergitas antar SKPD terkait yang mengatur tentang perizinan.  Sesuai dengan data yang dimiliki Disnak Mimika, saat ini terdapat 75 kelompok peternak ayam petelur yang ada di Timika yang total memproduksi telur sebanyak 8,5 ton per hari.

Sebagian besar dari kelompok peternak tersebut adalah masyarakat asli Papua, baik yang dibina langsung oleh Disnak maupun oleh PT Freeport Indonesia dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).

"Dari 75 ada 40 kelompok yang merupakan masyarakat asli Papua. Untuk itu masyarakat lokal harus kita dorong sehingga mereka bisa lebih berkembang lagi," ujarnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment