Dua Pemuda Papua Lulus Sekolah Pilot

Bagikan Bagikan


SAPA (JAKARTA) - Sebanyak dua pemuda asal Papua yakni Herman Zonggonau dari Suku Moni dan Amianus Wamang dari Suku Damal dinyatakan lulus dan diwisuda sekolah pilot Genesa Flight Academy Jakarta pada 21 Juli 2017.

"Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Saya berjuang mengejar mimpi dengan dukungan berbagai pihak. Saya lahir dari keluarga yang sederhana, mimpi saya ini menjadi sesuatu yang mustahil untuk tercapai. Biaya pendidikan sekolah penerbangan mencapai Rp1 miliar, belum ditambah dengan 'training-training' keahlian khusus untuk penambahan 'rating' (nilai)," kata Herman saat dihubungi di Jakarta, Jumat (4/8).

Ia mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi pilot.

Kini, dirinya bersama Amianus siap meramaikan dunia penerbangan, khususnya di Papua.

"Saya akan mengabdi di Bumi Tercinta Papua. Saya akan melayani warga Papua yang ingin menuju wilayah-wilayah di seluruh pelosok Papua," katanya.

Menurut dia, luas Papua, provinsi paling timur Indonesia, mencapai hampir 21 persen dari wilayah Indonesia.

Ditambah dengan kondisi alamnya yang unik, menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah Provinsi Papua, bermobilisasi.

"Berjalan kaki puluhan kilometer bagi masyarakat pedalaman untuk mencapai pusat kota adalah hal yang biasa," katanya.

Pengalaman tersebut yang kemudian berdampak pada mimpi sebagian anak-anak Papua menjadi pilot agar keluar dari keterpencilan, melihat dunia lain, dan mengejar ketertinggalan.

Herman menambahkan dirinya bersama Amianus masuk sekolah pilot Genesa sejak 2013, setelah dinyatakan lolos seleksi program beasiswa khusus Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang merupakan lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia bagi pengembangan masyarakat.

Sekolah Genesa berlokasi di Jakarta dengan praktik lapangan di Bandara Cilacap, Jateng.

Menurut dia, sebelum memasuki masa studi, peserta program mendapatkan bimbingan mental dan psikis dari Yayasan Bina Teruna Bumi Cendrawasih (Binterbusih), sebagai mitra Biro Pendidikan LPMAK untuk mendampingi peserta program.

Herman dan Amianus menempuh studi selama tiga tahun di Genesa.

"Beasiswa adalah kesempatan bukan hak, paradigma ini dibangun untuk mendorong mental anak-anak dari tujuh suku untuk bersaing dan meraih peluang. Ada empat komitmen pendampingan yang diterapkan yakni membangun iman yang teguh, karakter yang kuat, pengetahuan yang memadai dan 'skill' (kemampuan)," ujar Ketua Yayasan Binterbusih Paul Sudiyo.

Ia menambahkan tantangan terbesar pendampingan adalah dalam memberikan motivasi dan bimbingan, agar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab dan berkomitmen menyelesaikan studi.

Herman dan Amianus adalah dua di antara pilot Papua lain yang lahir melalui program beasiswa dana kemitraan Freeport yang dikelola LPMAK.(Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment