Frits Pelamonia, Rahasia Dibalik Kolonel Berkat Ayah dan Ibu Jual Nasi Pulut

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratif Pilihan Salam Papua Menyambut HUT RI ke 72



DEMIKIANLAH jejak-jejak perjalanan hidup yang pernah dilalui tokoh pilihan Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua yang kelima dalam rangka menyambut HUT RI ke 72. Kisah kasih masa kecil dalam pelukan sayang ayah dan ibunya. Dan bagaimana merampungkan sekolah dalam segala keterbatasan ekonomi dan meniti karir hingga menyandang pangkat kolonel. Bagi tokoh yang satu ini bukanlah sebuah kebetulan dan bukan sesuatu yang mustahil bagi keluarga yang susah meraih sukses. Bagaimana kisahnya, ikuti petikan hasil wawancara eksklusif media ini sambil berharap para pembaca terinspirasi untuk  berjuang dan percaya bahwa sesuatu yang tidak mungkin terjadi, ketika kita bisa bangun pagi membuat segalanya terjadi.

Siapa tokoh yang sesekali melontarkan kata-kata bijak ini: “Lebih baik bertempur dan kalah dari pada tidak pernah bertempur sama sekali.” Dialah Kolonel Inf. Frits Wilem Rizard Pelamonia. Frits panggilan akrab Frits Wilem Rizard Pelamonia adalah Komandan Brigade Infanteri 20/IMA Jaya Keramo, Timika. Ia dilahirkan 17 November 1971 di Kampung Haria, Maluku, Ambon manise. Anak bungsu dari tujuh bersaudara buah kasih pasangan Frederik Pelamonia dan Fransina Maria Patikawa.
“Saya bisa menikmati hidup seperti ini. Berkat kegigihan ayah yang hanya PNS golongan I di Kodim Ambon. Ibu saya berjuang menambah  pendapatan ayah menjual nasil pulut dan roti. Nasi pulut itu, nasi yang dicampur kelapa parut dan gula merah. Itu dia lakukan setiap hari. Bayangkan betapa sulit, mereka berjuang membesarkan dan menyekolahkan tujuh orang anak.Tetapi mereka tidak pernah mengeluh dan sangat percaya diri semua akan lebih baik. Jadi saya ini berasal dari keluarga yang sangat susah. Saking susahnya hidup itu, saya pernah merasakan pulang dari sekolah, ibu memberi kami makan bubur bercampur garam saja. Karena beras jatah golongan satu itu sedikit, jadi habis,” tuturnya polos sambil mempersilahkan media ini menikmati minuman yang tersedia di atas meja, sekaligus menghindari ekspresi bahasa tubuh yang tertangkap jelas media ini dalam kelopak matanya penuh linangan air mata mengenang masa kecil.

Frits mengaku keterbatasan dan kesulitan itu yang mengasah dan menempa hidup dengan rajin belajar. “Saya terpacu dari kondisi hidup orang tua dan orang tua selalu memberi spirit kepada kakak-kakak saya dan saya rajin belajar. Saya masih ingat! Kata-kata ayah dan ibu.  Ketika, kami  pulang dari sekolah. Mereka bilang begini, kalau kamu tidak mau makan nasi bubur bercampur garam saja, kamu harus rajin sekolah dan belajar. Ingat! Kamu semua harus lebih baik dari kehidupan ayah dan ibu,” tuturnya sambil menatap ke arah plafon menyembunyikan perasaan sedih mengenang masa silam.

Meski  hidup keluarga  agak sulit, Frits mengaku hidup masa kecil dalam keluarga yang bahagia bagai sebuah surga yang datang lebih awal. “Saya sungguh merasakan hal itu. Percaya atau tidak, ayah saya hanya pegawai golongan satu. Ibu seorang ibu rumah tangga. Tetapi, ia memiliki hati mulia berjuang menambah pendapatan keluarga dengan menjual roti dan nasi pulut. Hidup itu memang indah bagai terangkai dari setiap kejadian yang mengikuti alur yang kita alami, naik atau turun, susah atau senang. Yang penting, kita harus setia menjalaninya dengan apa adanya. Semuanya akan lebih baik, ketika kita berusaha. Saya lalui sejak SD, SMP dan SMA di Ambon dengan belajar tekun, puji Tuhan selalu juara. Itu yang memudahkan saya masuk Universitas Pattimura jurusan Fakultas Tehnik Perkapalan tanpa tes atau apa yang disebut diterima tanpa seleksei. Bahkan, saya memasuki semester dua mendapat beasiswa. Dan pada semester lima, saya sudah menjadi asisten dosen,” akunya bangga sambil berkata: “Itu semua berkat Tuhan dan doa ayah ibu yang selalu mengawali hari dan menutup malam dengan doa.”

Lantas bagaimana kisahnya hingga anda bisa meninggalkan kuliah, beasiswa, asisten dosen dan berbelok arah menjadi tentara hingga saat ini berpangkat kolonel dan mendapat amanah sebagai Komandan Brigade Infanteri 20/IMA Jaya Keramo, Timika? Frits mengaku ceriteranya panjang. Dia mengaku saat masa sekolah, ia mengetahui sejumlah anggota TNI yang memiliki pangkat tinggi dipercayakan menjabat bupati, walikota atau gubernur. Ia pun mulai bercita-cita menjadi anggota TNI dengan harapan suatu saat bisa dipercaya menjadi kepala daerah.

“Itu sebenarnya yang membuat saya tertarik dan bercita-cita menjadi TNI AD. Dari cita-cita itu, saya berharap di kemudian hari, saya juga bisa merasakan hal yang sama. Maka, ketika ada penerimaan 1996 untuk  Taruna umum AD, AL, AU dan Kepolisian, itu sudah mau masuk semester VI, saya meminta izin dari Fakultas dan dosen-dosen untuk mengikuti tes.  Saya bersyukur semua dosen  pada mendukung. Mereka mengizinkan dan merekomendasikan andaikata tidak lolos bisa meneruskan kembali kuliah. Orang tua juga sangat mendukung,” tuturnya bangga.

Anak bungsu dari tujuh bersaudara itu berceritera mengikuti impian sejak kecil ingin menjadi TNI AD mendaftar dengan perhitungan matang sesuai formasi. Formasi yang tersedia, katanya AD untuk Satuan Tempur (Satpur) 350, Polisi 300 dan AL, 150. “Saya memilih mendaftar AD, karena kemungkinan untuk lulus lebih terbuka, jumlahnya 350 orang. Puji Tuhan, saya ikut tes dan lulus untuk masuk Taruna Akmil di Magelang 1996 dan selesai dengan pangkat Letnan II (Letda). Saya sangat bahagia, termasuk orang tua dan keluarga besar Pelamonia dan Patikawa bangga karena cita-cita saya sejak masa kecil terjawab,” katanya.
Perjalanan Karir

Frits yang murah senyum dan mudah tertawa ini mengaku perjalanan karirnya setelah mendapat penyematan pangkat Letnan Dua, mendapat amanat tugas di Kopassus Grup II Karta Sura dari Danton hingga Danki. Kesuksesan sebagai Danton dan Danki di Grup II Karta Sura dan catatan akademik di Magelang lulus dengan nominasi lima besar, membuat ia mendapat promosi mengikuti pendidikan Slapa di Bandung. Sesudah menyelesaikan pendidikan Slapa di Bandung 2007, ia mendapat promosi jabatan sebagai Danden I Batalion 32 grup III Sandi Yudha. Lalu, 2008, Frits mengikuti pendidikan Seskoad selama 11 bulan dan mendapat promosi kenaikan pangkat Mayor. Pada posisi itu, Frits dipercayakan sebagai Pabandya Ops Operasi Kodam VI Mulawarman, Kalimantan Timur. 

Lelaki asal Ambon manise ini mengisahkan setelah mengemban amanat sebagai Pabandya Ops Operasi Kodam VI Mulawarman Kaltim. 2011, ia mengkuti uji kompetensi DanDem. Dalam uji kompetensi DanDem itu, Frits mendapat nominasi tiga besar dan menghantarnya kembali mengemban tugas sebagai Danyon Taruna Tingkat II di Akmil Magelang selama 11 bulan. Sebelas bulan menjabat Danyon Taruna Tingkat II Akmil Magelang, ia mendapat promosi jabatan pada Agustus 2012 sebagai Danyon Raider Kodam VI Mulawarman Kaltim selama dua tahun. September 2013 mengikuti uji komptensi jabatan Dandim dan hasilnya Mei 2014 menjadi Dandim di Kabupaten Tenggarong Kutai Kartanegara.  

“Saya teringat cita-cita masa kecil ingin menjadi tentara dan saya berharap masuk dalam kelompok Muspida ketika di Ambon terwujud di Kabupaten Tenggarong Kutai Kertanegara. Saya bahagia sekali. Tetapi, ditengah kebahagiaan itu, pasangan setia dalam hidup saya sejak bertemu pertama kali di Magelang waktu pendidikan Akmil hingga berlanjut ke jenjang pernikahan dipanggil Tuhan lebih dahulu,” tutur suami tercinta Almarhumah Jusie Ngili asal Pulau Rote NTT yang besar di Magelang itu tiada mampu menyembunyikan kesedihannya.

Ayah tercinta dua orang buah kasih  yang dititipkan Tuhan dalam perkawinannya dengan Jusie Ngili (almh), Veronika Pelamonia dan Josua Pelamonia ini mengisahkan setelah menjabat Dandim di Kabupaten Tenggarong Kutai Kertanegara sampai 2015, ia berpindah tugas dan mendapat promosi jabatan sebagai Asisten Operasi di Kodam XVI Patimura selama 6 bulan. Dalam posisi Asisten Operasi Kodam XVI Patimura, ia mengikuti uji kompetensi Danbrigif April 2016 dan lulus memuaskan dan mendapat promosi jabatan Kolonel.

 Pada 27 Mei 2016, Frits dilantik sebagai Komandan Brigade Infanteri 20/IMA Jaya Keramo, Timika. “Saya sangat gandrung dengan kata-kata bijak bahwa setiap orang pemenang  tak akan pernah berhenti untuk berusaha, dan orang yang berhenti berusaha takkan menjadi seorang pemenang. Kita harus memiliki mental baja Top of Formenjadi cukup kuat untuk tahu saat kita sedang lemah, dan cukup berani menghadapi diri sendiri.  Ketika kita  sedang ketakutan, bangga dan teguh dalam kekalahan yang jujur, rendah hati dan lembut dalam kemenangan,” tutur Frits.

Komandan Brigade Infanteri yang berasal dari keluarga susah namun namanya harum dijuluki Bapak Pembangunan di kalangan anggota Brigif Timika, karena kepiawaiannya berhasil membangun sarana pendidikan TK serta permainan outdor, menyediakan 9 kebutuhan pokok melalui koperasi Ima Jaya Keramo, wahana outbound, kolam renang untuk prajurit, lapangan tembak senapan ukuran 175 meter x 50 meter, lapangan apel,  sarana latihan Sircuit training dan kantor angkutan.

“Saya terharu ketika menyaksikan fasilitas pendidikan untuk anak-anak belum tersedia. Maka saya berusaha untuk membangun fasilitas pendidikan. Karena menurut saya, generasi berikut, baik anak-anak anggota maupun warga sekitar Brigif akan maju  bila tersedia fasilitas pendidikan yang memadai dan sarana pendukungnya. Saya bisa seperti ini, karena pendidikan. Kalau saya dulu tidak menikmati pendidikan yang baik tidak mungkin seperti ini,” tuturnya.  

Dia berharap dalam mengisi momentum kemerdekaan RI dan menyambut HUT RI ke 72 di Kabupaten Mimika, pemerintah daerah mesti mendorong program pendidikan hingga berhasil. Supaya ke depan kita memiliki generasi yang cerdas intelektualnya dan cerdas pula rohaninya. Untuk mewujudkan cita-cita itu, pemerintah daerah harus membangun komunikasi, koordinasi lintas sektoral dan mengelaborasi semua program untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di Kabupaten Mimika ini. Disamping itu, pemerintah daerah bersama semua stakeholders membangun naisionalisme generasi usia sekolah, pelajar dan mahasiswa.

“Saya amati nasionalisme kita masih sangat kurang. Maka momentum HUT RI ke 72 yang tinggal beberapa hari lagi kita rayakan menjadi titik start untuk bangun jiwa dan raga generasi usia sekolah, pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Mimika ini. Mulai dari kota sampai ke pelosok-pelosok pedalaman Mimika,” katanya. (Fidelis S J)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment