Inggrid , Papua Jendela Dunia

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) – Seorang tokoh pemerhati Papua asal Jakarta, Inggrid Dwiputra didampingi ketiga rekannya Charles Toto (asal Papua), Janto Wihardja dan Paulus Amijo melukiskan  Papua ibarat sepotong surga yang perlu dikemas dan diperkenalkan ke berbagai belahan dunia. Penggalan surga Papua memanggil mereka mengemas budaya Papua, alam serta kekayan alamnya  sebagai pintu dan jendela menyapa dunia.

“Ini panggilan hati yang sulit dilukiskan dengan kata-kata seiring dengan daya tarik dan megnet filosofi budaya warga setempat, sangat kaya raya. Alam dan filosofi budaya Papua ini harta karun yang masih terpendam.  Maka, saya mengajak teman-teman saya membuka hati, mata dan mendengar jeritan alam Papua memanggil. Sehingga kami berniat berbuat sesuatu untuk menggali harta karun ini untuk menyapa dunia,” tuturnya kepada media ini hingga darah mendesir mendengar pernyataannya saat bertandang ke Redaksi Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua, Jum,at (18/8) kemarin.




Menurut tokoh pemerhati Papua ini menilai Papua bukan daerah yang tertinggal atau terbelakang. Tetapi, Papua ini harta karun yang kaya raya potensi alam dan  filosofi kebudayaan, dan itu sangat besar dan luas. “Itu sentuhan pertama yang saya melihat dan merasakan kekayaan daerah ini. Dan tergambar jelas ketika saya menuruni tangga pesawat dan menginjakan kaki pertama, di Papua. Saya melihat sekolompok anak-anak sedang bermain.  Dari jendela hati sekelompok anak-anak itu terlihat sangat lincah dan pintar-pintar. Jendela hati itu tidak bisa menipu,” katanya.

Dia menjelaskan berawal dari pandangan pertama ini tergugah untuk melakukan sesuatu di Papua. Dan seiring jalannya waktu, tokoh pemerhati yang bak seniwati itu mengaku semakin terpukau dan terpesona dengan daya tarik alam, filosofi budaya dan kekayaan alam Papua.  “Puji Tuhan! Saya berjumpa dengan beberapa teman Papua, seperti Charles Toto, Denny Jigibalom dan Joe Manurung. Mereka menyajikan berbagai referensi harta karun Papua. Dari situ saya merasa terpanggil oleh alam dan budaya Papua dengan mengajak rekan-rekan saya ke sini. Saya merasa memiliki chemistry yang sama dengan teman-teman ini untuk Papua menyapa dunia,” tuturnya sangat filosofistik.

Seiring pernyataan Inggrid yang diamini ketiga rekannya, memang untuk meneropong potensi dan kekayaan filosofi budaya Papua tidak pernah akan habis dibahas sejalan dengan keunikan alam, budaya dan manusianya. Dari data yang dikemas media ini, Edo Kondologit menyebut Papua itu bagai surga kecil jatuh kebumi. Mantan Gubernur Papua yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Peru, Bas Suebu melukiskan keyayaan alam Papua “bagai raksasa yang sedang tidur.”  Tim Alenia Pictures yang dilakoni Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen  berbagi dan menyajikan film dokumenter tentang Papua, "Alenia's Journey Uncover Papua". Dua sejoli ini pula melukiskan tentang Papua melalui media film yang disutradarai Ari Sihasale yang berdarah Papua, bertutur tentang anak-anak Papua, "Denias, Senandung di Atas Awan" (2006) dan "Di Timur Matahari" (2012). Sehingga, jangan heran bila Inggrid kepincut pula denga daya tarik Papua dengan memeteraikan Papua sebagai “Sepotong Surga dan jendela dunia.”

Sementara, Charles Toto mengingatkan memori kita dan menambah referensi bagi siapa saja yang berminat mengemas Papua dari kacamata, talenta yang dimiliki masing-masing, entah dari sudut kekayaan alamnya, eksotik flora dan fauna, wisata alam, wisata budaya atau sesuai selera masing-masing semua tersaji di Papua. “Saya merasa ini panggilan hati dan jiwa. Saya berharap semua anak-anak bangsa yang memiliki seberkas sinar cahaya hatinya bisa melakukan dan saling berbagi menjadikan Papua jendela dunia,” kata Charles yang terekam media ini tidak sabar menunggu alam dan budayanya Papua menjadi jendela dunia. (Fidel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment