Kemerdekaan Sudah Dirasakan Kesejahteraan Masih Dijajah

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) – Salah satu tokoh masyarakat Amungme, Nerius Katagame mengatakan meski Indonesia telah merdeka selama 72 tahun, namun banyak masyarakat asli Suku Amungme dan Kamoro yang belum merasakan kehidupan yang layak.

Nerius yang ditemui Senin (14/8) mengakui semenjak Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan bangsa asing hingga berdirinya Kabupaten Mimika, banyak perkembangan yang didapat masyarakat Amungme dan Kamoro. Namun kesejahteraan belum dirasakan karena Pemerintahan Kabupaten Mimika tidak melaksanakan pembangunan sesuai kebutuhan rakyat melainkan apa yang sesuai keinginan dari pemerintah.

Nerius menjelaskan, sejauh ini dirinya melihat sudah ada sinkronisasi antara masyarakat dan pemerintah, namun sering terhambat dengan adanya kepentingan-kepentingan baik politik, hukum dan sebagainya sehingga menghambat pembangunan.

“Sinkronisasi antara pemerintah dan masyarakat itu sudah berjalan bertahap tetapi di dalam perjalanan sering terhambat dengan kepentingan politik dan itu hal menghambat proses pembangunan,” lanjutnya.

Nerius menegaskan, dirinya tidak bisa menyalahkan Pemkab Mimika yang belum berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat Amungme dan Kamoro.

“Karena tanggung jawab Pemkab Mimika tidak hanya untuk dua suku besar yang mendiami Mimika. Pemkab Mimika juga harus mengurusi seluruh masyarakat Nusantara yang berdomisili di Mimika. Tanggung jawab terhadap dua suku ini juga dari PT Freeport Indonesia dan LPMAK,” kata Nerius.
Politisi Partai Gerindra Kabupaten Mimika Markus Timang mengungkapkan, masyarakat Mimika telah merasakan kemerdekaan dari belenggu penjajahan, akan tetapi masih tetap dijajah oleh pihak penguasa. Dalam hal ini pemerintah yang  kurang berpihak kepada rakyat.

“Memang kita sudah menikmati kemerdekaan tetapi kita belum menikmati kesejahteraan,” tuturnya.
Politisi Partai Gerindra yang juga tokoh masyarakat Kamoro Muh Nurman Sugianto Karupukaro mengakui Indonesia telah bebas dari belenggu penjajahan. Dirinya sangat berterima kasih kepada pada pendahulu di bidang pendidikan yang rela menembus hutan belantara bahkan langgar lautan untuk mengajarkan kepada masyarakat Amungme dan Kamoro apa itu pendidikan. Sehingga hal tersebut yang terus diwariskan kepada generasike generasi hingga saat ini.

“Jadi 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia, masyarakat Amungme dan Kamoro belum merasakan hal positif dari hasil pembangunan. Tapi kami sangat berterima kasih kepada pendahulu pendahulu khususnya guru-guru yang rata-rata semua pejuang yang datang kesini untuk mengajarkan kepada orang-orang tua kami dan orantua mengajarkan kepada kami,” kata Nurman saat ditemui wartawan di kantor DPRD Mimika jalan Cenderawasih, Senin (14/8).

Nurman menjelaskan, apa yang telah dibuat oleh pendahulu pendidikan untuk masyarakat Amungme dan Kamoro tidak pernah didukung oleh pemerintah. Bahkan pemerintah menyengsarakan guru yang menyandang gelar pahlawan tanda jasa tersebut.

“Sampai saat ini kita masih lihat sikap pemerintah yang tidak pernah berpihak kepada guru-guru. Karena itu skalau melihat dari sisi pendidikan, kami masyarakat Amungme dan Kamoro sampai saat ini belum merdeka. Banyak orang yang mengabdi sebagai guru tetapi tidak dihargai dengan mengangkat mereka sebagai PNS. Ini suatu bentuk penjajahan,” katanya.

Menjelang perayaan HUT RI ke 72. dirinya meminta Bupati Mimika mengeluarkan sebuah kebijakan untuk merubah sistem pendidikan di Mimika yang hancur sehingga masyarakat Amungme Kamoro  bisa mengenyam pendidikan yang layak.


“Perlu kebijakan dari Bupati Mimika untuk masyarakat Amungme dan Kamoro berkaitan dengan pendidikan gratis dan sebagainya serta pelayanan publik lainnya,” katanya. (Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment